Nasional

WHO Ungkap 3 Kelompok orang ini Terancam Gegara Omicron!

JAKARTA, EDUNEWS.ID-Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan virus corona varian Omicron kini mendominasi dunia melebihi Delta. Karenanya, meski cenderung bergejala ringan, umut manusia diminta tidak menganggap sepele varian ini.

Dalam pernyataan pejabatnya, WHO bahkan memaparkan tiga kelompok yang bisa terancam nyawa karena Omicron. Yakni mereka tidak divaksinasi, lanjut usia dan orang-orang yang memiliki penyakit bawaan.

Hal ini dikatakan pejabat WHO, Direktur Program Kedaruratan Kesehatan WHO Dr. Mike Ryan dan Pemimpin Teknis Covid-19 WHO Maria Van Kerkhove. Ketiga kelompok itu bisa menghadapi risiko tinggi, sakit parah dan mungkin meninggal.

“Omicron masih merupakan ancaman besar bagi kehidupan mereka dan ancaman besar bagi kesehatan mereka,” kata Ryan, dikutip dari CNBC International, Rabu (12/1/2022).

“Orang-orang harus benar-benar melihat ini dengan serius, dan mempertimbangkan untuk mendapatkan vaksinasi,” ujarnya lagi seraya menegaskan mereka yang divaksinasi umumnya mengalami penyakit ringan jika terinfeksi.

Sementara itu, Van Kerkhove mengatakan orang tua dan orang-orang dengan kondisi atau penyakit bawaan juga menghadapi risiko kematian yang lebih tinggi dari Omicron dibandingkan dengan kelompok lain. Risiko kematian, kata dia, bertambah seiring usia.

“Kami tahu bahwa kematian meningkat dengan Omicron seiring bertambahnya usia,” tegas Van Kerkhove.

“Kami juga memiliki data dari beberapa negara yang menunjukkan bahwa orang dengan memiliki satu kondisi yang mendasari memiliki peningkatan risiko rawat inap dan kematian. Bahkan jika Anda terpapar Omicron dibandingkan dengan Delta,” jelasnya.

Ia mengakui ada proporsi risiko yang lebih rendah dari gelombang Omicron dibanding Delta. Namun, dia mengingatkan bahwa tingkat keparahan yang lebih rendah tidak berarti Omicron hanya menyebabkan penyakit ringan.

“Ini bukan hanya penyakit ringan,” katanya lagi. “Ini sangat penting karena orang masih dirawat di rumah sakit karena Omicron.”

Sementara itu, dalam update kemarin, WHO melaporkan rekor 15 juta infeksi Covid-19 baru dilaporkan di seluruh dunia, dalam seminggu ini. Hal tersebut didorong munculnya varian Omicron.

Bahkan, strain yang pertama terdeteksi di Afrika Selatan (Afsel) dan Bostwana itu, sudah menggantikan Delta. Mengacu data 30 hari WHO, ada 357.000 atau sekitar 59% kasus adalah Omicron.

Kasus bahkan diyakini sebenarnya lebih banyak. penundaan pelaporan dan batas pengurutan di beberapa negara menjadi penyebab data tak sesuai lapangan.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top
// Infinite Scroll $('.infinite-content').infinitescroll({ navSelector: ".nav-links", nextSelector: ".nav-links a:first", itemSelector: ".infinite-post", loading: { msgText: "Loading more posts...", finishedMsg: "Sorry, no more posts" }, errorCallback: function(){ $(".inf-more-but").css("display", "none") } }); $(window).unbind('.infscr'); $(".inf-more-but").click(function(){ $('.infinite-content').infinitescroll('retrieve'); return false; }); if ($('.nav-links a').length) { $('.inf-more-but').css('display','inline-block'); } else { $('.inf-more-but').css('display','none'); } // The slider being synced must be initialized first $('.post-gallery-bot').flexslider({ animation: "slide", controlNav: false, animationLoop: true, slideshow: false, itemWidth: 80, itemMargin: 10, asNavFor: '.post-gallery-top' }); $('.post-gallery-top').flexslider({ animation: "fade", controlNav: false, animationLoop: true, slideshow: false, prevText: "<", nextText: ">", sync: ".post-gallery-bot" }); });