ABDULLAH HEHAMAHUA

Metode Pengukuran Integritas

Oleh: Dr. H. Abdullah Hehamahua,S.H., M.M.*

INTEGRITAS, EDUNEWS.ID – Setiap Ramadhan, di Madinah, Malaikat Jibril menemui Nabi Muhammad, men-dengar bacaan (hafalan) al-Qur’an-nya. Tetapi, pada Ramadhan tahun kesepuluh, Malaikat Jibril menemui Nabi Muhammad sebanyak tiga kali, mendengar hafalan al-Qur’annya. Artinya, dalam bulan ramadhan pada tahun meninggalnya Nabi Mu-hammad, baginda tiga kali menghafaz al-Qur-an. Hal itu dilakukan Jibril – tentu atas perintah Allah swt – untuk memastikan, Nabi Muhammad menghafaz seluruh isi al-Qur’an (30 juz) dengan benar. Inilah yang sekarang dikenal dengan ulangan umum atau ujian akhir sebelum seseorang dinyatakan naik kelas atau lulus SD, SMP, SMU, dan universitas. Lalu, bagaimana cara mengukur seseorang berintegritas atau tidak?

Menurut Professor Muluk, pengukuran integritas dapat dilakukan dengan meng-gunakan beberapa metode: (a) Pengembangan skala (paper & pencil test). (b) In Basket, yaitu assesment center method. (c) Wawancara. (d) Track record tracing, dan (e) Kombinasi.

Tidak jauh berbeda dengan Muluk, menurut pakar lain, ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengukur integritas seseorang, bergantung atas jenis pegawai atau pimpinan yang akan diperlukan, yakni:

Metode Referensi
Metode ini merupakan salah satu cara yang cukup komprehensif untuk mengukur integritas seseorang. Sebab, sebelum seleksi, dilakukan checking ter-lebih dahulu. Metode ini sangat perlu dilakukan terhadap calon yang akan men-duduki posisi strategis dalam organisasi dengan cara dilakukan cross check terhadap track record di tempat bekerja sebelumnya. Track record yang dilihat tentunya sederhana, apakah yang bersangkutan pernah melanggar peraturan apa pun dalam perusahaan tersebut. Metode ini tepat untuk melihat integritas kandidat di high/strategic level. Sebab, dalam proses cross checking, pertanyaan dapat dilakukan secara mendetail. Namun, metode ini kurang cocok digunakan untuk seleksi massal karena akan melibatkan tenaga dan waktu yang tidak sedikit.

Metode referensi ini biasa digunakan di KPK, baik dalam proses seleksi pegawai maupun Komisioner KPK. Pansel Pimpinan KPK meminta informasi dari Polri, Kejaksaan Agung, BIN, dan PPATK tentang track record seorang calon. Setelah melewati tahap ini barulah seorang calon mengikuti wawancara langsung dengan anggota Pansel.

Selanjutnya, Pansel mengajukan 10 calon ke DPR untuk kemudian ditetapkan 5 pimpinan KPK. Persoalannya, mengapa Mabes Polri me-netapkan dua orang Pimpinan KPK sebagai tersangka di mana perbuatan yang disangkakan tersebut terjadi sebelum mereka menjadi Pimpinan KPK? Bukankah Pansel atau Komisi 3 DPR tidak memilih calon yang bermasalah, berdasarkan laporan Polri, Kejaksaan Agung, BIN, atau PPATK? Lucu, Mabes Polri menetapkan status tersangka terhadap dua pimpinan KPK.

Bagaimana pula dengan pegawai KPK yang lolos seleksi super ketat, tapi kemudian melakukan pelanggaran? Apakah itu berarti, dia tidak berintegritas? Ada dua sebab. Pertama, semua tools yang ada di dunia yang digunakan dalam proses psycho-test hanya mampu mengditeksi 70 persen kepribadian seseorang. Kedua, kondisi di mana seseorang bekerja yang jika tidak kondusif, 30 persen kepribadian seseorang yang tidak terdeteksi dalam psycho-test, muncul. Akibatnya, terjadi penyimpangan.

Inilah yang terjadi di KPK belakangan ini, apalagi di lembaga Negara dan Kementerian lain. Hal ini sesuai dengan informasi dari “langit” bahwa dalam diri seorang manusia ada potensi malaikat (30 persen) dan potensi iblis (30 persen) (QS Al-Bayyinah: 8). Berarti, 40 persen kepribadian seseorang bergantung atas lingkungan kerja atau tempat tinggal. Hal ini dijelaskan Nabi Muhammad bahwa: Setiap anak Adam lahir dalam keadaan fitrah kemudian kedua orang tuanya yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau Majuzi.

Metode 360 Derajat
Metode ini digunakan dengan cara mendapat informasi atau penilaian dari atasan, bawahan, dan rekan kerja atau kawan sepermainan dari seorang calon.

Metode Assessment Centre
Metode ini merupakan cara terbaik karena memiliki banyak alat untuk mengukur integritas seseorang. Bahkan, melalui metode ini, seseorang dinilai oleh lebih dari satu assessor. Apalagi, dalam assessment center ada proses integrasi data yang memungkinkan semua data yang telah terkumpul dari setiap assessor didiskusikan dalam upaya memeroleh penilaian akhir terhadap seseorang.

Metode Wawancara
Metode ini lumrah digunakan dalam hampir semua proses penilaian seseorang, termasuk mengetahui integritas seseorang. Metode wawancara kurang optimal hasilnya jika interviewer tidak memiliki informasi optimal tentang orang yang diwawancarai. Melalui metode ini, interviewer dapat mengetahui integritas sese-orang dengan membaca ”bahasa tubuh” orang yang diwawancarai.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan, metode pengukuran integritas yang efektif dan efisien, baik yang menggunakan assessment centre maupun tidak, adalah: (a) tes tertulis, baik yang berkaitan dengan kejiwaan, pisik, pengetahuan, kemampuan, keterampilan, maupun integritas seseorang. (b) wawancara di mana dengan memerhatikan substansi jawaban, cara menyampaikan jawaban, dan bahasa tubuh, dapat diketahui kualitas pengetahuan, kompetensi, keterampilan, dan integritas seseorang. (c) referensi, yaitu pendapat atau penilaian orang lain terhadap seseorang baik mereka adalah kawan sepermainan, teman sekolah/kuliah, mantan atasan/bawahan/rekan kerja, maupun atasan/bawahan/kawan di kantor yang sekarang.

Last but not least, cara pengukuran integritas yang valid adalah yang diajarkan Nabi Muhammad, yakni: (a) perhatikan shalat subuh dan shalat isya’-nya, apakah rutin dilakukan atau tidak. Jika tidak dilakukan secara rutin, dia tergolong munafik; (b) perhatikan, apakah shalatnya dilakukan berjamaah atau sendirian; (c) apakah shalat subuh dan isya’ dilaksanakan di masjid/mushalla atau di rumah.

Bagi mereka yang mau mengukur diri sendiri atau orang lain, apakah ber-integritas atau tidak, mulailah besok, datang ke masjid/mushalla terdekat untuk shalat berjamaah. Tapi, jangan lupa untuk senantiasa senyum, di hati!

Dr. H. Abdullah Hehamahua, S.H., M.M. Penasehat KPK Periode 2005-2013.

To Top