Uncategorized

Dramatisasi Politik

Oleh: Alimuddin*

OPINI, EDUNEWS.ID – Politik ibaratkan orang yang sedang bermain drama diatas panggung yang mencobakan memainkan peran sesuai dengan adengan yang menjadi temanya dipanggung yang dimana aktor mencoba membawakan lakon yang telah ditentukan, seperti karakteristik, bahasa yang digunakan, maupun pakaian yang telah didesain oleh aktor itu sendiri, apabila aktor akan menjadi orang yang baik maka dia harus menjadi seperti itu dengan menggunakan bahasa, karakter yang baik pula.

Orang itu harus sebisa mungkin membawakan dirinya menjadi yang baik walaupun dibelakang panggung drama itu kemungkinan sifatnya yang tidak baik, begitu sebaliknya, apabila aktor itu mendapatkan sebagai seorang jahat maka aktor itu harus sebisa mungkin menunjukkan bahwa dia itu orang jahat, begitulah orang yang main drama diatas panggung. Mereka harus sebisa mungkin membawakan peran  sebagai aktor itu supaya bisa menarik perhatian para khalyak atau para penonton yang sedang menyaksikan drama.

Seperti itulah orang-orang yang berpolitik mereka ibaratkan orang sedang bermain dramtisasi, yang membawakan peran dan menunjukan diri mereka didepan khalayak, bisa kita lihat ketika pemilu legislatif, pada saat kempanye mereka menunjukan diri mereka kepada rakyat bahwa mereka merupakan wakil yang baik yang akan membawakan atau menyampaikan aspirasi rakyat, berbagai cara yang digunakan oleh elit-elit politik ini untuk menarik perhatian para simpatisan dengan cara mengunakan bahasa yang baik, dan menunnjukan karakteristik yang baik pula supaya terlihat bahwa mereka yang cocok untuk menjadi wakil rakyat, walaupun sejatinya mereka ini adalah orang akan membawa rakyat kejalan kesesatan dan membuat rakyat menjadi melarat dan miskin, mereka berbondong-bondong turun dimasyarakat untuk mencari suara rakyat dengan alih-alih bahwa mereka akan membawa kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyat.

Begitulah elit politik sekarang ini bagaikan seorang aktor yang sedang bermain drama diatas panggung yang mencoba menarik perhatian dan menunjukkan dirinya itu adalah orang-orang yang baik, walaupun akhirnya nanti mereka akan kembali pada dirinya yang sejati yaitu orang-orang selalu berbuat keburukan, menindas, dan merampas hak-hak rakyat yang selama ini memperjuangkan mereka agar mereka bisa menjadi wakil rakya yang akan menyampaikan aspirasi rakyat, akan tetapi realitas berbicara yang lain mereka memanfaatka itu semua demi kepenitngan mereka pribadi.

Hal-hal seperti ini sering kali terjadi ditengah masyarakat awam yang tidak tau apa-apa, mereka sering kali menipu rakyat dengan cara-cara seperti ini, rakyat mudah tertipu dengan gaya mereka yang seakan-akan mereka ini merupakan wakil yang baik, dengan menggunakan bahasa yang sopan santu, memberikan janji yang seakan-akan janji itu pasti bagi rakyat, sehingga rakyat tertipu dan percaya begitu saja kepada mereka tanpa mempertanyakan dan memikirkan secara jelas dan matang kepada elit-elit politik tersebut.

Inilah realitas yang terjadi di politik kita sekarang ini, para wakil kita tidak ada yang bisa kita percaya untuk menyampaikan aspirasi kita kepada pemerintah. Sehingga sering kali rakyat yang ada dipelosok-pelosok desa sering tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah, baik pemerintah daerah, propinsi, apalagi pemerintah pusat. Masyarakat dipelosok desa sering kali luput dan lupa dari perhatian pemerintah sehingga kemiskinan, kejehatan, kelaparan, dan penganguran semakin merajalela di masyarakat pelosok sana. Rakyat menjadi korban dari dramatisasi politik tersebut.

ALIMUDIN, Kader HMI (MPO) Cabang Mataram

To Top