SEKOLAH

SMA Pasundan 1 Siap Selenggarakan UNBK

BANDUNG, EDUNEWS.ID – SMA Pasundan 1 siap menyelenggarakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk UNBK telah disiapkan. Bahkan, sekolah lain juga menyatakan keinginan untuk bergabung dalam pelaksanaan UNBK.

Kepala SMA Pasundan 1 Sobandi menyebutkan pihaknya mengikuti arahan dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat yang mengharapkan sekitar 80 persen sekolah di Jawa Barat yang menjadi penyelenggara UNBK. Sobandi menyebutkan sejak arahan itu, pihaknya mempersiapkan kebutuhan UNBK.

“Kami sudah menyiapkan segalanya untuk kebutuhan UNBK ini,” katanya ditemui di sela-sela try out di Jalan Balonggede, Kamis (26/1/2017).

Ia menyebutkan pihaknya menyediakan 150 komputer yang diletakkan di 4 laboratorium. Nantinya 150 komputer itu akan digunakan oleh 360 siswa yang mengikuti UNBK. Banyaknya komputer yang tersedia, lanjut Sobandi, menjadi dasar SMA Pasundan 1 menjadi sekolah penyelenggara yang mandiri.

Komputer tersebut merupakan pengadaan dari pihak sekolah. Sebagian juga merupakan bantuan dari orang tua siswa. Diakui Sobandi, pengadaan komputer tidak dibantu oleh Pemerintah.

Sobandi mengatakan pihaknya tetap mengikuti aturan Pemerintah dengan menyelenggarakan UNBK selama tiga sesi. Dengan jumlah komputer yang ada, pihaknya bisa saja menyelenggarakan untuk dua sesi.

Kendati demikian, SMA Pasundan 1 tidak menutup kemungkinan memberikan ruang bagi sekolah lain untuk mengikuti try out di sekolahnya. Try out akan dilakukan tiga kali hingga jelang UNBK.

“Try out ini akan diselenggarakan selama 4 hari,” katanya.

Sobandi mengatakan saat ini sudah ada beberapa sekolah baik SMA maupun SMP yang menyatakan minat bergabung untuk UNBK di SMA Pasundan 1. Pada dasarnya, sekolah tidak keberatan. Karena bantuan tersebut akan mendukung lebih banyaknya sekolah yang jadi penyelenggara UNBK.

Sebagai persiapan untuk UNBK, di SMA Pasundan 1, model pembelajaran pun sudah beralih dari kertas ke digital. Sobandi mengakui proses peralihan ini cukup sulit mengingat lamanya model pembelajaran dengan kertas.

Demikian juga dengan guru-guru yang juga sudah memanfaatkan media digital untuk pengajaran. Sobandi mengatakan baru 80 persen guru yang memanfaatkan media digital. Untuk itu pelatihan untuk guru semakin sering dilakukan.

 

 

Sumber : Pikiran Rakyat

To Top