Opini

Siapakah yang Pantas Memimpin KNPI Takalar?

Muhammad Yusran (Founder Rumah Baca Pesisir)

Oleh: Muhammad Yusran*

OPINI, EDUNEWS.ID – Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), tahukah kita tentang organisasi ini? Masih pentingkah kehadiran KNPI? Mari kita sedikit flashback tentang gerakan pemuda di Kabupaten Takalar beberapa tahun yang lalu.

Gerakan Muda Bajeng (GMB) yang diprakarsai oleh Ranggong Daeng Romo menjadi bukti sejarah tentang eksistensi gerakan pemuda di Kabupaten Takalar.

Perlawanan tanpa henti terhadap Belanda terus dilakukan. Kemudian GMB bertransformasi menjadi Laskar Lipang Bajeng untuk lebih memasifkan gerakan. Tercatat kurang lebih 57.329 anggota yang tersebar di wilayah Gowa, Jeneponto, Takalar, dan Kota Makassar dengan pusat markasnya di Polongbangkeng (sindonews.com).

Pada tanggal 17 Juli 1946, semua laskar di Sulawesi Selatan bersatu dalam panji Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS). Ranggong Daeng Romo menjadi panglima perang memimpin pasukan LAPRIS menyerang pertahanan Belanda. Hingga akhirnya Ranggong Daeng Romo syahid di medan juang.

Ranggong Daeng Romo telah mewariskan semangat kepahlawanan kepada generasi penerus.

Komparasi KNPI dan Gerakan Muda Bajeng

Dewan Pimpinan Daerah (DPD) KNPI Kabupaten Takalar menjadi representasi dari GMB di era sekarang sebagai muara gerakan kepemudaan di Kabupaten Takalar.

Namun sangat memprihatinkan karena muara gerakan ini telah teralienasi dari struktur sosial dimana hendaknya dia berpijak.

Sangat miris jika organisasi sekelas KNPI hanya riuh ramai saat perebutan kekuasaan tetapi nihil kontribusi. Ini sangat kontradiktif dengan dinamika GMB yang selalu istiqomah bergerak berkontribusi.

Tentunya kita tidak meragukan lagi bahwa mereka yang mengajukan diri sebagai kandidat calon ketua umum pastilah orang-orang yang berintegritas, memiliki kapasitas intelektual dan kepekaan sosial yang tinggi. Sebab itulah standar minimal seorang pemimpin apalagi pemimpin KNPI Takalar. Juga harus mengikuti keteladanan Ranggong Daeng Romo dalam memimpin gerakan.

Jika tidak memenuhi standar minimal maka sebaiknya tahu diri dan tidak terlalu bernafsu untuk menjadi Ketua Umum KNPI Takalar.

Parameter Memilih Pemimpin

Setidaknya ada beberapa parameter yang harus kita pertimbangkan untuk memilih pemimpin KNPI Takalar periode selanjutnya.

Pertama, memiliki siri’ na pacce. Sebuah kesyukuran kerena kita dilahirkan dalam rumpun yang sangat kaya dengan falsafah hidup. Inilah yang menjadi modal besar bagi pemuda Takalar untuk berkontribusi lebih.

Nilai siri’ yang kita pahami sebagai rasa malu yang menurut hemat penulis bukan hanya sebatas rasa malu kepada sesama tetapi menjadi lambang hubungan vertikal kita dengan Sang Pencipta.

Kita akan merasa malu kepada Tuhan ketika melakukan tindakan biadab seperti berselingkuh dengan penguasa. Ataupun hanya menyandang gelar ketua KNPI setelah itu menghilang dari dinamika pergerakan pemuda di Takalar.

Selanjutnya, nilai pacce yang bermakna kepedulan sosial sebagai lambang hubungan horizontal kepada sesama ciptaan.

Pacce (kepedulian sosial) Inilah yang memprovokasi Ranggong Daeng Romo untuk terus bergerak karena melihat rakyat menderita.

Ketika ada problematika sosial di Takalar yang belum terselesaikan maka kita harus mengatakan “inilah ruang kontribusiku”. Bukan sebatas merumuskan program seremonial untuk kebutuhan publikasi. Bukan juga sekadar mengadakan pelatihan, webinar, dan diskusi tanpa substansi yang tidak memberikan dampak berarti bagi masyarakat.

Seharusnya pemimpin gerakan kepemudaan di Takalar terkhusus pemimpin KNPI berkenan mencontoh efektivitas gerakan Ranggong Daeng Romo yang memberikan dampak signifikan bagi masyarakat. Jalaluddin Rahmat menyebutnya sebagai strategi perubahan dalam melakukan gerakan.

Kedua, pemimpin periode selanjutnya harus berani memutus tradisi jahil KNPI. Berselingkuh dengan penguasa dengan dalih kolaborasi, sikap sebagai entitas elite yang membuat KNPI asing bagi generasi muda, dan menjadikan organisasi sebagai arena pertarungan yang tidak sehat sehingga melahirkan pemimpin-pemimpin instan yang tidak sering terlibat dalam dinamika gerakan kepemudaan di Takalar. Inilah yang disebut Jusman Dalle sebagai dosa-dosa KNPI (detik.com).

Mungkin saja ketika Ranggong Daeng Romo masih hidup dia akan menangis melihat mirisnya dinamika gerakan pemuda Takalar. Idealisme perjuangan hanya menjadi jargon, siri’ na pacce sebatas slogan, dan keteladanan gerakan hanya memenuhi rilis berita.

Fenomena ini menjadi bukti identifikasi Ibnu Khaldun terhadap determinasi sosial bahwa semakin tereliminasinya nilai dan karakter konstruktif pemuda.

Ketiga, loyal terhadap gerakan. Fenomena patalogis yang menjangkiti tubuh KNPI Takalar adalah pemimpinnya terlalu serakah dengan jabatan.

Padahal KNPI bukan lagi wadah experiment leadership. Sehingga pemimpinnya berani merangkap lebih dari satu jabatan inti pada beberapa lembaga. Sebab menurut hemat penulis, menjadi pemimpin dalam dua atau lebih lembaga secara bersamaan adalah konfirmasi ketidakmaksimalan menjalankan amanah.

Sepertinya kita perlu menelaah dan mengambil hikmah dari gagasan Jean Paul Sartre tentang kebebasan yang diiringi tanggung jawab. Sehingga pemimpin KNPI Takalar lebih fokus untuk memaksimalkan amanahnya.

Keempat, memiliki semangat kepahlawanan profetik. Mereka merasa ada panggilan nurani untuk bergerak dan berkontribusi. Sehingga orientasi gerakannya bukan sebatas glorifikasi pribadi untuk membangun citra personal. Tetapi sebagaimana gerakan para Nabi yang membuatnya melebur dalam perjuangan.

Semangat kepahlawanan profetik inilah yang terinternalisasi dalam diri Ranggong Daeng Romo. Albert Einsten menyebutnya sebagai perasaan religius kosmik. Berawal ketika menempuh pendidikan pesantren di Cikoang hingga memimpin gerakan perubahan melawan penjajah.

Tentu orientasi perjuangannya bukan hanya untuk kepenting personal yang mengincar jabatan tertentu. Tetapi berangkat dari keikhlasan untuk memperjuangkan kepentingan rakyat.

Kelima, pemersatu gerakan. Takalar tidak kekurangan pemuda hebat, hanya saja belum mau melakukan rekonsiliasi.

Soe Hok Gie dalam Catatan Demonstran-nya juga menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi minim persatuan seperti ini. Muh Iqbal dalam syairnya mengibaratkan kita sebagai daun-daun yang berhamburan. Maka sosok pemersatu gerakan sangat dibutuhkan. Sebagaimana para pendahulu mengamalkan ajaran abbulo sibatang.

Jika Ranggong Daeng Romo, Makkatang Daeng Sibali, Syamsudding Daeng Ngerang serta ribuan pemuda Takalar pada masanya mau melebur ego dan bersatu untuk memaksimalkan gerakan, maka bagaimana dengan pemuda Takalar sekarang? Jangan sampai kita terlalu disibukkan dengan isu dualisme ataupun perpecahan lainnya, sehingga tidak punya waktu untuk bergerak berkontribusi untuk Takalar.

Keenam, memiliki kesadaran sejarah. Calon pemimpin terkhusus KNPI, seyogianya memiliki pemahaman mendalam tentang napas perjuangan para pendahulu seperti Ranggong Daeng Romo, Padjonga Daeng Ngalle, Daeng Kontu serta martir juang yang lain.

Bukan sebatas memahami tetapi harus menginternalisasi spirit tersebut dan menyesuaikan dengan zaman. Sebab mereka mengajarkan kita untuk bersungguh-sungguh dalam setiap medan juang.

Muhasabah Gerakan

Jika kita menelaah sejarah perjalanan organisasi kepemudaan di Takalar, maka mereka hadir sebagai antitesa dari problematika yang melanda masyarakat.

Inilah yang harus menjadi spirit pergerakan bagi organisasi kepemudaan sekarang, terkhusus KNPI untuk memaksimalkan kontribusi. Sehingga gerakan pemuda sebagai harapan solutif mampu memberikan dampak yang berarti.

Dari beberapa kegiatan yang dlakukan DPD KNPI Kab. Takalar periode 2019-2021 patut diapresiasi. Sekaligus menjadi bahan refleksi bahwa organisasi sebesar KNPI harusnya mampu melakukan kontribusi lebih untuk Takalar. KNPI juga harus segera insaf dari dosa-dosa kelembagaan yang dibuat.

Selanjutnya, melakukan taubatan nasuha agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Semangat kepahlawanan profetik Ranggong Daeng Romo harus terinternalisasi dalam diri pemuda Takalar. Saatnya berbenah dan membuktikan bahwa KNPI bukanlah organisasi kepemudaan yang mandul ide, miskin gagasan dan loyo gerakan.

Inilah wujud taubatan nasuha atas segala dosa-dosa kelembagaan yang pernah dilakukan KNPI. Sehingga tidak ada lagi pertanyaan masih pentingkah kehadiran KNPI? Selamat berdinamika kawan-kawan.

 

*Penulis adalah Founder Rumah Baca Pesisir

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com