Ekonomi

Rupiah Melemah, Pemerintah Jangan Selalu Salahkan Eksternal

 
 
JAKARTA, EDUNEWS.ID – Anggota Komisi XI DPR-RI, Ecky Awal Mucharam mengingatkan pemerintah dan BI agar siaga dengan perkembangan nilai tukar Rupiah saat ini. Rupiah serang sudah hampir menembus Rp14.000 per dollar.
Ia meminta pemerintah dan BI tidak hanya menyalahkan kondisi eksternal saat pelemahan rupiah kini. “Yang seharusnya fokus pemerintah dan BI bekerja memperkuat fundamen ekonomi, untuk mengembalikan kepercayaan stakeholder terhadap perekonomian kita, kata Ecky, Rabu (25/4/2018).
Kalau hanya mencari alasan dari kondisi global, khususnya kebijakan moneter AS tentu berpengaruh. Tetapi perlu diingat, bahwa menurunnya kepercayaan stake holder, pasar, investor dan publik pada Pemerintah menjadi penyebab.
Menurut Ecky adanya outflow dana juga terjadi karena ada ketidakpercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Misalkan risiko utang yang terus meningkat, serta pengelolaan fiskal yang tidak kredibel, yang tercermin dari shortfall pajak yang terus terjadi selama pemerintahan Jokowi.
Ecky menilai pemerintah gagal mengoptimalkan investment grade yang diraih tahun 2017. Utang yang ditarik nyatanya tidak menggerakan ekonomi, yang terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang medioker di antara negara-negara emerging market.
Pemerintah juga tidak berhasil memacu pertumbuhan sebagaimana yang dijanjikan saat kampanye dan diawal pemerintahan yaitu 7 persen pertahun. Kondisi ini diperparah banyaknya proyek yang bersifat turn key project.
Ia mengingatkan melemahnya nilai tukar kurs ini patut diwaspadai, karena akan berdampak meningkatkan beban pembayaran utang Pemerintah maupun swasta yang berdominasi dollar. “Saat ini untuk utang Pemerintah saja, ada sekitar USD 109 Miliar yang memakai valas. Hal tersebut tentu akan membebani APBN,” ujarnya.
Pemerintah berulangkali meminta agar publik tak perlu khawatir dengan pelemahan rupiah saat ini mengingat kondisi fundamental ekonomi yang cukup bagus. Menko Perekonomian Darmin Nasution menilai rupiah seharusnya berada pada kisaran Rp 13.500- Rp 13.600 sesuai dengan fundamental ekonomi. Sementara Bank Indonesia menekankan akan terus melakukan intervensi pasar agar rupiah tak terus terdepresiasi.

To Top