Pendidikan

1.200 Anak Difabel Belum Terakses Layanan Pendidikan

ILUSTRASI

SOLO, EDUNEWS.ID – Menurut data yang dilakukan Pusat Pengembangan dan Pelatihan Rehabilitasi Bersumber daya Masyarakat (PPRBM) Solo dengan sejumlah pihak sejak 2015 lalu, saat ini ada sekitar 1.200 anak difabel di Kota Solo belum terakses layanan pendidikan di sekolah.

Asisten Manajer Program PPRBM Solo, Agustina Dewi Sita Ratih, menyebut ada sekitar 1.500 anak difabel tinggal tersebar di berbagai kelurahan di Solo. Namun, hanya 300 ABK yang terakses layanan pendidikan di sekolah.

“Di Solo anak difabel usia sekolah mencapai sekitar 1.500 anak, namun yang terakses layanan pendidikan SD sampai SMP baru sekitar 300 anak. Banyak faktor yang memengaruhi anaka difabel yang tidak terakses sekolah, bisa dari mereka sendiri atau keluarga, maupun dari pihak sekolah,” kata Sita, Selasa (1/11/2016).

Sita membeberkan sejumlah anak difabel tidak bisa berekolah karena faktor kondisi tubuh atau mental mereka yang mengalami gangguan taraf parah. Selain itu, mereka tidak mendapat layanan pendidikan juga karena faktor keluarga yang memilih menyembunyikan mereka dari lingkungan luar dengan beragam.

Dia menambahkan, faktor lain yang menyebabkan mereka belum terakses layanan pendidikan adalah datang penolakan dari sejumlah sekolah di Solo.

Sita mendorong semua sekolah di Solo bisa menerima anak difabel menjadi siswa atau peserta didik mereka. Dia menilai, mereka punya hak yang sama dengan anak-anak pada umumnya.

“Memang tidak semua disabilitas bisa diterima di sekolah reguler. Yang mengalami gangguan berat harus belajar di sekolah khusus. Kalau di Solo, tidak diterapkan sekolah khusus. Semua sekolah harus menerima anak difabel. Kami berharap itu benar-benar dilakukan pihak sekolah. Kami juga mendorong pihak keluarga untuk terbuka demi kebaikan mereka,” tutur Sita.

Bendahara Tim Advokasi Difabel (TAD) Solo, Toto Sumakno, mengatakan TAD siap memberikan dukungan untuk membuka kesempatan anak difabel mendapat layanan pendidikan di sekolah reguler. Dia menyampaikan, sudah menjadi kontribusi TAD untuk mendorong kelompok difabel mendapatkan akses sesuai kebutuhan.

To Top