Mauliah Mulkin

Permintaan Maaf yang Terpaksa

HORISON, EDUNEWS.ID – Dunia anak-anak adalah miniatur orang dewasa. Mereka bergaul, berteman, bermain, dan berperilaku seperti halnya orang dewasa. Bedanya bagi anak-anak semua itu hanya permainan pura-pura. Namun mereka begitu menghayatinya seolah apa yang mereka perankan adalah nyata dan sungguh-sungguh.

Mereka bermain rumah-rumahan, main masak-masakan, main anak-anakan. Yang laki-laki pura-pura berangkat ke kantor, yang perempuan tinggal di rumah menyiapkan makan, menata perabotan agar rapi dan indah dipandang mata. Pola relasinya masih kental dengan stereotip suami bekerja dan isteri mengurus rumah. Kurang lebih seperti itulah gambaran beberapa tahun lalu kala anak-anak kami kecil. Sekarang saya sudah jarang memperhatikan dengan detail jenis permainan pura-pura anak zaman digital kini. Namun apa pun jenis permainanannya, dalam relasi antara anak yang satu dengan lainnya berpotensi terjadi konflik kecil-kecilan.

Kadang kala di tengah keasyikan bermainnya timbul cekcok perkara sepele di mata orang dewasa. Berebut peran siapa yang akan jadi ibu atau siapa yang akan jadi anak. Di antara keduanya tidak ada yang mau mengalah. Akhirnya permainan menjadi hambar dan tidak asyik lagi untuk dilanjutkan. Lalu setiap anak pun mengambil kembali benda-benda miliknya pertanda permainan berakhir. Ada kalanya orang dewasa berusaha turut campur mendamaikan keduanya. Salah seorang anak diminta untuk mengulurkan tangan tanda permintaan maaf pada yang lain. Sebaliknya, teman di pihak lain pun diminta untuk juga mau membalas uluran tangan tersebut sebagai tanda maafnya diterima.

Menyuruh anak meminta maaf atau di sisi lain memaafkan temannya adalah tindakan yang lazim kita jumpai di tengah pergaulan anak-anak usia PAUD-SD awal. Perilaku mereka umumnya masih dikontrol ketat oleh orangtua yang bersangkutan. Apalagi jika dalam keluarga tersebut sangat menekankan pentingnya bertata krama yang baik, berperilaku sopan dalam pergaulan, dan lain-lain etiket pergaulan. Prinsipnya, perilaku anak adalah cerminan akhlak orangtuanya. Saya pribadi salut pada keluarga-keluarga yang seperti ini. Saya pun dulunya pernah berada pada situasi begini, memegang dan menerapkan standar perilaku yang “baik” menurut buku-buku yang saya baca.

Akan tetapi lambat-laun karena mengikuti perkembangan bacaan juga proses berpikir sendiri diserta eksperimen jika memungkinkan, akhirnya saya menyimpulkan bahwa memang baik meminta anak meminta maaf ketika insiden pertengkaran baru saja terjadi. Namun masih kurang tepat. Karena pada saat itu kondisi jiwa dan hati anak belum siap untuk secara drastis mengubah perasaannya dari marah, kecewa, kesal, sakit hati, ke perasaan yang sebaliknya, damai, gembira, suka cita, dan memaafkan. Mari kita ukur diri sendiri. Apakah kita akan semudah itu pula membalik perasaan kita saat kondisi emosi lagi negatif? Tentu sebuh perjuangan yang sulit. Bahkan bisa makan waktu berhari-hari, berbulan, atau bertahun.

Saya bukannya tidak setuju anak-anak diajari perilaku-perilaku baik, bahkan lebih dari itu saya mau mengajarkannya. Hanya saja saya ingin mengajak orang dewasa lainnya untuk mencoba berempati pada perasaan anak-anak. Bahwa mereka juga berhak punya perasaan marah, kesal, kecewa, sakit hati, dan lain sebagainya. Mereka juga butuh waktu untuk menetralisir perasaan tersebut. Jika tidak cukup waktu dan ruang untuk mengijinkan perasaan negatif mereka hinggap justru dikhawatirkan perasaan tersebut akan mengganggu emosi-emosinya yang lain.

Selama ini kita sangat menekankan pentingnya tampilan luar alias casing anak. Bernafsu ingin mengubah perilakunya dalam waktu singkat. Mengapa? Karena tampilan luar itu terukur, bisa dilihat oleh siapa saja. Definisi anak baik di mata kita adalah anak-anak yang tidak banyak merepotkan, tidak menyusahkan, penurut, gampang diatur, mudah diperintah melakukan ini itu. Tapi jangan keburu senang dulu jika anak-anak kita “berwajah manis” seperti gambaran di atas. Karena kita tidak tahu apa yang berkecamuk di balik tampilan-tampilan tersebut. Adakah ia menikmati relasinya dengan orangtuanya, adakah ia bahagia dengan banyaknya atribut yang melekat pada dirinya, sebagai anak baik, anak berprestasi, anak patuh, dan sebagainya.

Makanya tidak heran jika bertahun kemudian setelah seorang anak bertumbuh menjadi remaja dan dewasa banyak masalah yang tak terpikirkan sebelumnya muncul ke permukaan. Orangtua kaget, guru heran, siapa pun tidak menyangka jika anak yang dulunya patuh, menyenangkan, berprestasi sekarang menjelma menjadi sosok yang sangat berbeda. Karena banyak sumbatan-sumbatan emosi di dalam dirinya yang tidak mendapatkan penyaluran yang cukup pada ketika kecil dulu. Orangtua tidak banyak memahami sisi terdalam dalam dirinya. Mereka hanya diminta perperilaku seperti yang diinginkan, tetapi tidak cukup mendapat bimbingan, arahan, dan dukungan komunikasi yang membangun dari orang-orang dewasa di sekitarnya.

Orangtua, guru, dan siapa pun mereka yang mau sungguh-sungguh dan serius membesarkan anak berkualitas mulai sekarang, perlu kiranya banyak membenahi pola-pola interaksi yang selama ini kita bangun dan menjadi keyakinan banyak orang bahwa itulah yang terbaik. Kita masih harus terus belajar, mencari, bereksperimen, menggali semua potensi kemanusiaan setiap anak agar di masa dewasanya kelak ia benar-benar dapat menerima dan menikmati hidupnya yang bahagia. Bukan pada sisi materialnya melainkan pada sisi spiritualnya.

Mauliah Mulkin, Ibu Rumah Tangga. Bergiat di Kelas Literasi Paradigma Institute.

To Top