Pendidikan

Sulit Transportasi, Siswa-siswa SMP ini Bertaruh Nyawa di Atas Mobil Truk

Para siswa SMPN Satu Atap Gemarang, Kabupaten Madiun, menaiki truk yang melewati tikungan.

MADIUN, EDUNEWS.ID – Akses transportasi masih menjadi masalah utama pendidikan di kawasan Lereng Wilis. Susah payah berangkat dan pulang sekolah menjadi makanan sehari-hari pelajar tangguh di SMPN Satu Atap Gemarang, Kabupaten Madiun. Demi sampai ke sekolah, setiap pagi 30 anak diangkut dengan truk milik sekolah. Setiap hari mereka berlarian menghampiri truk kuning bernopol AG 8913 D tersebut.

Selain berebut duduk di bangku depan samping sopir, mereka biasa berebut naik ke bak truk dari sisi samping kanan-kiri dan belakang. Bahkan, murid perempuan yang mengenakan rok harus memanjat bak truk demi terangkut ke sekolah.

“Sudah biasa. Setiap hari memang begini (naik truk, Red),” kata Ninik Anisa, siswi kelas VIII.

Dua tahun sudah Ninik dan puluhan siswa lainnya menjadikan truk sebagai bus sekolah. Yang mengagumkan, sama sekali tak terlihat raut malas dan malu dari wajah-wajah pencari ilmu itu. Meskipun jarak yang ditempuh dari kampung halaman ke sekolah lebih dari 5 kilometer.

“Di rumah tidak ada kendaraan,” imbuh gadis 14 tahun tersebut.

Bahkan, Ninik dan puluhan siswa itu masih harus melewati jalan setapak untuk sampai ke jalan desa. Mereka berjalan 10 menit di jalanan yang becek setelah diguyur hujan. Mereka juga harus menyiapkan kresek ketika tiba-tiba turun hujan.

“Tidak apa-apa bajunya basah, yang penting bukan buku pelajaran,” ucap siswi yang bercita-cita sebagai guru tersebut.

Jantung Ninik deg-degan saat kali pertama naik ke kendaraan muatan itu. Sebab, dari atas bak truk, dia harus menyusuri jalanan Lereng Wilis yang berkelok-kelok naik-turun dengan jurang di sisi kanan dan kiri. Namun, kini dia menganggap perjalanan pulang-pergi sekolah sebagai sensasi pemacu adrenalin.

“Sudah terbiasa soalnya,” katanya.

Hal serupa diutarakan Susanto, siswa lainnya. Remaja 14 tahun tersebut mengaku deg-degan ketika truk yang ditumpanginya melewati jalan berkelok. Namun, dia malah bersyukur. Sebab, dengan truk itulah dia bisa tetap bersekolah.

“Kalau truknya tidak datang karena mogok, ya terpaksa tidak sekolah,” tuturnya.

Susanto tak pernah mengeluh jika dirinya harus berpanas-panasan sepanjang perjalanan. Dia pun rela basah kuyup jika hujan turun sewaktu-waktu. Hanya truk itulah yang diandalkannya untuk mengenyam bangku pendidikan.

“Ini sekolah yang paling dekat. Sekolah lain belum tentu menyediakan truk seperti ini,” ujarnya.

Sopir truk sekolah, Bali Prasetyo, mengaku menjemput dan memulangkan siswa-siswi tersebut selama dua tahun terakhir. Bahkan, dia rela meninggalkan urusannya di rumah demi menjalankan tugas mulia itu.

“Awalnya, saya juga takut membawa puluhan siswa. Jalannya menanjak dan menikung,” ungkap pria 19 tahun tersebut.

Dia melanjutkan, truk kerap mogok saat melintasi jalan yang menanjak. Jika sudah begitu, dia harus segera menghubungi kepala SMPN Satu Atap Gemarang agar mengirimkan mobil bantuan.

“Kalau sampai rem blong, habislah kami. Makanya, sebulan sekali truk harus rajin dicek ke bengkel,” katanya.

Menjadi sopir memberikan kesan tersendiri bagi warga Desa Tumpakasri, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun, itu. Dia pun tak terlalu mempersoalkan upah Rp 50 ribu yang diterimanya sekali jalan. Dia juga harus sabar menunggu siswa pulang.

“Paling asyik melihat anak-anak yang berebut duduk di kursi depan. Awalnya bertengkar, tapi tetap ada satu anak yang mengalah,” ungkapnya.

Kini para pelajar memperoleh secercah harapan. Sebentar lagi sekolah menerima hibah satu minibus dari Pemkab Madiun. Kepala SMPN Satu Atap Gemarang Joko Mulyono mengaku beruntung karena pemkab mulai membuka mata dengan wacana pengadaan minibus merek Isuzu Elf tersebut.

“Namun, bantuannya memang baru satu unit,” tuturnya.

 

[Radar Madiun]

To Top