Oleh : Andi Fauzan Mattalitti*
EDUNEWS.ID – Ada yang lebih berbahaya dari musuh.
Namanya kepercayaan yang salah alamat. Tumenggung Endranata tahu itu. Dan pelajaran itu, tampaknya, belum selesai diajarkan oleh zaman.
Konferensi pers Bareskrim Polri dan Kemenko Kumham Imipas tadi malam rasanya seperti menonton adegan film Sultan Agung. Alih-alih kejayaan, justru petaka yang digapai Mataram
karena tangan kanannya sendiri, Tumenggung Endranata, berkhianat membocorkan rahasia
kerajaan kepada VOC.
Bedanya, kalau dulu yang dibocorkan adalah rahasia perang. Sekarang, yang disadap adalah suara pemimpinnya, oleh orang yang bekerja di dalam istana itu sendiri.
Endranata bukan orang sembarangan. Ia adalah punggawa yang ikut membangun kejayaan Mataram, yang berdiri di samping Sultan Agung saat menaklukkan kadipaten demi kadipaten, yang namanya disebut dengan hormat di lingkaran dalam istana.
Yang membuat pengkhianatannya lebih menyayat adalah ini, kepercayaan yang diberikan Sultan Agung kepadanya bukan warisan lama. Itu adalah kepercayaan baru, kesempatan kedua, yang ia balas dengan membuka benteng dari pintu belakang.
Tapi di balik semua itu, ia memilih VOC.
Bukan karena dipaksa. Bukan karena tidak punya pilihan. Melainkan karena sesuatu yang jauh lebih tua dari Mataram dan jauh lebih tua dari VOC itu sendiri, ambisi yang tidak mengenal batas, yang memandang kepercayaan orang lain bukan sebagai kehormatan, melainkan sebagai celah.
Mataram hampir menguasai Batavia. Tapi prajurit kelaparan di medan perang karena
lumbung pangan bocor ke tangan musuh. Kemenangan yang tinggal selangkah, sirna karena tangan yang seharusnya menjaga justru membuka pintu dari dalam.
Sejarah mencatatnya.
Dan sejarah tidak berbaik hati. Endranata dihukum mati, jasadnya dipotong tiga, dan makamnya diletakkan di bawah anak tangga menuju makam Sultan Agung, sengaja agar selamanya terinjak kaki peziarah.
Dalam filosofi Jawa, itu bukan sekadar hukuman. Itu pesan moral yang dipahatkan ke dalam tanah, bahwa pengkhianatan tidak hanya menghancurkan yang dikhianati, ia menghancurkan pengkhianat itu sendiri, sampai sesudah matinya.
Bergeser jauh ke selatan, di kaki Bantimurung yang kini menjadi taman kupu-kupu, ada parikadong
yang hidup dari mulut ke mulut di tanah Maros.
Kisah Toakala, raja kera putih yang mencintai I Bissu Daeng, putri Kerajaan Pattiro.
Cintanya tidak mudah. Lamarannya pernah ditolak. Harga dirinya pernah diinjak. Tapi Toakala tidak menyerah, ia datang dengan cara baik-baik, dengan hormat, dengan seluruh rakyatnya sebagai saksi kesungguhan.
Dan restu akhirnya diberikan.
Toakala datang ke Pattiro membawa seluruh rombongannya. Kenduri sudah disiapkan. Ruangan besar sudah dibuka. Mereka makan, mereka percaya, mereka menurunkan penjagaan karena mereka pikir perang sudah selesai.
Lalu api menyala dari luar.
Pasukan Pattiro membakar ruangan itu dari luar. Seluruh rakyat Toakala terpanggang di dalam. Yang tersisa hanya Toakala sendiri, selamat karena kesaktiannya, tapi hancur karena
sesuatu yang tidak bisa dipulihkan oleh kesaktian apapun.
Kepercayaan yang dikhianati di momen paling rentan.
Raja Pattiro dan Endranata mungkin hidup di zaman yang berbeda, di tanah yang berjauhan, dalam kisah yang tidak saling mengenal. Tapi mereka berbagi satu watak yang sama.
Bahwa pengkhianatan paling dalam tidak datang dari musuh yang menyerang dari depan. Ia datang dari dalam ruangan yang sama, dari meja makan yang sama, dari tangan yang tadi membuka pintu.
Hari ini, saat mengecek grup WhatsApp PP IKA UNHAS, salah satu kakanda mengirimkan pappaseng yang teduh nan dalam dari Puang Jenderal M. Jusuf. Kira-kira begini bunyinya.
_Cedde’ genne to, Maega Cappu to. Sappeangngi maegae narekko risesena angkai makkasolang. Alai cedde’e narekko risesena angkai mappideceng_
Sedikit cukup juga, banyak habis juga. Singkirkan yang banyak jika padanya dapat mendatangkan kerusakan. Ambil yang sedikit jika padanya dapat mendatangkan kebaikan.
Endranata mengira ia sedang meraih yang banyak.
Ia tidak sadar bahwa ia sedang menukar seluruh yang ia miliki, nama, pangkat, kehormatan, warisan pengabdian bertahun-tahun, dengan sesuatu yang pada akhirnya tidak bisa
digenggam.
Yang banyak itu ternyata tidak sebanding dengan yang ia korbankan.
Saya penasaran bagaimana ujung dari lakon ini.
Tumenggung Endranata dipotong tiga dan diinjak selamanya di tangga Imogiri. Raja Pattiro dikenang sejarah sebagai pengecut yang membakar tamunya sendiri di kenduri yang ia
siapkan.
Lalu mereka yang hari ini telah resmi ditetapkan sebagai tersangka itu, layak mendapatkan apa?
Sejarah, seperti biasa, sudah punya jawabannya. Kita tinggal menunggu zaman menuliskannya.
*) Penulis merupakan Mahasiswa Magister Program Studi Damai dan Resolusi Konflik, Universitas Pertahanan Republik Indonesia. Inisiator Korps Muda Benteng Kedaulatan (KOMBATAN), dan Pegiat di Kampus Gagasan.

