Kampus

Cerita Peneliti UGM Saat Ekspedisi di Antartika

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) Nugroho Imam Setiawan, sudah menyelesaikan separuh dari perjalanan ekspedisinya di Antartika. Pada Sabtu (14/1/2017) lalu ia berkesempatan untuk istirahat selama satu hari di kapal Shirase setelah 17 hari fielwork di lapangan dengan tiga lokasi yang berbeda.

Dalam keterangannya yang dikirim melalui WhatsApp, Nugroho menjelaskan adanya berbagai kelebihan maupun kekurangan yang dijumpai selama fieldwork, baik dari segi geologi, medan, iklim, dan lokasi basecamp.

Pada musim panas kali ini, suhu udara bervariasi dari -5 derajat hingga 5 derajat celcius dengan kelembaban udara 40 hingga 60 persen. Beberapa kali tim ekspedisi harus bekerja seharian dalam kondisi -2 derajat ditambah angin dingin dan hujan salju. Sementara itu, pada malam hari menjelang tidur di dalam tenda suhu juga masih -1 hingga 0 derajat. Untunglah mereka membawa sleeping bag hangat sebagai penjamin tidur tetap nyenyak.

“24 jam nonstop matahari menghajar kami dan membuat wajah menjadi belang kehitaman walaupun sudah pakai sun-blok spf 50++ setiap hari. Kelembaban yang rendah membuat kulit di tepi kuku mudah mengelupas dan perih. Tapi rasa lelah itu tidak sebanding dengan pengalaman, ilmu, dan rasa kagum akan keagungan Tuhan,” urai dosen Departemen Teknik Geologi, Fakultas Teknik UGM ini, dalam keterangan tertulis UGM, Selasa (17/1/2017).

Selama ekspedisi, Nugroho melihat tidak ada tipe batuan lain di lokasi penelitian selain batuan metamorf (gneissik) dan granitoids (pluton maupun pegmatit) ataupun perpaduan keduanya (migmatit). Honeycomb structure ini sering dijumpai pada batuan akibat gerusan angin dengan iklim kering di permukaan batuan.

Nugroho mengaku setiap hari mereka mengoleksi 10-20 kg sampel batuan dengan jarak tempuh 5-10 km. Basecamp dibangun dengan 1 tenda besar untuk kegiatan bersama (makan dan bekerja), 7 tenda kecil untuk masing-masing peserta ekspedisi dan 2 tenda toilet.

“Kalau beruntung dapat tempat datar dengan alas pasir kasar hasil dari gerusan angin pada batuan. Karena tidak ada pilihan lain biasanya dapat alas batu-batu runcing dengan kondisi miring. Baru satu hari alas tenda  dan matras sudah robek,” katanya.

Ia menambahkan masih ada satu bulan fieldwork ke depan dan jika cuaca baik ia akan segera kembali ke lapangan untuk 15 hari selanjutnya. Sementara itu, untuk pindah lokasi basecamp, menurut Nugroho, mereka akan diantar dan dijemput dengan dua helikopter secara bergantian.

Nugroho Imam Setiawan, terpilih mengikuti kegiatan penelitian masa depan planet bumi di Antartika yang diadakan Japan Antartic Research Expedition (JARE). Nugroho merupakan satu-satunya anggota tim ekspedisi yang berasal dari kawasan Asia Tenggara. Menurut rencana, kegiatan riset tersebut akan dilaksanakan selama dua bulan, Januari-Februari 2017 mendatang.

To Top