Inovasi

Siswa SMKN 2 Klaten Kembangkan Teknologi Mobil Pedesaan

KLATEN, EDUNEWS.ID – Mobil Esemka adalah sebuah mobil hasil rakitan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang digadang-gadang sebagai embrio mobil nasional. Kali ini, inovasi serupa kembali digebrak oleh siswa SMKN 2 Klaten. Meski memiliki keserupaan program, yakni pembuatan mobil, kendaraan roda empat karya siswa SMKN 2 Klaten ini memiliki beberapa perbedaan dengan pendahulunya.

Jika Esemka dikembangkan oleh sejumlah sekolah kejuruan di Klaten dan Solo pada era Joko Widodo saat menjabat sebagai Wali Kota Solo diwacanakan sebagai mobil nasional, buah karya siswa SMKN 2 Klaten ini memiliki segmen lokal, yaitu pedesaan.

Wakil Kepala SMKN 2 Klaten Bidang Kurikulum, Heru Karyana, mengatakan ide awal pembuatan mobil pedesaan tersebut adalah kondisi geografis wilayah Kabupaten Klaten yang sebagian besar merupakan pertanian. Ditambah, lokasi SMKN 2 Klaten dikelilingi areal persawahan.

“Inisiatifnya melihat potensi yang bisa dikembangkan di pedesaan. Fungsinya pun disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat pedesaan khususnya petani,” katanya usai menyambut kunjungan Bupati Klaten, kemarin (1/11/2016).

Terdapat dua prototipe yang dikembangkan, yaitu mobil angkutan atau pickup yang dilengkapi dengan bak hidrolik dan mobil perontok padi.

Pada model awal, mobil dapat difungsikan sebagai pengakut hasil panen dan tidak memerlukan tenaga besar saat menurunkan angkutan di belakangnya cukup dengan menaikkan bak yang telah dilengkapi dengan piston hidrolik.

Sedangkan pada model kedua, mobil dimungkinkan menjangkau areal persawahan dan digunakan untuk merontokkan padi yang baru saja dipanen oleh petani.

“Kami melihat adanya mobil yang mengangkut mesin perontok padi lalu lalang di pedesaan. Dari hal ini, muncul ide untuk menggabung dua fungsi pada satu unit mobil, sehingga tidak repot menaikturunkan mesin perontok padinya. Namun kami tidak ingin berhenti di situ, ke depannya,” ungkapnya.

Heru mengatakan dengan menyasar pasar pedesaan, satu unit mobil pedesaan dibandrol kurang dari Rp 100 juta apabila sudah diproduksi massal. Kendati relatif murah, mobil pedesaan rencananya akan didukung dengan mesin berkapasitas 1.500 cc sehingga memiliki tenaga dan daya angkut yang besar.

“Harapannya dengan harga yang terjangkau, mobil karya siswa SMKN 2 Klaten ini bisa mendukung kelompok tani maupun pemerintah desa untuk meningkatkan produksi pertanian,” paparnya.

To Top