Sulhan Yusuf

Flow Like Water

0 – Waima matahari telah tergelincir, teriknya masih sulit ditawar derajatnya. Panas  Kota Makassar, masih meranggas gerahnya, tatkala sesosok kisanak, teman seperjuangan dalam gerakan baca-tulis, pegiat literasi, Abdul Rasyid Idris, mewartakan kedatangan guru literasi, Hernowo Hasim, sekaligus mengajak untuk ikut santap siang bersama, pada hari Kamis, 25 Agustus 2016, seputar pukul 13.00 siang. Namun, ajakan itu saya tidak penuhi, karena saya masih harus menjaga toko buku milik sendiri. Dan, sekitar 30 menit kemudian, saya mesti beranjak memenuhi janji untuk menuntaskan pelatihan literasi di salah satu komunitas mahasiswa, yang letaknya di selatan kota.

Padahal, sesarinya, saya ingin sekali segera bersua dengan Hernowo Hasim . Pasalnya, mungkin sudah memangsa waktu, hampir sepuluh tahun tak ketemu fisik. Perjumpaan perdana saya  dengannya, seputar tahun 2004, kala penerbit Mizan membuka perwakilannya di Makassar. Dan, pertemuaan yang kedua, sekitar tahun 2006,  ketika SDIT Ar-Rahmah menyelenggarakan sejenis seminar yang berkutat pada soal penerapan Multiple Intelegence di kelas, sekolah, dan rumah. Untunglah dunia maya mendekatkan, mengakrabkan lewat media sosial, khususnya facebook, yang satu-satunya saya setubuhi. Sehingga, jarak  fisik bukan soal lagi, sebab jiwa tetap berinteraksi melalui saling sapa, serupa komentar terhadap status yang dipostingnya, begitu juga sebaliknya.

Sebelum tiba di lokasi pelatihan, di selatan kota itu, saya mampir dulu di toko buku Gramedia Mall Panakkukang, guna mencari buku Hernowo yang terbaru, yang berjudul Flow di Era Socmed, Kaifa, 2016. Sejatinya, buku ini, nangkring pula di toko buku saya, tapi karena belum terorder, sehingga saya harus memburunya di tempat lain.

Sesampai di Gramedia, kurang lebih setengah jam, saya mencari buku itu. Saya cek di komputernya, stok buku itu masih ada 8 eksamplar. Daripada pusing mencarinya, saya meminta bantuan karyawan toko untuk mencarikan, meski ia  juga kebingungan. Soalnya, buku itu diletakkan pada lokasi buku sosial, sementara kami mencarinya di area buku pengembangan diri.

Esok malamnya, Jumat, 26 Agustus 2016, benar-benarlah baru bersua dengan  Hernowo. Bertempat di Gedung Panrita Tamalanrea, untuk bersamuh dengan orang-orang yang datang, guna membincang tradisi literasi. Lalu, perbincangan menukik pada buku yang baru dianggitnya. Saya benar-benar beruntung, sebab didapuk untuk mendampinginya selaku moderator. Sajiannya lewat infocus, langsung terpampang tulisan pembuka, termaktub di layar-tembok: “ Flow Like Water”. Pernyataan inilah yang mengantar paparannya, bahwa selayaknya aktivitas membaca dan menulis itu, mengalir seperti air. Jadi, kasadnya, flow itu berarti mengalir.

Pada buku yang diulas malam itu, Hernowo menulis di halaman paling awal, “ Ketika kreativitas menyala-nyala, orang mengalami apa yang disebut oleh para atlet dan penari panggung sebagai ‘momen putih’. Segalanya menjadi jelas. Keterampilan Anda begitu sesuai dengan tantangan itu sehingga Anda tampak berpadu dengannya. Semuanya terasa harmonis, menyatu dan mudah.”

Lebih dalam lagi, Hernowo melanjutkan, “Momen putih itulah yang terkadang disebut oleh para psikolog sebagai ‘mengalir’. Keadaan ini telah dipelajari secara mendalam oleh Mihaly Csikszentmihalyi, seorang psikolog di Universitas Chicago. Ketika mengalir, orang berada pada keadaan puncaknya. Mengalir dapat terjadi dalam semua wilayah aktivitas –melukis, bermain catur, mencinta, apa pun. Satu prasyaratnya adalah keterampilan Anda secara sempurna sesuai dengan tuntutan momen tersebut sehingga seluruh kesadaran diri melenyap.”

Latar utama kelahiran buku ini, dipantik oleh keprihatinan atas pola-pola komunikasi di era media sosial yang berbasis daring, yang sedikit banyaknya cukup semrawut. Bagaimana konsep mengikat makna, yang merupakan temuannya dalam dunia baca-tulis, dapat membantu berkomunikasi yang punya efek dahsyat. Sebab, kecakapan dalam reading (membaca), writing  (menulis), listening (menyimak) dan speaking (bercerita), sangat menentukan kualitas komunikasi seseorang. Dari empat pilar komunikasi itulah, Hernowo menawarkan kiat untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan mengalirkan pesan tertulis.

Akhir sesi, saya menyodorkan buku yang saya beli itu, dan telah membacanya sehari penuh, untuk ditandatangai, sebagai penanda kenangan akan persuaan. Di luar sangkaan saya, di atas bubuhan tanda tangannya, Hernowo menggoreskan pena, lalu lahirlah kata-kata, yang menyatu dalam kalimat, “Untuk Bung Sulhan Yusuf. Semoga dapat membantu Bung Sulhan untuk menulis mengalir. Makassar, 28/8/2016.” Bagi saya, ini semirip prasasti, setidaknya, begitulah  menurut pendakuan batin saya.

Esok paginya, Sabtu, 27 Agustus 2016, bertempat di GTC Mall Makassar, Hernowo kembali beraksi. Lewat acara seminar, yang mengulas tema seputar parenting, ia kembali merujukkan pandangan-pandangannya pada bukunya yang ke-37 ini. Sekadar warta saja, bahwa Hernowo amat produktif menulis buku. Bahkan, dalam rentang waktu empat tahun, telah menulis 24 buku. Mengapa Hernowo begitu produktif menelorkan buku? Dan, nyaris setiap hari menulis catatan di media sosial? Rupanya, jawaban sederhananya, karena ia telah menerapkan konsep flow ini dalam aktivitas membaca dan menulisnya.

Pada momen persamuhan parenting ini, barulah saya bertemu dengan kawan seperguruan dalam dunia persilatan literasi, Abdul Rasyid Idris, yang sedari awal kedatangan Hernowo, telah mewartakannya pada saya untuk segera jumpa. Rasa bahagia meluap-luap, haru bertubi-tubi menghidu saya, tersatukan dalam pertemuan segi tiga, bersama empu literasi kami, Hernowo Hasim.  Mungkin karena saya flow saja mengekor dalam menikmati kedatangan Hernowo, selama 3 hari di Makassar, sehingga suasana batin saya, makin menguatkan jiwa saya dalam menceburkan diri selaku pegiat literasi. Benarlah adanya, diktum pembuka Hernowo, pada layar presentasi di dua tempat, Gedung Panrita dan GTC Mall, Flow Like Water, mengalir seperti air.

Sulhan Yusuf. Pegiat Literasi. Koordinator Kelas Inspirasi Sulsel.

To Top