Politik

Pilpres 2019, Cak Imin Deklarasi Cawapres

 

 

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Satu demi satu tokoh nasional mendeklarasikan diri sebagai calon presiden (capres) maupun calon wakil presiden (cawapres), ataupun didukung untuk maju sebagai capres maupun cawapres. Namun, sampai saat ini baru satu calon kuat yang resmi didukung banyak partai untuk maju sebagai capres yakni Joko Widodo.

Dari sekian nama yang beredar di media massa, Ketua umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar yang akrab disapa Cak Imin, secara resmi mendeklarasikan diri siap sebagai cawapres.

Deklarasi itu sendiri dilakukan secara sederhana di hadapan Forum Pemimpin Redaksi atau Forum Pemred di Restoran Bunga Rampai, Jalan Cik Ditiro No.35, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (114/3/2018) petang.

“Hari ini, saya secara resmi mengumumkan pencalonan sebagai Cawapres. Selama ini relawan yang bergerak dan banyak elemen masyarakat yang mengusulkan, tapi saya belum berani mengumumkan. Ketika elektabilitas saya semakin naik, saya jadi tambah yakin dan dihadapan senior-senior saya umumkan pencalonan ini,” ujar Cak imin yang mengenakan jaket warna merah.

Mengapa deklrasi cawapres dan bukan capres? Tanya wartawan, Cak Imin pun menjawab, “Saya sadar bahwa PKB ada dalam koalisi pemerintahan Jokowi dan kemungkinan akan tetap berkoalisi. Jadi,ya cukup deklarasi sebagai cawapres saja, karena tak elok jika deklarasi capres,” katanya.

Lalu, apakah dengan logik ada di dalam koalisi Cak Imin hanya ingin menjadi cawapres Jokowi dan tak tertarik menjadi cawapres bagi capres lain? Dengan diplomatis, mantan aktivis mahasiswa dan beberapa periode duduk sebagai anggota DPR RI ini mengatakan bahwa sampai saat ini baru Jokowi yang diusung resmi sejumlah partai besar untuk maju kembali sebagai capres.

“Ibarat pulau, baru ada satu pulau, nah saya akan menuju satu pulau itu. sedangkan pulau yang lain belum terbentuk,” kilahnya.

Dalam diskusi dengan Forum Pemred ini Cak Imin mengungkapkan rasa percaya dirinya maju sebagai cawapres. Dia mengungkapkan, dirinya pemimpin partai Islam terbesar dengan perolehan suara 11 juta dan ini modal untuk menambah suara Jokowi jika dia berpasangan dalam Pilpres 2019.

“Coba teliti lebih dalam, dalam kepemimpinan gerakan Islam, dari sejumlah nama, saya berani mengatakan bahwa saya punya pengalaman cukup panjang di gerakan aktivis mahasiswa, sosial, dan keagamaan NU. Saya pun meniti karir di politik dari bawah hingga ketua umum. Jadi basis politik dan keagamaan saya bisa memperkuat elektabilitas Jokowi nanti,” katanya.

Terkait dengan itu, Cak Imin lalu mengatakan, apabila Jokowi salah memilih cawapres, maka kemungkinan besar akan kalah. Apalagi katanya, saat ini dan hingga Pilpres nanti, semangat atau sentimen keagamaan semakin besar di kalangan masyarakat.

Islam-Nasionalisme

Muhaimin Iskandar atau Cak Imin lahir dna besar dari keluarga NU. Pria kelahiran Jombang, Jawa Timur 24 Sepetember 1966 ini menamatkan pendidikan tingginya di FISIP UGM Yogytakarta tahun 1992, lalu melanjutkan ke Master Komunikasi UI dan lulus tahun 2001.

Latar belakang pendidikan dasar menengahnya di madrasah, membuatnya bergulat dengan keilmuan Islam dan nasionlisme. Dan ketika aktif dalam politik di PKB dan bergulatdi DPR hingga kini, dirinya berkesimpulan bahwa dua aliran di Tanah Ait memiliki kekuatan sangat besar yakni Islam dan Nasionalisme.

“Kedua paham ini telah banyak menyumbang pada perkembangan bangsa Indonesia hingga kini. Dan ketika kondisi bangsa membutuhkan perstuan yang lebih erat, maka saya berniat meluncurkan gabungan pemikiran dua tokoh yang mewakili dua aliran itu yakni Soekarrno dan Gus Dur. Mungkin namanya Soedurianisme,” kata Cak Imin.

To Top