Ekonomi

Pelemahan Rupiah Bakal Berlanjut

SUMBER : BANK INDONESIA

 

 

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan bakal berlanjut selama tidak ada sentimen positif yang mampu mengimbangi sentimen negatif dari rencana kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS), Fed Fund Rate, pada Maret ini.

Pada perdagangan antarbank Rabu (28/2/2018) sore, mata uang RI itu melemah 66 poin (0,48 persen) menjadi 13.745 rupiah dibandingkan posisi sebelumnya di 13.679 rupiah per dollar AS. Pada periode sama, kurs tengah Bank Indonesia (BI) mencatat rupiah terkisis 57 poin (0,41 persen) ke posisi 13.707 dari posisi 13.650 rupiah per dollar AS.

Ini merupakan level terendah rupiah sepanjang 2018 dan telah terpangkas 3,14 persen dari level terkuat selama tahun ini di posisi 13.290 rupiah per dollar AS pada 25 Januari lalu. Sepanjang tahun ini (year-to-date/ytd) kurs rupiah menyusut 1,17 persen.

Peneliti Indef, Bhima Yudhistira, mengatakan tren penguatan dollar AS belakangan ini dipicu oleh pernyataan Gubernur Bank Sentral AS (The Fed), Jerome H Powell, mengenai kemungkinan kenaikan Fed Fund Rate lebih cepat dari perkiraan yaitu sebanyak tiga kali tahun ini.

“Ini seiring dengan perbaikan ekonomi di AS dampak dari pemangkasan pajak dan kenaikan belanja pemerintah. Jadi, Fed Rate itu bisa tiga naik kali, dimulai pada Maret,” kata Bhima, Rabu (28/2/2018).

Menurut dia, kondisi tersebut bakal memicu pelarian modal atau capital outflow. Pelaku pasar akan berpindah dari negara berkembang, termasuk Indonesia, mencari imbal hasil yang lebih tinggi dan aman.

Sebab, ketika Powell mengatakan keyakinannya soal inflasi AS yang bakal ditekan hingga 2 persen serta kenaikan bunga acuan The Fed, pada saat yang sama imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun langsung naik menjadi 2,9 hingga 3 persen.

Bahkan, selama 2018 sudah terjadi capital outflow di pasar modal Indonesia hingga 8,1 triliun rupiah. Selain itu, asing juga mencatatkan penjualan bersih, baik di surat utang maupun saham. “Nah, inilah yang menekan semuanya, sehingga rupiah otomatis tertekan,” kata Bhima.

Dia memprediksi nilai tukar rupiah bisa tembus level 14.000 rupiah per dollar AS dalam waktu dekat. Mengenai dampak pelemahan rupiah, ekonom Universitas Atmajaya Yogya, Aloysius Gunadi Darma,

mengemukakan depresiasi rupiah itu akan semakin menekan APBN karena berpotensi meningkatkan defisit anggaran hingga batas yang ditentukan UU Keuangan Negara yakni sebesr 3 persen dari produk domestik bruto (PDB).

“Beban utang luar negeri pemerintah tahun ini yang sangat besar ditambah kebutuhan dana untuk mendanai proyek infrastruktur membuat ruang fiskal makin ketat,” papar dia.

Oleh karena itu, Gunadi berharap pemerintah benar-benar mencermati kebijakan proteksionisme Presiden AS, Donald Trump, dan bagaimana hal itu akan direspons oleh negara mitra dagang terbesar Indonesia, seperti Tiongkok.

Selain itu juga gejolak harga batu bara dan minyak global. “Karena kalau perdagangan internasional ada masalah, ketidakpastian akan makin tinggi dan bisnis, apalagi infrastruktur akan makin berat untuk diselesaikan,” jelas dia.

Andalkan Devisa

Terkait intervensi BI, Bhima menilai meskipun bank sentral ada di pasar untuk stabilisasi rupiah, tetapi kemampuannya terbatas karena BI hanya mengandalkan cadangan devisa.

“Meskipun cadangan devisa diklaim cukup mampu menopang kekuatan nilai tukar rupiah, tetapi dipastikan akan terkuras cukup besar,” ujar dia.

Bahkan, ungkap Bhima, ketika Fed Fund Rate naik pada akhir tahun lalu, cadangan devisa sempat terkuras empat miliar dollar AS untuk intervensi pasar selama November.

“Itu habis selama satu bulan hanya untuk menstabilkan rupiah sebelum bunga The Fed naik pada bulan Desember. Jadi, kalau nanti The Fed menaikkan suku bunga lagi, bisa terkuras banyak cadangan devisa kita,” kata dia.

Pada saat itulah, lanjut Bhima, BI bakal terdesak dan melakukan pengetatan moneter. Selain mengikuti langkah The Fed, kenaikan bunga acuan BI juga bertujuan mencegah capital outflow yang lebih besar lagi.

“Jadi kelihatannya BI akan menaikkan suku bunga acuan 25–50 basis poin. Jadi ada 75 basis poin sepanjang 2018 nanti” kata dia. Cadangan devisa Indonesia pada Februari 2018 diperkirakan kembali memecahkan rekor.

Tambahan utang green bond Sukuk Wakalah senilai tiga miliar dollar AS bakal memperbesar cadangan devisa yang pada Januari lalu mencapai 131,9 miliar dollar AS.

To Top