Ekonomi

WHO Akui Perjalanan Harus Dilanjutkan Demi Ekonomi walau Tengah Pandemi Covid

ilustrasi

JENEWA, EDUNEWS.ID – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan larangan pada perjalanan internasional tidak harus terus berjalan tanpa batas waktu. Menurut WHO negara-negara kini harus berbuat lebih banyak untuk mengurangi penyebaran virus corona baru atau Covid-19 di dalam perbatasan mereka.

Gelombang infeksi Covid-19 telah mendorong negara-negara untuk memberlakukan kembali beberapa pembatasan perjalanan dalam beberapa pekan belakangan. Kepala Program Kedaruratan WHO Mike Ryan mengatakan larangan perjalanan tidak berkelanjutan.

“Akan hampir mustahil bagi masing-masing negara untuk menutup perbatasan mereka untuk masa mendatang. Ekonomi harus terbuka, orang harus bekerja, perdagangan harus dilanjutkan,” pungkas Ryan seperti dikutip laman Aljazirah, Selasa (28/7/2020).

“Yang jelas adalah tekanan pada virus mendorong angka-angka ke bawah. Lepaskan tekanan itu dan kasusnya naik kembali,” ujarnya menambahkan.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menjelaskan hanya dengan kepatuhan ketat pada langkah-langkah pencegahan, dari mengenakan masker hingga menghindari keramaian, dunia akan berhasil mengalahkan pandemi.

“Di mana langkah-langkah ini diikuti, kasus turun. Di mana tidak, kasus naik,” katanya.

Tedros juga memuji Kanada, China, Jerman, dan Korea Selatan karena mengendalikan wabah. Tedros juga mengatakan komite darurat badan kesehatan PBB akan bersidang untuk memeriksa kembali deklarasi bahwa wabah Covid-19 merupakan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Deklarasi PHEIC yang disebut menandai tingkat alarm tertinggi di bawah aturan kesehatan internasional harus dievaluasi ulang setiap enam bulan.

Sebelum Covid-19, WHO hanya membuat deklarasi seperti itu lima kali sejak Peraturan Kesehatan Internasionalnya berubah pada 2007 untuk flu babi, polio, Zika, dan dua kali untuk wabah Ebola di Afrika.

“Dari yang disebutkan, pandemi saat ini adalah yang paling mudah,” imbuh Tedros.

Namun demikian, terdapat sedikit keraguan bahwa komite darurat akan mempertimbangkan bahwa pandemi masih merupakan darurat kesehatan masyarakat global. Meski, tetap berpotensi dapat mengubah beberapa rekomendasinya tentang bagaimana WHO dan dunia harus merespons.

Situasi telah berubah secara dramatis sejak deklarasi dibuat.

“Ketika saya menyatakan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional pada 30 Januari, ada kurang dari 100 kasus di luar China dan tidak ada kematian,” ucap Tedros.

Tetapi sejak itu, jumlah kasus telah melonjak melewati 16 juta dengan hampir 650 ribu kematian di seluruh dunia.

“Covid-19 telah mengubah dunia kita. Ia telah menyatukan orang, komunitas, dan bangsa, dan membuat mereka terpisah,” tutur Tedros.

WHO telah menghadapi kritik dari tempat-tempat tertentu untuk tanggapannya. Beberapa tuduhan itu mengatakan bahwa WHO bertindak terlalu lambat, namun dengan keras dibantah oleh WHO.

“Selama enam bulan terakhir, WHO telah bekerja tanpa lelah untuk mendukung negara-negara mempersiapkan dan menanggapi virus ini,” ujarnya Tedros.

“Saya sangat bangga dengan organisasi kami, WHO, dan orang-orangnya yang luar biasa dan upaya mereka,” tambahnya.

Tedros selama berbulan-bulan menghadapi serangan tanpa henti dari Presiden AS Donald Trump yang menuduh WHO sebagai “boneka China”. Awal bulan ini Trump memanfaatkan ancamannya untuk mulai menarik AS, yang sebelumnya merupakan donor terbesar WHO dari organisasi.

 

 

rpl

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Edunews.

Kirim Berita

Kirim berita ke email : [email protected][email protected]

ALAMAT

  • Jl. TB Simatupang, RT.6/RW.4, Jati Padang, Kec. Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12540 Telepon : 021-740740  – 0817 40 4740

__________________________________

  • Graha Pena Lt 5 – Regus Jl. Urip Sumoharjo No. 20, Makassar Sulawesi Selatan 90234 Telepon : 0411 366 2154 –  0811 416 7811

Copyright © 2016-2022 Edunews.ID

To Top