Ekonomi

Bank Indonesia Buka Ruang Naikkan Suku Bunga Acuan

 
 
JAKARTA, EDUNEWS.ID – Bank Indonesia (BI) menyatakan tidak menutup ruang untuk menaikkan suku bunga acuan, BI-7 Day Reverse Repo Rate, dari posisi saat ini di 4,25 persen. Kebijakan itu akan diterapkan apabila tekanan depresiasi rupiah terus berlanjut dan berpotensi menghambat pencapain target inflasi, serta mengganggu stabilitas sistem keuangan nasional.
“BI tidak akan ragu untuk melakukan penyesuaian BI 7-Day Reverse Repo Rate, tapi dengan kondisi bahwa perkembangan daripada nilai tukar yang dalam banyak hal adalah pengaruh kondisi global,” kata Gubernur BI, Agus Martowardojo, di Jakarta, Kamis (26/4/2018).
Dia menegaskan penaikan suku bunga acuan akan dilakukan secara hati-hati, terukur, dan mengacu pada perkembangan data terkini maupun perkiraan kondisi perekonomian ke depan.
Pada perdagangan di pasar spot, Kamis, rupiah menguat 0,22 persen dibandingkan posis i hari sebelumnya, menjadi 13.891 rupiah per dollar AS. Sebaliknya, kurs tengah BI mencatat rupiah melemah 0,3 persen ke level 13.930 rupiah per dollar AS.
Menurut Gubernur BI, depresiasi rupiah kali ini bersifat musiman karena meningkatnya permintaan valas dari dalam negeri pada triwulan II-2018, antara lain untuk pembayaran utang luar negeri, pembiayaan, impor, dan juga pembayaran dividen.
“Penguatan dollar AS ini adalah dampak dari berlanjutnya kenaikan imbal hasil US Treasury atau suku bunga obligasi pemerintah AS hingga mencapai 3,03 persen. Ini tertinggi sejak 2013,” imbuh Agus.
Sebelumnya, ekonom Universitas Islam Indonesia (UII), Suharto, menilai BI tengah menghadapi situasi “maju kena mundur kena” terkait kebijakan bunga acuan untuk meredam tekanan pada rupiah. Sebab, apabila menaikkan bunga acuan maka bunga kredit akan ikut naik sehingga meningkatkan risiko kredit macet perbankan.
“Jangan salahkan faktor eksternal melulu. Bagaimana dengan jor-joran kredit properti hingga mencapai 800 triliun rupiah. Ini sangat tidak produktif, rentan macet akibat bubble property,” ungkap dia, Rabu (25/4/2018).
Di sisi lain, lanjut Suharto, jika bunga acuan tetap dipertahankan maka rupiah berpotensi terus tertekan akibat pelarian modal atau capital outflow bakal makin deras karena negara-negara lain telah lebih dulu memperketat kebijakan moneter untuk merespons kenaikan suku bunga Bank Sentral AS.

To Top