Mauliah Mulkin

Nenek vs Ibu

HORISON, EDUNEWS.ID – Dalam sebuah bincang-bincang ringan di media sosial, salah seorang bapak meminta saya untuk suatu waktu nanti membahas mengenai peran pengasuhan nenek dalam tulisan tersendiri. Saya segera menyanggupinya dengan sebuah janji, “Iya, insya Allah.” Karena tidak ingin berlama-lama terpasung dalam janji, juga khawatir gagasan tentang tema tersebut lenyap, maka saya tulislah tentang masalah tersebut pada kesempatan kali ini.

Meskipun judulnya “nenek vs ibu” tapi sebenarnya kata ibu di sini juga mewakili bapak atau orangtua si anak. Hanya karena khawatir kepanjangan maka cukup saya tulis ibu saja. Begitupun dengan kata nenek, yang saya maksud adalah juga kakek. Semoga lewat tulisan sederhana ini banyak yang dapat memetik manfaatnya terutama diri saya pribadi.

Dalam budaya Indonesia, kedua orangtua atau salah satu dari mereka yang biasa disapa nenek atau kakek, biasanya tinggal bersama dengan salah seorang anaknya yang sudah berkeluarga. Entah karena anaknya yang meminta tinggal menetap bersama dengan alasan sekalian menjaga cucu, atau karena nenek dan kakek yang hanya sesekali berkunjung menggilir rumah masing-masing anaknya. Namun apa pun sebabnya, kehadiran mereka di tengah-tengah keluarga inti harus tetap dihargai. Karena menghargai dan menghormati mereka adalah sebuah jalan pengkhidmatan yang sangat mulia di mata Allah.

Namun di tengah perjalanan ingin berbakti kepada mereka tidak sedikit muncul kerikil-kerikil bahkan batu kecil yang sewaktu-waktu jika tidak waspada akan membuat kita tersandung. Sesuatu yang lumrah di mana setiap orang pasti mengalaminya. Bedanya, ada yang berhasil menyingkirkannya sebelum batu tersebut mengakibatkan kita jatuh, namun ada pula yang sama sekali tidak menyadarinya atau melihatnya sebelum kejadian tersebut menimpanya. Untuk itu kita perlu meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan yang lebih dan lebih lagi agar tidak mudah tersandung dalam proses perjalanan ini.

Semakin tua semakin sensitif

Ibu saya pernah bilang sambil bercanda, orangtua yang tinggal di rumah anaknya yang sudah berkeluarga sebenarnya sangat peka perasaannya. Mungkin karena si anak yang dulunya kecil dan masih dalam ‘kuasa penuh’ orangtua sekarang sudah menggenggam kehidupannya sendiri. Sehingga orangtua jadi sangat perasa dalam banyak hal. Contoh kecil katanya, ibu atau bapak yang tanpa sebab tiba-tiba saja menendang kucing sambil marah-marah di rumah itu bisa mengakibatkan ketersinggungan pada nenek atau kakek yang sementara berada di sekitarnya saat itu. Atau orangtua mengomel atau marah pada si anak gara-gara tidak mengerjakan PR misalnya, bisa saja merembet menimbulkan kesan seolah tidak ada yang bisa diandalkan memperhatikan si anak. Dalam kasus ini orangtua dua-duanya bekerja dan si anak lebih banyak tinggal di rumah bersama nenek dan kakeknya.

Belum lagi jika kita berbicara soal metode pengasuhan anak. Di mana biasanya kakek dan nenek selalu identik dengan memanjakan cucu. Hmmm…, tapi di keluarga kami stereotip ini tidak berlaku. Justru kebalikannya, nenek lebih keras mendisiplinkan cucu-cucunya daripada orangtua si anak sendiri. Prinsip nenek (ibu saya) hitam adalah hitam, putih adalah putih. Sangat langka menemukan wilayah abu-abu.
Kembali kepada teman yang meminta saya membahas soal ini, mungkin yang ia inginkan adalah bagaimana halnya jika dalam proses pengasuhan tersebut nenek dan kakek menerapkan metode yang berseberangan. Saran saya, jika ini berulang terjadi, orangtua harus membicarakannya dengan anak, bahwa mereka sudah memiliki kesepakatan-kesepakatan sebelumnya yang tidak boleh dilanggar. Misalnya, jam menonton televisi. Karena nenek dan kakek punya waktu yang cukup banyak, ditambah lagi dengan kondisi fisik yang butuh lebih banyak istirahat, maka tontonan menjadi satu-satunya hiburan yang menyenangkan buat mereka. Anak mesti ditegasi untuk tidak ikut jadwal nonton nenek dan kakek karena alasan tersebut di atas.

Sementara pada nenek dan kakek (orangtua kita) kita dengan lemah lembut namun mengandung ketegasan mengatakan pada mereka jika anak-anak di rumah punya jadwal nonton yang berbeda. Lain soal jika orangtua sendiri memang tidak punya aturan dalam rumah tersebut. Maka wajar muncul banyak kekacauan dalam interaksi antar anggota keluarga di dalamnya.

Jadi menurut hemat saya, apa pun yang memungkinkan munculnya masalah antara kedua belah pihak di atas sedapat mungkin diantisipasi jauh-jauh hari. Jika pun hal tersebut telanjur muncul, maka tindakan bijak kita sebagai anak adalah mengomunikasikan masalah tersebut dengan metode yang baik dan tepat. Jangan sampai hati orangtua kita tersakiti gara-gara sikap dan cara penyampaian kita yang kurang bijaksana. Soal bagaimana cara berkomunikasi yang baik dan tepat sasaran, mungkin akan kita bahas pada tulisan berikutnya.

Mauliah Mulkin. Ibu Rumah Tangga. Bergiat di Kelas Literasi Paradigma Institute.

To Top