Kampus

FP UGM Teliti Penyakit Pohon Pisang

ILUSTRASI

YOGYAKARTA, EDUNEWS.ID – Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) berkolaborasi dan turun secara langsung mengatasi penyakit “Panama” yang banyak menyerang tanaman pisang di Asia Timur dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

“Penyebaran global penyakit-penyakit tanaman pisang, khususnya yang sangat merugikan yaitu penyakit ‘Panama’ atau layu Fusarium sudah mengancam peranan pisang dalam kehidupan sehari-hari penduduk Indonesia,” ujar Guru Besar Fakultas Pertanian UGM, Siti Subandiyah, seperti dikutip dari laman ugm.ac.id, kemarin (17/11/2016).

Penyakit Panama yang banyak menyerang tanaman pisang di Asia Timur dan Asia Tenggara sejak 1960-an memang menjadi salah satu fokus utama dalam penelitian ini. Di Indonesia, penyakit ini telah berkembang dengan sangat cepat dan menyebabkan penurunan yang signifikan pada ekspor pisang Indonesia.

“Penyakit ini menyebar banyak sekali di Indonesia, sudah sampai di mana-mana. Akibatnya, produksi turun dan sejak 2003 ekspor kita turun drastis,” imbuhnya.

Padahal, kata dia keragaman jenis pisang dan konsumsinya di Indonesia berperan nyata dalam ketahanan pangan maupun sebagai sumber pendapatan masyarakat.

Ia mengatakan penyakit pohon pisang itu telah berkembang dengan sangat cepat dan menyebabkan penurunan yang signifikan pada ekspor pisang Indonesia.

Di sisi lain, kata dia tanaman pisang dengan mudah dapat ditemukan hampir pada segala tempat di Indonesia, baik di lahan kering dan pekarangan di sekitar perumahan, atau di sekeliling persawahan dan di sepanjang jalan.

“Jenis pisang yang dikonsumsi di Indonesia pun sangat beragam, tidak seperti sebagian besar negara-negara barat seperti Belanda yang hanya memiliki jenis pisang Cavendish. Tapi, penyebaran penyakit-penyakit tanaman pisang mulai mengancam produksi pisang Indonesia,” ungkap dia.

Menurut Siti, pemahaman terhadap bagaimana hubungan antara pisang, penyakit tanaman, tanah, kepemilikan lahan, dan permintaan pasar mempengaruhi keragaman pisang konsumsi yang ditemukan dan respon terhadap berkembangnya penyakit tanaman tidak hanya relevan secara ilmiah.

Namun juga dapat mempercepat pemahaman terhadap dimensi yang berbeda dari produksi, konsumsi, dan pemasaran pisang Indonesia, katanya.

“Hal ini berkontribusi terhadap penetapan keputusan ke depan oleh kelompok-kelompok tani, kebijakan pemerintah, jaringan perdagangan dan penelitian ilmu hayati atau biologi,” jelasnya.

To Top