Kesehatan

Waspada, Ada Kabar Kurang Baik dari WHO Soal Varian Omicron

JAKARTA, EDUNEWS.ID-Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan kepada seluruh elemen masyarakat agar tidak menganggap enteng varian B.1.1.529 alias varian baru Covid-19 omicron.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers di Jenewa mengemukakan, varian yang pertama kali ditemukan di Afrika Selatan itu tidak dapat dikategorikan sebagai penyakit ringan.

“Meskipun omicron tampaknya tidak terlalu parah dibandingkan Delta, terutama pada mereka yang divaksinasi, tidak berarti dikategorikan ringan,” kata Tedros, dikutip Jumat (7/1/2022).

Pucuk pimpinan tertinggi di lembaga itu mengatakan bahwa omicron tak jauh berbeda dengan varian lainnnya, karena telah terbukti mampu membuat orang dirawat di rumah sakit bahkan membunuh manusia.

Varian omicron sendiri dalam beberapa kesempatan disebut tidak menyebabkan keparahan penyakit pada kelompok usia muda dan dewasa. Pernyataan tersebut bahkan dibarengi dengan data lain, termasuk riset dari Afrika Selatan dan Inggris.

Meski demikian, hingga saat ini laporan-laporan tersebut tidak memberikan gambaran secara rinci atau lengkap terkait dengan studi maupun usia pasien yang dianalisis.

Salah satu pertanyaan yang belum terjawab hingga kini adalah bagaimana dampak varian omicron terhadap orang tua. Pasalnya, sebagian besar kasus yang dipelajari kelompok peneliti adalah kelompok usia yang lebih muda.

Sementara itu, Janet Diaz, pimpinan WHO untuk manajemen klinis mengatakan bahwa studi awal telah menunjukkan risiko rawat inap akibat omicron lebih rendah dibandingkan varian delta.

Sebelumnya, WHO mengatakan bahwa ada beberapa banyak bukti yang menyatakan bahwa virus corona varian omicron menyebabkan gejala yang lebih ringan dibandingkan varian sebelumnya.

Melansir Al Jazeera, Manajer Insiden WHO Abdi Mahamud mengatakan pada konferensi pers bahwa lebih banyak bukti muncul bahwa Omicron mempengaruhi saluran pernapasan bagian atas, menyebabkan gejala yang lebih ringan daripada jenis sebelumnya.

Namun, dia menambahkan bahwa penularan Omicron yang tinggi artinya varian akan menjadi dominan dalam beberapa minggu ke depan di banyak tempat. Ini tentu menimbulkan ancaman di negara-negara, di mana sebagian besar populasinya belum dan tidak divaksinasi. (int/cnbc)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top
// Infinite Scroll $('.infinite-content').infinitescroll({ navSelector: ".nav-links", nextSelector: ".nav-links a:first", itemSelector: ".infinite-post", loading: { msgText: "Loading more posts...", finishedMsg: "Sorry, no more posts" }, errorCallback: function(){ $(".inf-more-but").css("display", "none") } }); $(window).unbind('.infscr'); $(".inf-more-but").click(function(){ $('.infinite-content').infinitescroll('retrieve'); return false; }); if ($('.nav-links a').length) { $('.inf-more-but').css('display','inline-block'); } else { $('.inf-more-but').css('display','none'); } // The slider being synced must be initialized first $('.post-gallery-bot').flexslider({ animation: "slide", controlNav: false, animationLoop: true, slideshow: false, itemWidth: 80, itemMargin: 10, asNavFor: '.post-gallery-top' }); $('.post-gallery-top').flexslider({ animation: "fade", controlNav: false, animationLoop: true, slideshow: false, prevText: "<", nextText: ">", sync: ".post-gallery-bot" }); });