Sulhan Yusuf

Menulis Selaku Terapi Jiwa

Oleh: Sulhan Yusuf*

PARADIGMA, EDUNEWS.ID – Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan negeri tercinta, yang ke-71, 17 Agustus 2016, saya dihadiahi sebuah buku oleh seorang sahabat Syahril Syam. Rupanya, buku tersebut, yang berjudul Change Limiting Beliefs adalah hasil anggitannya, yang diterbitkan oleh Gramedia, tahun 2016. Prihal hadiah ini, boleh jadi sebagai bentuk terimakasih, tepatnya saling berterimakasih, atas diberinya saya kesempatan untuk ikut memberikan testimoni dari 44 orang yang menuliskan apresiasi. Aneka latar belakang person, mulai dari menteri, budayawan, pengusaha, politisi, atlet, dll. Saya sendiri, sepertinya representasi dari kaum pegiat literasi. Pastinya pula, hadiah buku ini, serupa kado di momen kemerdekaan.

Olehnya, pada buku yang tebalnya 406 halaman itu, yang merupakan buku kedua dari Syahril – buku pertamanya, berjudul:  The Secret of Attractor Factor, Gramedia 2007 – saya menuliskan testimoni, berupa sejumput ujar: “Dalam perspektif gerakan literasi, keberadaan sebuah buku amat menentukan hidupnya tradisi literasi untuk melahirkan budaya literasi. Tentu, buku yang dimaksud adalah buku yang bernilai gizi tinggi, menggerakkan pikiran, mencerahkan secara intelektual dan memberikan gairah hidup bagi yang membacanya. Bagi saya, selaku pegiat literasi, terbitnya buku Change Limiting Beliefs, yang ditulis oleh Syahril Syam, seorang Mind Programmer ini, memenuhi harapan akan sebuah buku yang bergizi, mencerahkan dan menggairahkan. Menyantap buku ini, berarti bakal menyehatkan jiwa.”

Ada poin penting yang saya garisbawahi dalam buku Syahril ini, tatkala sampai pada bab 15, tetiba saja menyodorkan judul; Menulislah dengan Hati Sebagai Bentuk Refleksi Jiwa. Topik ini lalu mengingatkan saya, ketika acapkali memberikan pelatihan literasi, yang secara umum sering saya slogankan pada peserta bahwa tujuan pelatihan literasi, adalah bagaimana belajar menyenangkan, membaca sebagai kebutuhan dan menulis selaku terapi jiwa. Dan, dengan merujuk pada buku ini, khususnya pada bagian terapi menulis ini, sama saja saya mendapatkan tambahan amunisi argumentasi, yang akan saya tembakkan pada batok pikiran dan sudut hati, setiap peserta.

Amat eloklah jikalau saya kutipkan tulisan Syahril, yang dirujukkan pada hasil penelitian  Dr. James W. Pennebaker, tentang menulis sebagai terapi ini. Bahwasanya, pertama, janganlah menulis dengan tujuan menggantikan tindakan nyata. Saat Anda mengalami suatu masalah dan ternyata ada solusi yang Anda bisa temukan dan lakukan, maka menuliskan masalah itu justru tak bermanfaat bagi diri Anda. Jadi, menulislah untuk masalah-masalah yang berada di luar kendali Anda, bukan pada suatu hambatan yang bisa Anda kendalikan.

Kedua, hindari menulis seolah-olah Anda akan membuat sebuah karya intelektual. Saat menulis, maka yang terjadi adalah sebuah refleksi akan diri sendiri, tentang pengungkapan emosi diri sendiri, tentang mengapa memiliki mengapa seperti yang dirasakan saat ini. Jadi, menulis dalam hal ini bukan dimaksudkan untuk melihat diri sendiri sebagai orang kedua dan berusaha memikirkan jalan terbaik bagi diri sendiri dengan mengutip berbagai kata-kata bijak.

Ketiga, menulis sebagai terapi bukan hanya sekadar melepaskan emosi semata, karena mengungkapkannya tanpa arah cenderung membuat emosi tersebut semakin liar. Hal ini sering kali terjadi, karena menulis pengungkapan emosinya ditujukan kepada orang lain. Menulis atau membicarakan sumber masalah tanpa melakukan tindakan refleksi hanya akan memperparah stres yang dialami. Singkatnya, menulislah sebagai refleksi atas diri yang terdalam, dan bukan fokus pada orang lain.

Menariknya, karena Syahril memberikan contoh konkret dari tindakan menulis sebagai terapi jiwa. Alkisah, setelah B.J. Habibie, presiden ke-3 RI, sepeninggal isterinya, Hasri Ainun, mengalami guncangan jiwa, hidupnya terasa hampa. Disebutkannya, suatu hari Habibie, sekitar pukul 02.30 dini hari, Habibie masih menggunakan pakaian tidurnya berjalan-jalan keliling rumah sambil menangis tersedu-sedu, seperti layaknya seorang anak yang mencari-cari ibunya.

Walhasil, melalui analisa dokter keluarga, Habibie kala itu mengalami apa yang disebut psychomatic malignant, suatu istilah bagi orang-orang yang terlalu tenggelam dalam kesedihannya. Jika tak segera dirawat, besar kemungkinan Habibie akan segera menyusul Ainun.

Menurut cerita Habibie, akhirnya tim dokter pun memberi empat saran. Pertama, dirawat di rumah sakit jiwa. Kedua, tetap tinggal di rumah dengan tim dokter dari Indonesia dan Jerman guna merawatnya. Ketiga, curhat kepada orang-orang yang dekat dengannya dan Ainun. Keempat, menulis. Simpulannya, Habibie memilih anjuran yang keempat, yaitu menulis sebagai suatu refleksi diri. Dan, tulisannya kemudian jadi buku dengan judul: Habibie & Ainun. Buku ini merefleksikan kesedihan terdalam dari Habibie. Hebatnya lagi, buku ini menjadi best seller, sekaligus menjadi dasar pembuatan film, dengan judul yang sama, mengular antrian dan menyemut pula penontonnya.

Selaku orang yang senantiasa berkepentingan pada kesehatan jiwa, saya pun ingin selalu mempunyai jiwa yang sehat. Bahkan, lebih dari itu, saya amat membutuhkan jiwa yang sehat. Maka dengan dasar kebutuhan inilah, saya selalu berupaya menulis setiap saat. Hitung-hitung sebentuk curhat gratis nan sehat. Berupaya menyehatkan jiwa dengan cara yang mudah dan murah. Dan, saya mendapatkannya dengan menulis. Menjadikan menulis sebagai tirakat, selaku suluk yang tak berbatas. Termasuklah tulisan saya ini, merupakan wujudnya.

Sulhan YusufPegiat Literasi. Koordinator Kelas Inspirasi Sulsel.

To Top