Ekonomi

Indonesia Mesti Waspadai Dampak Perang Dagang ke Sektor Keuangan

 

 

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Sejumlah kalangan mengingatkan Indonesia mesti mewaspadai dampak perang dagang Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok ke sektor keuangan. Sebab, perang dagang tidak hanya memunculkan aksi saling balas mengenakan tarif impor produk di antara kedua negara.

Pemerintah Tiongkok sebagai pemegang obligasi pemerintah AS terbesar rupanya juga berencana mengevaluasi kepemilikannya. Hal itu dinilai berpotensi menimbulkan guncangan pada sektor keuangan global.

Pengamat perdagangan internasional dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Fithra Faisal, mengemukakan dalam jangka pendek perang dagang tersebut akan membuat sektor finansial terguncang.

Makanya, pemerintah harus bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI) sebagai pengampu kebijakan moneter untuk memperkuat sistem finansial.

“Pemerintah untuk jangka pendek harus mengantisipasi pergerakan di sektor finansial. Ada bauran kebijakan antara pemerintah selaku otoritas fiskal dan BI sebagai otoritas moneter. Pemerintah harus hadir,” ujar Fithra, di Jakarta, Ahad (25/3/2018).

Fithra menjelaskan ancaman Tiongkok untuk mengevaluasi kepemilikannya atas surat utang pemerintah AS tentu berpotensi menimbulkan keguncangan di pasar obligasi.

“Kalau itu (surat utang AS) dievaluasi dan kemudian ada keguncangan di pasar obligasi, itu akan meningkatkan prospek suku bunga internasional. Sehingga cost of finacing atau biaya untuk berusaha jadi lebih tinggi,” papar dia.

Seperti dikabarkan, Tiongkok mempertimbangkan untuk mengurangi dan bahkan menghentikan pembelian obligasi pemerintah AS atau US Treasury, menyusul kebijakan Presiden AS, Donald Trump, yang memberlakukan tarif impor kepada produk-produk Tiongkok.

Duta Besar Tiongkok untuk AS, Cui Tiankai, mengatakan sebagai respons awal atas kebijakan Trump, pemerintah Tiongkok akan mempertimbangkan berbagai opsi, di antaranya mengurangi pembelian US Treasury.

“Itu sebabnya, kami percaya setiap tindakan sepihak dan sikap proteksionis akan merugikan semua orang, termasuk AS sendiri. Itu pasti akan merugikan kehidupan sehari-hari orang-orang kelas menengah Amerika dan perusahaan-perusahaan Amerika serta pasar keuangan AS,” papar Cui, akhir pekan lalu.

Saat ini, Tiongkok adalah kreditur asing terbesar AS. Negeri Tirau Bambu itu memegang US Treasury senilai 1,17 triliun dollar AS per Januari 2018 atau sekitar 19 persen dari semua kepemilikan asing US Treasury.

Jika opsi pengurangan dan penghentian pembelian US Treasury dilaksanakan oleh pemerintah Tiongkok maka AS akan sangat terpukul. Dengan defisit anggaran yang diperkirakan akan semakin meningkat di tahun-tahun mendatang dan pemotongan pajak yang disetujui pada bulan Desember 2017 lalu, diperkirakan akan merugikan pendapatan AS.

To Top