News

Riset : Air Minum Kemasan Berbahaya untuk Kesehatan

 

 

MIAMI, EDUNEWS.ID – Penelitian yang dilakukan oleh para pakar bidang mikroplastik yang dipimpin oleh Sherri Mason dari State University of New York di Fredonia, membuktikan bahwa air minum dalam kemasan ternyata tercemar oleh partikel plastik berukuran kecil (mikroplastik), yang bisa membahayakan kesehatan manusia yang mengonsumsinya dalam jangka panjang.

“Partikel plastik ini bisa menimbulkan kenaikan risiko beberapa jenis kanker, jumlah sperma yang rendah, hingga meningkatnya risiko Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dan autisme,” ujar Mason, Kamis (15/3/2018).

Penelitian itu dipublikasikan oleh Orb Media, organisasi jurnalistik nirlaba yang berbasis di Washington DC, Amerika Serikat, Rabu (14/3/2018). Bahan pencemar itu diduga berasal dari potongan plastik yang rontok saat proses pengemasan.

Peneliti dari State University of New York itu menguji 250 botol air dari 11 merek, yang diambil sampelnya dari Brasil, Tiongkok, India, Kenya, Lebanon, Meksiko, Thailand, Amerika Serikat, termasuk Indonesia. Kontaminasi plastik ditemukan dalam 93 persen sampel yang mencakup berbagai merek terkenal itu.

“Saya menduga bahan pencemar itu berasal dari proses pengemasan air. Saya rasa sebagian besar plastik yang kami temukan berasal dari botolnya sendiri, berasal dari tutup botol, berasal dari proses industri pengemasan air,” ujar Mason.

Berbentuk Potongan

Debris plastik yang ditemukan itu mencakup polypropylene, nylon, dan polyethylene terephthalate (PET), yang digunakan untuk membuat tutup botol. “Dalam penelitian ini, 65 persen partikel yang kami temukan berbentuk potongan, bukan serat,” tegas Mason.

Konsentrasi partikel berkisar dari nol hingga lebih dari 10.000 partikel plastik dalam satu botol. Partikel mikroplastik itu terlihat setelah diwarnai di laboratorium.

Rata-rata, partikel plastik berukuran 100 mikron (0,1 milimater) – yang disebut “mikroplastik” – ditemukan dengan kadar 10,4 partikel plastik per liter. Plastik yang berukuran lebih kecil, kadarnya lebih banyak dengan rata-rata 325 partikel per liter.

Di Indonesia, diambil 30 sampel masing-masing dari Jakarta, Bali, dan Medan. Setelah sampel dikumpulkan pada November 2017, selanjutnya penelitian dilakukan pada Januari dan Februari 2018.

Sementara itu, Direktur Eksekutif United Nations Environment Program, Erik Solheim, kepada Orb Media mengatakan hasil penelitian dari para pakar bidang mikroplastik yang dipimpin oleh Sherri Mason itu sangat mengejutkan.

Apalagi selama ini air minum kemasan itu banyak dibeli masyarakat karena efektif dibawa ke berbagai tempat dan menjadi penyelamat bagi 2,1 miliar orang di dunia yang kekurangan air minum aman. “Ini mengejutkan. Coba sebutkan satu orang di planet ini yang rela ada plastik dalam air minumnya,” kata Erik.

Tahun lalu, hasil investigasi Orb—seperti yang dilaporkan Guardian—juga mengungkapkan keberadaan fiber plastik mikroskopis dalam sampel air keran di dunia. Secara keseluruhan, 83 persen sampel terkontaminasi serat plastik. Amerika Serikat memiliki tingkat kontaminasi tertinggi, yaitu 94 persen.

To Top