Politik

Jika jadi Tersangka, Golkar dan Nasdem Tarik Dukungan Terhadap Ahok

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh, dan Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto menghadiri acara Buka Puasa bersama Keluarga Besar Partai Nasdem di Kantor DPP Nasdem, Kamis (9/6/2016).

JAKARTA, EDUNEWS.ID –  Calon Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, menolak berkomentar banyak terkait dengan isu kemungkinan Partai Golkar mencabut dukungan dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017. Meski begitu, Ahok mengatakan dia sudah diyakinkan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Golkar Idrus Marham lewat sambungan telepon.

“Baru semalam atau dua malam lalu Pak Idrus Marham telepon. Ngobrol (memastikan Golkar tetap dukung),” kata Ahok di kediamannya, kompleks Pantai Mutiara, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis, (10/11/2016).

Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Fadel Muhammad pernah mengatakan akan mempertimbangkan kembali dukungan partainya kepada Ahok. Hal ini ia lontarkan menyusul sejumlah pemberitaan negatif yang menyinggung Ahok. Terlebih, pada 4 November lalu, massa yang menyesaki Ibu Kota menuntut agar Ahok diadili atas dugaan penistaan agama.

Meski begitu, Ahok berkukuh selama pernyataan itu tidak keluar dari Sekjen atau Ketua Umum Setya Novanto, ia tidak akan terlalu ambil pusing. Sampai sejauh ini, pimpinan Golkar juga telah menugaskan anggota Dewan Perwakilan Rakyat untuk ikut berkampanye.

Mengenai hal tersebut, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh mengatakan partainya bakal mengevaluasi dukungan kepada Ahok. Evaluasi terjadi bila status Ahok ditingkatkan sebagai tersangka.

Ahok tengah diperiksa Bareskrim atas dugaan kasus penistaan agama. NasDem, kata dia, akan mengutamakan kesatuan bangsa.

“Kalau Ahok tersangka kita evaluasi dia (Ahok) dalam hal aspek yuridis hukum dan moralitas. Moralitas kita sebagai partai pendukung,” kata Paloh setelah mengikuti perayaan ulang tahun ke lima partainya di kantor DPP Partai NasDem, Jakarta, kemarin (11/11/2016).

To Top