Pendidikan

Pendidikan ‘Kelas Perahu’ untuk Anak Pulau di Pangkep

PANGKEP, EDUNEWS.ID – Pemberitaan yang tak sedap pada dunia pendidikan Indonesia, seperti infrastruktur, kualitas pendidikan, sampai pada kekerasan di dunia pendidikan itu sendiri hampir setiap hari bisa dijumpai pada media sosial, media cetak maupun media televisi.

Namun beda halnya dengan antropologi pendidikan yang ada di wilayah pesisir kepulauan. Seperti halnya di pulau Salemo, Kecamatan Tumpa’biring Utara, Kabupaten Pangkaje’ne dan kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan.

Meski minat begitu besar dalam mengenyam pendidikan, anak sekolah di daerah pesisir yang mayoritas nelayan ini, kerap kali terhalang mendapatkan pendidikan formal lantaran canggung untuk bergabung dengan teman sekelas dibangku sekolah dasar maupun menengah.

Hal ini, dikarenakan kebanyakan masyarakat di pulau pulau yang bermata pencaharian sebagai nelayan mengajak anaknya untuk terlibat mencari ikan dilaut selama berminggu hingga berbulan bulan.

Olehnya itu, banyak diantaranya yang putus sekolah lantaran canggung dan merasa tidak dapat beradaptasi untuk kembali bergabung bersama teman sekolah sebelumnya.

Penggiat pendidikan dan pemerintah setempat, sepertinya sadar akan fenomena ini. Untuk mentaktisi hal demikian, lahirlah pendidikan alternatif,  Kelas Perahu.

Pencanangan kelas perahu di pulau salemo, menjadi alternatif pendidikan untuk anak usia dini yang enggan melanjutkan sekolah lantaran canggung untuk bergabung dengan teman sejawatnya dikelas formal setelah melaut bersama orang tuanya dalam menafkahi kelaurga.

Kehadiran kelas perahu yang dicanangkan oleh pemerintah daerah setempat dengan kerjasama lembaga administrasi negara diharapkan mampu menjadi solusi untuk mengatasi minimnya partisipasi anak anak pulau dalam melanjutkan pendidikan.

Kepala Dinas Pendidikan Pangkep, HM Ridwan mengatakan, meski baru kali pertama inovasi pendidikan untuk kelas perahu diselenggarakan di Kabupaten Pangkep, hal tersebut diharapkan mampu menjadi alternatif bagi anak-anak pulau yang sering melaut bersama orang tuanya. Tentunya para siswa akan tetap belajar dan mendapat bimbingan oleh guru, hanya saja tempat yang berbeda dengan kelas formal.

“Merupakan kebutuhan yang mendesak adanya kelas perahu ini, mengingat banyak anak-anak yang jadi korban karena mencari ikan di laut, setelah pulan anak anak enggan kembali kesekolah. Adanya kelas perahu ini, anak-anak akan dibekali modul dan buku pelajaran. Anak-anak dapat melakukan dengan belajar mandiri dan setelah pulang, mereka tidak lagi canggung untuk melakukan penyesuaian,” ungkapnya.

Ridwan melanjutkan, dalam kelas perahu ini, tentunya tidak hanya belajar tentang ilmu perbintangan dan menangkap ikan yang merupakan tradisi leluhur, akan tetapi anak anak pulau diharapkan mampu bersaing dalam ilmu modern sehingga saat kembali ke kelas formal anak anak pulau tidak canggung lagi dalam melanjutkan pendidikan.

“Anak-anak putus sekolah dapat melanjutkan pendidikan untuk belajar dari orang tua, sambil belajar membaca dan menulis sembari anak-anak bisa meneruskan tradisi leluhur dan pendidikan modern,” paparnya.

Pencangan kelas perahu untuk masyarakat pesisir di daerah kepulauan ini, diresmikan pada tanggal 8 November 2016. Peresmian ini ditandai dengan adanya penandatangan baligho oleh pemerintah setempat, konjen australian dan partisipasi lembaga administrasi negara, serta pembagian buku-buku untuk anak sekolah.

[Andis Amir]

To Top