Internasional

Anak Papua Nugini Terancam Sebulan Pascagempa

 

 

NEW YORK, EDUNEWS.ID – Satu bulan setelah gempa kuat mengguncang Papua Nugini, badan PBB memeringatkan mengenai anak-anak yang terancam. Sedangkan akses ke desa terpencil dan terkucil yang terpengaruh masih menjadi tantangan sangat besar.

“Kehidupan anak-anak terancam,” kata Karen Allen, Wakil Dana Anak PBB (UNICEF) untuk negeri itu, sebagaimana dikutip Xinhua, Kamis (29/3/2018) pagi. Dia mengatakan, dengan akses terbatas ke keperluan dasar, banyak keluarga berjuang untuk bertahan hidup di tempat penampungan yang penuh sesak.

Atau juga membangun kembali rumah mereka dan kebun makanan. Pekan lalu, UNICEF mengirim 23 metrik ton pasokan bantuan buat negeri tersebut, termasuk tenda dan terpal, tablet penjernih air, alat kesehatan, selimur dan peralatan sekolah.

Menurut Pemerintah Papua Nugini, sebanyak 270 ribu orang masih memerlukan bantuan mendesak, termasuk 125 ribu anak, setelah gempa bumi dengan kekuatan 7,5 pada Skala Richter mengguncang pada 26 Februari.

Gempa itu menewaskan sedikitnya 100 orang dan melukai lebih banyak orang akibat tanah longsor dan rumah yang ambruk di seluruh empat provinsi terpencil di negara pulau di Pasifik tersebut.

UNICEF sudah mengirim 12 ribu paket makanan terapi dan cukup banyak vaksin untuk melindungi 31.700 anak dari resiko wabah penyakit dan gizi buruk, yang meningkat. “Papua Nugini sudah menghadapi kekurangan vaksin dan angka anak dengan gizi buruk kronis tertinggi keempat di dunia,” kata badan PBB itu.

UNICEF menyatakan lembaga dunia tersebut memerlukan 14,6 juta dolar AS untuk menyediakan bantuan kemanusiaan buat anak-anak dan keluarga yang terpengaruh oleh gempa bumi selama sembilan bulan ke depan.

Pulau itu, yang berada di lempeng seismik yang mudah bergolak, telah mengalami letupan kegiatan, dengan guncangan paling akhir mencapai 6,6 pada Skala Richter selama beberapa jam.

To Top