Internasional

WHO Umumkan Kehadiran Varian Baru Omicron XE, Sudah Masuk ke Indonesia ?

Ilustrasi

JAKARTA, EDUNEWS.ID-Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi temuan varian Omicron XE. WHO pun menyatakan, ada indikasi varian Omicron XE 10 persen lebih mudah menular daripada subvarian BA.2.

Dilansir UX Express, varian BA.2 yang merupakan subvarian dari strain Omicron adalah strain virus yang paling dominan atau menyumbang 86 persen dari semua kasus. Sementara, XE hanya menyumbang sebagian kecil dari kasus, tetapi memiliki tingkat transimisi yang tinggi.

WHO melaporkan, varian Omicron XE pertama kali terdeteksi di Inggris pada 19 Januari dan kurang dari 600 sekuens telah dilaporkan dan dikonfirmasi sejak saat itu.

WHO menegaskan, sampai mereka dapat mendeteksi perbedaan signifikan dalam transmisi dan karakteristik penyakit, maka XE tetap dikategorikan sebagai bagian dari varian Omicron.

“WHO terus memantau dan menilai dengan cermat risiko kesehatan masyarakat yang terkait dengan varian rekombinan, di samping varian SARS-CoV-2 lainnya, dan akan memberikan pembaruan saat bukti lebih lanjut tersedia,” kata WHO dalam laporannya.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengklaim mutasi SARS-CoV-2 Omicron XE belum ditemukan di Indonesia. Omicron XE merupakan strain rekombinan dari dua varian Omicron sebelumnya, yaitu BA.1 dan BA.2.

“Sejauh ini belum ada di Indonesia ya,” kata Sekretaris Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes Siti Nadia Tarmizi dikutip dari CNNIndonesia.com, Senin (4/4/2022).

Nadia menegaskan, pemerintah terus mengawasi pintu-pintu masuk ke Indonesia untuk mencegah persebaran varian baru virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Ia mengatakan, pemerintah akan memperkuat pemeriksaan Whole Genome Sequences (WGS) untuk mengidentifikasi varian baru.

Nadia menjelaskan, per Maret 2022, Kemenkes telah memeriksa 21.956 spesimen warga yang terkonfirmasi Covid-19. Pemeriksaan WGS dilakukan secara acak dengan menyasar golongan tertentu, seperti kasus Covid-19 dari kedatangan luar negeri dan kontak erat kasus varian tertentu.

“Ini akan menjadi kewaspadaan, karena kita tahu varian baru memang akan berpotensi untuk terjadinya peningkatan kasus,” ucapnya.

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top
// Infinite Scroll $('.infinite-content').infinitescroll({ navSelector: ".nav-links", nextSelector: ".nav-links a:first", itemSelector: ".infinite-post", loading: { msgText: "Loading more posts...", finishedMsg: "Sorry, no more posts" }, errorCallback: function(){ $(".inf-more-but").css("display", "none") } }); $(window).unbind('.infscr'); $(".inf-more-but").click(function(){ $('.infinite-content').infinitescroll('retrieve'); return false; }); if ($('.nav-links a').length) { $('.inf-more-but').css('display','inline-block'); } else { $('.inf-more-but').css('display','none'); } // The slider being synced must be initialized first $('.post-gallery-bot').flexslider({ animation: "slide", controlNav: false, animationLoop: true, slideshow: false, itemWidth: 80, itemMargin: 10, asNavFor: '.post-gallery-top' }); $('.post-gallery-top').flexslider({ animation: "fade", controlNav: false, animationLoop: true, slideshow: false, prevText: "<", nextText: ">", sync: ".post-gallery-bot" }); });