Ekonomi

Dampak Bunga Acuan BI Tak Optimal

 

 

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Bank Indonesia (BI) ke depannya diharapkan lebih proaktif dalam memutuskan kenaikan suku bunga acuan, BI-7 Day Reverse Repo Rate. BI semestinya tidak menunggu Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed menaikkan bunga acuan (Federal Fund Rate) terlebih dahulu.

Sebab, jika BI terlambat menaikkan bunga maka dampak yang diharapkan dari kenaikan bunga acuan, terutama pada kurs rupiah, tidak terjadi secara optimal. Sebagai negara yang lebih berisiko dibandingkan AS, BI semestinya mendahului kebijakan Bank Sentral AS dalam menaikkan bunga acuan.

Ekonom Indef, Bhima Yudhistira, menilai pemerintah dan BI memang terlambat mengantisipasi perubahan global, terutama kebijakan AS di bawah Presiden Donald Trump. Kebijakan moneter AS kini cenderung ketat dengan kenaikan bunga acuan yang cukup agresif. Sedangkan dalam bidang perdagangan cenderung proteksionis.

“Kebijakan pre-emptive (mendahului kenaikan bunga AS) semestinya dimulai tahun 2017 di saat proyeksi dan pembacaan situasi global sedang bagus,” ujar dia, di Jakarta, Jumat (29/6/2018).

Akan tetapi, lanjut Bhima, Indonesia terlalu lengah dengan perubahan global terutama AS. Sekarang kenaikan bunga acuan justru menjadi simalakama. “Kalo tidak naik rupiah lesu, naik efeknya pertumbuhan ekonomi bisa turun dan memukul industri,” papar dia.

Di sektor riil, reformasi struktural berjalan lambat, industrinya keburu lesu dan ekspor masih barang primer. “Sementara kondisi global berubah drastis,” imbuh Bhima. BI dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG), kemarin, memutuskan kenaikan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen.

Pada Mei lalu, bank sentral dua kali menaikkan bunga acuan masing-masing 25 bps menjadi 4,75 persen. Dengan demikian, dalam dua bulan terakhir BI telah menaikkan bunga sebesar satu persen.

Sementara itu, nilai tukar rupiah pada Jumat ditutup menguat dan mengakhiri pelemahan tiga hari berturut-turut, setelah BI menaikkan suku bunga acuan. Mata uang RI itu, diakhiri 64 poin lebih tinggi (0,44 persen) menjadi 14.330 rupiah per dollar AS.

Pada perdagangan Kamis (28/6/2018), kurs rupiah merosot 215 poin (1,52 persen) menjadi 14.394 rupiah per dollar AS. Ini merupakan level terlemah sejak Oktober 2015. Pengamat ekonomi dari Universitas Surabaya, Wibisono Hardjopranoto, mendukung langkah BI kembali menaikkan bunga acuan. Namun ke depan, dia mengingatkan agar BI tidak terlambat menaikkan bunga.

“Timing sangat menentukan efektivitas kenaikan bunga. Jangan tunggu The Fed menaikkan, baru kita ikut. BI mesti mendahului. Kenaikan sekarang ini bisa dikatakan sudah terlambat,” ungkap dia.

Menurut Bhima, kenaikan bunga acuan BI memang sempat memperbaiki posisi rupiah, namun kondisi ini tidak akan berlangsung lama. Sebab, fungsi bunga acuan bersifat temporer dan masih kalah dengan sentimen faktor global.

“Meskipun kenaikan 50 bps di atas ekspektasi pelaku pasar, belum mampu menguatkan kurs rupiah sesuai target. Ini terlihat dari rupiah yg masih di level 14.330 rupiah pada penutupan hari Jumat,” papar dia.

Bhima mengatakan kondisi ini juga menjadi peringatan bahwa bunga acuan tidak bisa dijadikan solusi tunggal penguatan kurs rupiah. Harus ada kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang terukur dan tepat sasaran.

Cenderung Ketat

Keputusan BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps menjadi 5,25 persen terutama untuk memancing arus modal asing di sektor keuangan atau hot money. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa dengan kenaikan ini membuat kebijakan moneter BI cenderung ketat.

BI sudah meninggalkan sikap kebijakan moneter netral. “Dari sisi kebijakan moneter, kita beralih dari netral ke cenderung ketat. Bahkan, sedikit di atas cenderung ketat,” ujar Perry, usai RDG, Jumat.

Perry kembali menegaskan bahwa kebijakan ini dilakukan dengan prinsip preemptive, front loading, dan ahead the curve. Namun, dalam rapat kali ini, BI menambahkan kata-kata baru yaitu menjaga daya saing pasar keuangan Indonesia.

To Top