Pendidikan

Ini Cara Unik Pengawas Sekolah di Maros Atasi Rendahnya Kapasitas Kepsek

MAROS, EDUNEWS.ID – Pengawas sekolah di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel) memiliki cara unik untuk mengatasi rendahnya kapasitas kepala sekolah. Kepala diorganisir bersama-sama untuk mengawasi satu guru saja pada jadwal yang sudah ditentukan bersama.

“Banyak guru setelah diawasi malah protes dengan nilai yang diberikan. Hasil penilaian supervisi kepala sekolah sering tidak konsisten.  Kebanyakan karena supervisor atau kepala sekolah sendiri tidak mengetahui secara persis aspek-aspek yang dinilai dalam supervisi, misalnya saja mereka kurang mengetahui aspek yang dinilai pada pokok melayani perbedaan individu dan indikator-indikatornya,” ujar Nurcahaya, Pengawas Sekolah Kabupaten Maros.

Sebagai seorang pengawas yang memantau pelaksanaan kegiatan  supervisi tersebut, Nurcaya menggagas supervisi  kepala sekolah secara berkelompok yang terdiri dari dua sampai tiga orang. Selama ini supervisi dilaksanakan sendiri-sendiri.

“Dengan supervisi kelompok ini, saya berharap masing-masing individu saling bisa belajar  dan saling mengisi dalam memahami instrument-instrumen pengawasan,” ujarnya.

Gagasan Nurcaya tersebut diterima dengan baik oleh para kepala sekolah di salah satu gugus kecamatan di Turikale Maros. Mereka langsung membuat jadwal dan mengangkat ketua kelompok masing-masing. Ketua kelompok ini merupakan orang-orang yang sebelumnya pernah dilatih baik mengenai pengawasan sekolah maupun pembelajaran oleh USAID PRIORITAS, sehingga dianggap mampu menularkan ilmunya kepada yang lain.

Para kepala sekolah sebelumnya juga difasilitasi memahami instrumen yang akan digunakan dengan dipandu oleh masing-masing ketua kelompok dan ibu Nurcaya sebagai pengawas menjadi nara sumber. Mereka mendiskusikannnya hingga semua indikator yang akan diamati terpahami secara baik oleh masing-masing kepala sekolah.

Sesuai jadwal, mereka kemudian melakukan pengawasan satu guru di satu sekolah secara bersama dengan menggunakan instrumen yang sama pula. Setelah pengamatan selesai, kelompok tersebut menganalisis secara bersama hasilnya dan membuat kesimpulan serta rekomendasi dari obyek yang sama pula untuk menyusun program perbaikan kualitas pembelajaran berikutnya.  Analisis dan refleksi ini dilakukan di sekolah.

Selanjutnya hasilnya diteruskan kepada guru yang bersangkutan. Refleksi juga dilakukan di kelompok besar MKSS dengan melibatkan pengawas, yang memberikan penguatan lebih lanjut. Dengan refleksi di MKKS, maka semua kepala sekolah juga mendengar, bisa ikut belajar dan memberi masukan.

Ternyata dengan cara demikian, kapasitas mengawasi dan membina guru oleh kepala sekolah naik dengan pesat. Ini terbukti dengan kemampuan mengoperasionalisasikan penilaian dengan lebih detail dan terperinci. Mereka juga mencatat fakta-fakta pembelajaran dengan lebih banyak.

“Hasil evaluasi  menunjukkan mereka sangat puas dengan kegiatan ini dan bahkan berharap sebenarnya kegiatan seperti ini dilakukan  sejak dulu, supaya nilai mereka lebih meningkat dalam UKKS dan lebih bisa meningkatkan kapasitas guru,” ujar Nurcaya.

To Top