Mohd Sabri

Membaca Realitas Langit

TAFAKUR, EDUNEWS.ID – Seorang gila berteriak, sembari menangis: “Dimanakah Tuhan?”. “Mari, aku beri tahu, kita telah membunuhnya–kamu dan aku. Kita semua adalah pembunuhnya.” Percakapan dalam The Gay Science karya Friedrich Nietzsche ini, adalah pekikan terakhir sebuah sekuel panjang dalam drama kultural-intelektual tentang Tuhan. Sebilah jejak pikiran dalam tradisi filsafat Barat yang mewartakan “kematian” Tuhan. Sejak itu–yang diandaikan sebagai asal “modernitas”–tradisi filsafat Barat telah memenggal leher keruhaniannya sendiri.

Modernitas, sebab itu, mengandaikan kehidupan spasio-temporal yang anti-misteri, anti-ontologis, dan anti-magis lalu mengibarkan logiko-positivistik yang “sekularistis” dalam merespons setiap detak napas kehidupan. Ukuran kebenaran ‘otentik’ dalam pendakuan filsafat Barat, sejauh “realitas” dapat diverifikasi secara empirik-rasional–selebihnya: nonsense. Di titik inilah, diskursus realitas metafisika-transendental sebagai jejak “langit” dan juga perihal Tuhan, tertampik dalam altar pemikiran modernitas.

Sementara agama, yang ikhwalnya bermula dari yang numinous, Yang Maha Senyap dan Yang Tak Tercakapkan, mengandaikan Tuhan sebagai The Origin, Yang Asali dan Alpha-Omega atau Awal-Akhir seluruh realitas. Dia adalah Yang Maha Unik, mysterium tremendum fascinans: yang menghadirkan rasa getir-takut (horor) dan sengatan-rindu (amor) yang bertaut. Tuhan meletakkannya di dalam ruas batin terdalam setiap diri, “sesuatu” yang–dalam pendakuan genius terbesar Philosophia Perennis, Frithjof Schuon dalam The Transcendent Unity of Religions–“identik dengan kenyataan Ilahi”.

Dari titik-terdalam kesadaran itu, pada ladang makrifah yang berpendar, kita bisa menangkap pesan agung dua peristiwa kudus: “Kenaikan Yesus Kristus” dan “Mikraj Nabi Muhammad s.a.w” umpamanya, yang masing-masing diperingati secara hidmat dalam sebuah napas-batin terdalam oleh Umat Kristiani dan Umat Islam sebagai peristiwa “Langit”: Sebilah perjalanan kudus melalui “tangga-tangga transendensi milik Allah” (Qs. 70:3). Pada “tangga-tangga transendensi” ini pula malaikat dan Jibril menghadap Tuhannya (Qs.70:4).

Dalam spiritualisme Islam, Yesus Kristus dan Muhammad s.a.w. adalah sosok pilihan Tuhan: yang pertama adalah Logos sementara yang terakhir adalah Tajallî al-Ilâhi al-kâmilah. “Mikraj” dan “Kenaikan,” dalam ungkapan seorang penyair, “bukan semata perjalanan naik ke langit, tapi juga peristiwa kembali ke bumi.” Seorang sufi dari Ganggoh pernah berkata, “Muhammad telah naik ke langit tertinggi, lalu kembali lagi. Demi Allah, aku bersumpah, bahwa seandainya aku yang mencapai tempat itu, aku tak akan kembali lagi.”

Di sini akar perbedaan Nabi dan mistikus, amat benderang. Dalam pendakuan Iqbal yang eksotik: “Nabi kembali ke bumi untuk menyisipkan dirinya ke kancah zaman, dan bukannya pertopang pada ketentraman langit!”

Mohd. Sabri Ar. Pengajar pada Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.

To Top