Pendidikan

Terapkan Pendidikan Karakter Melalui ‘Full Day School’

MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, MUHAJIR EFFENDY

LUWUK, EDUNEWS.ID – Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebduyaan (Kemendibud) berencana akan mengubah pola pendidikan di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama (SD-SMP) menjadi sekolah yang berbasis pendidikan karakter.

Untuk menerapkan pendidikan berbasis karakter tersebut, Kemendikbud akan menerapkan apa yang disebut dengan Full Day School yakni waktu pelajaran di SD dan SMP akan mencapai delapan jam dalam sepekan, namun pada hari Sabtu tidak ada jam pelajaran, sehingga hari Sabtu dan Minggu sepenuhnya dipakai untuk bertemu keluarga.

“Full day school ini adalah ciri negara maju. Saya sudah keliling berbagai negara maju, tidak ada siswa di sana yang pulang pukul 12.00 siang,” ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) saat pertemuan dengan seribu guru se-Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, kemarin (4/11/2016).

Muhajir juga mengemukakan tiga prioritas utama pendidikan di bawah kepemimpinannya yakni pertama mengatasi kesenjangan pendidikan antara mereka yang jauh dan dekat dari akses pelayanan pendidikan dengan membangun gedung dan sarana pendidikan, serta kepada mereka yang terhalang karena alasan ekonomi antara lain dengan memperluas pemberian Kartu Indonesia Pintar (KIP).

Prioritas kedua adalah revolusi mental di bidang pendidikan yakni membina karakter siswa melalui pendidikan berbasis karakter dan prioritas ketiga adalah menyiapkan tenaga kerja trampil dengan mengembangkan sekolah-sekolah kejuruan.

Menurut menteri, ada empat bidang prioritas dalam mengembangkan SMK untuk menciptakan tenaga kerja trampil yakni bidang kelautan perikanan, bidang kepariwisataan, bidang pertanian dan bidang industri kreatif.

“Pemerintah sedang menyiapkan tenaga-tenaga terampil yang bangunannya seperti gumbang dimana bagian bawahnya kecil, tengahnya besar dan atasnya kecil. Artinya, tenaga kerja yang lulusan SD-SMD itu diusahakan sekecil mungkin, lalu yang banyak adalah tenaga kerja lulusan SMU/SMK kemudian yang berpendidikan tinggi dan ahli itu lebih kecil dari yang berkualifikasi SMU/SMK,” katanya.

To Top