JAKARTA, EDUNEWS.ID – Pasar modal Indonesia kembali menunjukkan “kejujurannya” di tengah upaya penguatan narasi positif oleh para pemangku kebijakan. Setelah kunjungan Ketua Harian Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, ke Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) pada sesi perdagangan pagi tadi, Selasa (19/5/2026), IHSG justru mengalami pembalikan arah yang tajam. Memasuki perdagangan Sesi II, indeks malah meluncur bebas dan rontok parah di tengah tekanan jual yang masif.
Hingga pukul 13.55 WIB, IHSG berada di level 6.363,67 atau anjlok 235,57 poin (-3,57%). Kunjungan Dasco ke bursa yang awalnya dipandang sebagai upaya untuk memberikan sinyal stabilitas dan dukungan moral, justru berbanding terbalik dengan reaksi pasar di lapangan.
Pasar Tidak Bisa Didikte
Analis pasar menilai bahwa penurunan ini adalah bentuk respons “dingin” dari investor, baik domestik maupun asing, terhadap kondisi fundamental ekonomi yang dianggap masih penuh dengan ketidakpastian. Kunjungan seremonial tidak mampu membendung arus keluar modal (capital outflow) yang terjadi secara deras.
“Pasar itu seperti detektor kebohongan. Kunjungan pejabat memang baik sebagai simbol dukungan, tetapi investor tidak akan menahan portofolio mereka hanya karena adanya kunjungan resmi. Mereka melihat pada angka, suku bunga, dan kebijakan fiskal yang konkret,” ujar salah satu pengamat ekonomi.
Ketidakpastian Jadi Momok Utama
Aksi jual yang terjadi hari ini diduga kuat merupakan akumulasi dari ketidakpercayaan investor terhadap kebijakan fiskal yang dianggap tidak konsisten. Ketidakpastian mengenai arah kebijakan ekonomi ke depan menjadi musuh utama yang membuat investor memilih untuk “aman” dengan menarik modal mereka dari pasar modal Indonesia.
Para investor saat ini menuntut keterbukaan lebih dari pemerintah. Narasi pertumbuhan ekonomi yang sering digembar-gemborkan dinilai mulai kehilangan tajinya jika tidak dibarengi dengan langkah jujur untuk mengakui tantangan ekonomi yang sedang dihadapi.
“Data statistik bisa diatur, namun tekanan jual di pasar tidak bisa dimanipulasi. Pemerintah harus berani terbuka dan jujur mengenai kondisi sebenarnya, bukan sekadar mencoba menenangkan pasar dengan kunjungan-kunjungan seremonial,” tegas kritikus ekonomi terkait fenomena rontoknya IHSG hari ini.
Hingga saat ini, IHSG masih tertekan berat, meninggalkan pesan bahwa kepercayaan pasar (trust) bukanlah sesuatu yang bisa dibangun hanya melalui kehadiran fisik, melainkan melalui konsistensi kebijakan yang sehat dan transparan.
