Opini

Kontroversial Amerika vs Indonesia

Oleh : Bustamin*

OPINI, EDUNEWS.ID – Kontroversial serta fenomena di akhir tahun 2016 merangsang munculnya pengamat-pengamat premature dari berbagai kalangan baik dari akademisi, politisi, peneliti, dan bahkan masyarakat biasa. Terbukti perbincangan dimulai dari sudut warung kopi ke pojok Istana Presiden (Indonesia) dan terlebih lagi ditengah Gedung Putih saat ini (Amerika Serikat). Seperti kata pepatah “bagaikan jamur di musim hujan“. Tulisan ini sebagai refleksi analisis singkat berbagai fenomena dan kontroversial di luar dugaan sebagian besar masyarakat dunia, yang kemudian mengisyaratkan ketidak mungkinan menjadi suatu kenyataan.

Ketika pada tanggal 20 Juli 2016 seorang miliader dan tokoh kontroversial Amerika Serikat memenangkan konvensi Partai Republik dengan meraup suara 1.725 lebih tinggi dari pesaing terberatnya, Ted Cruz, yang hanya mendapatkan 457 delegasi suara. (lihat http://www.bbc.com) yakni Donald Trump. Disusul dengan Konvensi Nasional Partai Demokrat dengan memberikan tiket kepada mantan Ibu Negara, Srikandi partai penguasa Amerika saat ini yakni Hillary Clinton setelah maraup suara 2.382 delegasi. Sebagian besar pengamat memprediksi bahwa duet maut antara Trump dan Clinton akan memberikan peluang yang lebih besar kepada Mantan Menteri Luar Negeri America Serikat itu.

Pada masa kampaye Donald Trump terkesan rasis yang berujung kecaman dibelbagai pihak. Misalnya ketika Trump membuat pernyataan diselah-selah kampayenya; “Begitu banyak Muslim seluruh dunia membenci Amerika Serikat sehingga penting bagi negeri itu untuk melarang mereka (umat muslim) masuk ke Amerika” lebih lanjut pernyataan Trump di stasiun televisi MSNBC menyatakan bahwa “Kita harus mengawasi dan meneliti masjid-masjid, karena banyak pembicaraan terjadi di tempat-tempat itu” kemudian tambah ada penghinaan yang ditujukan kepada imigran asal Meksiko, dan juga dalam suatu wawancara pernah mengusir wartawan asal Meksiko, serta pernyataan-pernyataan kontoversial lainnya (Lihat https://ngonoo.com).

Sehingga mata tertuju kepada Trump atas sikap rasisnya dan membuat pesaingnya Clinton sebagai calon ideal dapat merangkul semua golongan seperti halnya sikap pendahulunya Barack Obama. Diperkuat ketika debat calon presiden dilaksanakan di New York performance Clinton menggunguli Trump. Berlanjut dengan debat kedua, prediksi semakin berpihak kepada Sang Srikandi menuju Gedung Putih. Akan tetapi pada hari ini (kemarin-red) 9 November 2016, pukul 3.00 waktu Timur AS, Donald Trump telah memberikan kejutan kepada dunia terlebih AS sebagai Negara adi kuasa dan khususnya masyarakat AS, dengan perolehan 270 suara elektoral, dari 538 elektor di electoral college, cukup untuk mengantarkan dirinya terpilih sebagai presiden Amerika Serikat. It is Amazing (Lihat, https://id.wikipedia.org).

Selamat kita ucapkan kepada masyarakat Amerika Serikat atas terpilihnya Donald Trump sebagai the next American Precidential. Namun hal yang menarik menurut saya ketika membaca analisa Evi Fitriani Kepala Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia (Lihat, detik.com) menyatakan bahwa ada 2 (dua) skenario yang akan terjadi pasca Trump terpilih. Pertama, jika Trump benar-benar memegang teguh ucapannya saat kampanye Pilpres AS seperti anti-Islam, rasis, membangun tembok dengan Meksiko dengan membebankan biayanya pada Meksiko, mencegah imigran dan sebagainya, maka Indonesia mungkin akan sulit berhubungan dengan AS. Ditambah lagi Indonesia telah dicap sebagai Negara sumber teroris.

Skenario kedua kata Evi, Trump berbicara agak keras dalam masa kampanye adalah suatu strategi memperkanalkan dirinya. Akan tetapi ketika scenario pertama yang benar-benar diterapkan maka Amerika akan lebih para dari zaman pendahulunya George W Bush. Fenomena dan kontroversial yang terjadi di negeri ini tidaklah kalah menarik dari kejadian di AS. Ketika Jakarta akan melakukan kontestasi politik yaitu pemilihan kepada daerah, kejutan pertama dilakukan oleh mantan Presiden Indonesia Susilo Bambang Yodhoyono (SBY) melalui Partai Demokrat berserta koleganya, dengan mencalonkan putra sulungnya Agus Harimurti Yodhoyono dengan rela melapas Korp militer dengan segudang prestasinya. hingga berujung berbagai tanggapan miring pun di alamatkan kekeluarga cikeas.

Kontroversial kedua terjadi ketika Gubernur Basuki Tjaha Purnama (Ahok), dalam suatu pidato disela-sela kunjungan politiknya, mengatakan bahwa “Umat Islam jagan mau dibohongi pakai surat Al-Maidah 51“. Pernyataan ini mengundang kecaman yang luar biasa dari umat Islam di Indonesia. Terlebih ketika Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwah bahwa Ahok telah menistakan Al-qur’an. Tapi fatwa MUI ini pun dianggap terlalu premature sebagian ulama-ulama. Sehingga pro dan kontra pun terjadi.

Kasus Ahok menjadi perhatian seluruh masyarakat Indonesia dan pihak Istana, Sang Presiden Jokowi sibuk melakukan konsolidasi dimulai dari elit partai oposisi sampai 2 (dua) organisasi terbesar Islam di Indonesia yakni Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah di undang langsung ke Istana. Tanggal 4 November 2016 kemaren sebagai puncak kecaman kepada penista agama (bagi yang menyakini) yang di pimpin oleh Habib Rizieq Ketua Front Pembela Islam (FPI) beserta seluruh organisasi-orgasasi Islam lainnya termasuklah Organiasi kemahasiswaan, Himpunan Mahasiwa Islam (HMI) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) ikut andil dalam aksi damai tersebut.

Akan tetapi peserta aksi damai sangat kecewa dengan sikap presiden yang lebih memilih meninjau proyek jalan Tol dari pada menemui para rakyatnya yang datang dari seluruh penjuru negeri. Hingga detik-detik terakhir aksi damai pun diwarnai adanya anarkisme hingga kelompok HMI pun menjadi sasaran petugas, sampai penjemputan paksa pun dilakukan kepada sejumlah kader-kader HMI. Apakah alumni dan kader-kader HMI akan diam saja? lantas isu santer berkembang Habiez Rizieq Cs akan menggelar aksi yang lebih besar lagi tanggal 25 November? satu kata saya yang mau saya katakan dalam menutup tulisan ini NKRI harga Mati!
Bustamin, Mahasiswa Magister Administrasi Publik Universitas Brawijaya Malang

To Top