Pendidikan

Mendikbud : Sistem Pendidikan Sekolah Abaikan Pendidikan Karakter

Mendikbud Muhadjir Effendy

SLEMAN, EDUNEWS.ID – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, sistem pendidikan di sekolah banyak yang mengabaikan pendidikan karakter. Sekolah, katanya, hanya menekankan baca, tulis dan berhitung (calistung).

Akibatnya, para orangtua malu jika anak-anaknya tidak mendapatkan nilai 10 untuk pelajaran matematika. Hanya sedikit orangtua yang bangga jika anaknya pandai menari atau menyanyi.

Calistung masih ditekankan dalam sekolah. Padahal ada tiga aspek lain yang perlu ditekankan, meliputi pendidikan etika, estetika dan kinestika,” kata Muhadjir saat membuka Festival Seni Internasional (FSI) 2016 di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Seni dan Budaya (P4TKSB) Jogja, kemarin (21/11/2016).

Dia memaparkan, penanaman etika kepada siswa penting untuk membangun tata nilai, sopan santun dan adat istiadat bagi mereka. Sementara estetika menanamkan kepada siswa terkait olah rasa seperti seni, budaya dan keindahan. Adapun kinestika, kata Muhadjir, lebih menonjolkan kegiatan olah raga atau fisik.

“Jadi tidak hanya menekankan siswa olah pikir (calistung), tetapi juga memadukan antara etika, estetika dan kinestetik,” ujarnya.

Jika hal itu dilaksanakan maka implementasi pendidikan karakter di sekolah-sekolah akan terwujud. Kemendikbud, lanjut Muhadjir, akan mengubah paradigma pendidikan yang awalnya hanya menekankan pada calistung dengan memasukkan ketiga unsur (etika, estetika dan kinestika). Tujuannya agar pendidikan di Indonesia dapat berlangsung seimbang.

“Disini peranan guru-guru seni sangat dibutuhkan untuk membangun pendidikan yang berimbang. Untuk melahirkan generasi baru yang jauh lebih hebat,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Pusat P4TKSB Salamun menjelaskan, FSI digelar untuk menjembatani kreasi-kreasi guru-guru seni dan budaya. Menurutnya, kreasi-kreasi yang dilakukan oleh guru diharapkan melahirkan pemahaman baru terkait bahasa estetika dalam konteks pendidikan.

“Guru seni terus berproses untuk melahirkan karya dan komunikasi antar karya. Dengan begitu, masing-masing dapat saling menghargai dan saling mempelajari,” kata Salamun.

Menurut Salamun, seni merupakan kreativitas dari keterampilan dan imajinasi manusia. Perwujudan seni dimanifestasikan dalam berbagai bentuk seperti seni rupa, seni kriya, seni pertunjukan, dan bentuk-bantuk lainnya. Guru seni, katanya, harus meningkatkan kompetensinya agar mampu mencipta dan menghargai karya seni yang unggul.

Ketua Umum Panitia FSI 2016 Sigit Purnomo menjelaskan, kegiatan FSI dimulai sejak 2006 lalu. Tahun ini, FSI menampilkan seni-seni yang mencerminkan karakter budaya bangsa dan memiliki nilai-nilai imajinatif futuristik.

“Seni yang ditampilkan juga mengkombinasikan antara budaya dan ilmu pengetahuan serta teknologi terkini,” paparnya.

To Top