News

Atasi Krisis Air Bersih, Kementerian PUPR Siapkan Rp 34 triliun

 

 

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Kementerian Pekerjan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyiapkan dana Rp 34 triliun dari APBN 2018 untuk mengurus masalah air di Indonesia, mulai dari belasan danau yang kritis hingga penanganan banjir.

Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR, Endra S Atmawidjaja, menjelaskan ada tigas fokus Kementerian PUPR dalam menangani masalah air, yaitu penanganan air untuk pangan, penanganan air untuk industri, dan penanganan untuk sungai, danau, dan banjir.

“Jadi dana yang diambil dari APBN 2018 ini harus dibagi ke tiga fokus ini. Total anggarannya Rp 34 triliun,” katanya usai memperingati Hari Air Dunia ke-26 di Bundaran HI, Jakarta, Ahad (25/3/2018).

Kata dia, untuk penanganan sungai dan danau misalnya, saat ini ada 15 danau yang kritis, salah satunya Danau Tempe di Bali. Anggaran yang dibutuhkan untuk membersihkan eceng gondok di sana sekitar Rp 285 miliar.

Besarnya dana yang dibutuhkan karena masih banyak keramba di sekitar danau. Jika keramba belum bisa dibersihkan total, eceng gondok selalu muncul karena ada kandung protein di keramba yang menjadi makanan bagi algae.

“Tapi ini multiyears ya. 2016 kita lelang, 2017 mulai pengerjaan, hingga tahun ini progresnya baru 23% dan 2019 ditargetkan selesai,” ungkapnya.

Luas area pengerukan di Danua Tempe ini mencapai 242 hektare dengan volume pengerukan sebesar 2,87 juta m3. Revitalisasi akan menambah kapasitas volume tampungan sebesar 7,23 juta m3, dari kapasitas volume tampungan saat ini sebesar 207,66 juta m3.

Dengan bertambahnya volume tampungan akan dapat memenuhi kebutuhan air baku masyarakat di sekitar Danau Tempe, dari sekitar 23 ribu jiwa menjadi 30 ribu jiwa. Selain danau, Endea mengatakan penanagan lainnya adalah banjir. Katanya, kota-kota hampir semuanya banjir di mana hulu sungai banyak yang rusak.

“Jadi kita juga harus dibagi targetnya. Contoh lain, air pangan itu di bendungan, irigasi, itu juga kalau untuk banjir itu drainase, perbaikan sungai, tanggul. Untuk air baku itu kita alirkan ke kota, bikin penyediaan air minum. Ini semua kan penting. Baru yang terakhir pengendalian kualitas air, dari hulunya supaya enggak cepat terjadi sedimen di hulu dengan kita buat cek DAM Tapi enggak bisa semua diselesaikan karena multiyears,” katanya.

To Top