MAKASSAR, EDUNEWS.ID – Melalui Forum Dialog Kebangsaan yang diinisiasi oleh BEM UNISMUH Makassar, pimpinan BEM se-Kota Makassar menegaskan jika mahasiswa tidak akan menjadi pion bagi kepentingan oligarki atau alat bagi pihak-pihak yang ingin memecah belah bangsa.
Kegiatan yang mengusung tema “Akselerasi Kesejahteraan Masyarakat: Peran Mahasiswa Dalam Memutus Rantai Kesenjangan Menuju Indonesia Emas” ini dihelat di Kopi Teko, Makassar, Selasa (16/6/2026).
Menolak Ditunggangi
Presiden Mahasiswa UNISMUH Makassar, Andi Rama Ramadhan, memberikan catatan keras terkait tren isu “Reformasi Jilid II” yang belakangan mulai digaungkan oleh berbagai pihak. Menurutnya, gerakan mahasiswa harus memiliki marwah.
“Dalam menyikapi situasi kebangsaan belakangan ini, gerakan mahasiswa harus tetap mengedepankan independensi. Gerakan kita harus matang berbasis data, serta tidak boleh ditunggangi oleh kepentingan politik praktis maupun elit oligarki, apalagi dengan tren isu Reformasi Berjilid,” tegas Andi Rama di hadapan puluhan aktivis kampus yang hadir.
Senada dengan Andi Rama, forum ini pun menyoroti kondisi ekonomi nasional yang tengah diuji, mulai dari fluktuasi nilai tukar Rupiah, efektivitas program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Para mahasiswa secara lugas mendesak pemerintah untuk tampil lebih berani dan tidak kalah oleh para mafia yang bermain di sektor ekonomi dan migas.
“Kami berharap dan menegaskan agar negara tidak boleh kalah oleh mafia. Perkuat pemberantasan korupsi, bongkar mafia migas, serta perkuat tata kelola dan pengawasan terhadap pelaksanaan program-program yang bertujuan menyejahterakan rakyat demi terwujudnya Indonesia Emas 2045,” tambah Andi Rama.
Tolak Provokasi Asing
Dialog ini juga menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi dan para mantan Presiden Mahasiswa (Demisioner), di antaranya Ahmad Aidil Fahri (Presma UIN Alauddin 2020), Muh. Hasby Assidiq (Presma UNISMUH 2024-2025), Hasrul (Presma UNM 2024-2025), serta akademisi Dr. Kurniawan, S.H., M.H.
Ahmad Aidil Fahri secara spesifik mengingatkan rekan-rekan mahasiswa untuk tidak terjebak dalam arus provokasi yang sengaja diciptakan untuk menciptakan instabilitas di saat Indonesia tengah berupaya bangkit.
“Kita harus bersama-sama menjaga kondusivitas situasi dan mendorong pemerintah agar tidak kalah dengan pihak asing maupun pihak-pihak yang ingin memecah belah bangsa. Negara kita bukan negara yang bisa didikte, negara kita kuat. Mari kita dukung penguatan tata kelola pelaksanaan program-program pemerintah. Tidak semua hal harus kita tolak,” ujar Ahmad Aidil.
Kolaborasi BEM se-Makassar
Pertemuan ini dihadiri oleh pimpinan BEM lintas kampus di Makassar diantaranya, Andi Rama Ramadhan (Presiden Mahasiswa UNISMUH Makassar), Nur Intan Maharani Illyas (Presiden Mahasiswa UNM), Muh. Zain Aditya (Presiden Mahasiswa STIEM Bongaya), Sekjend (DEMA UIN Alauddin Makassar), Muh. Farhan Parsia (Presma Poltekkes)
Forum ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Makassar tidak sekadar “berteriak” di jalanan, melainkan mampu merumuskan analisis tajam atas situasi nasional, tetap optimistis dengan ekonomi bangsa, sekaligus menjadi benteng terdepan dalam melawan upaya-upaya yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa. (*)
