Internasional

Filipina Nyatakan Kesiapannya Bantu AS dalam Perang Rusia, Perang Dunia Ketiga ?

Kapal Perang Rusia

JAKARTA, EDUNEWS.ID-Pemerintah Filipina menyatakan kesiapannya untuk membantu Amerika Serikat (AS) bila krisis dari serangan Rusia ke Ukraina meluas ke Asia. Hal ini dikarenakan perjanjian pertahanan yang diteken kedua negara pada 1951 lalu.

Duta Besar Filipina untuk AS, Jose Manuel Romualdez, menyebut bahwa serangan Rusia ke Ukraina merupakan hal yang salah di mata Presiden Rodrigo Duterte. Manila juga mendukung resolusi Majelis Umum PBB yang menuntut penghentian segera serangan Moskow ke Ukraina.

“Jika mereka meminta dukungan dari Filipina, sangat jelas bahwa, tentu saja, jika ada dorongan, Filipina akan siap untuk menjadi bagian dari upaya, terutama jika krisis Ukraina ini meluas ke Wilayah Asia,” kata Romualdez dalam briefing online dengan wartawan sebagaimana dilaporkan Associated Press dan Benar News, akhir pekan kemarin.

“Beri mereka jaminan bahwa jika diperlukan, Filipina siap menawarkan fasilitas apa pun atau hal apa pun yang dibutuhkan AS untuk menjadi sekutu utama kami.”

Perjanjian Pertahanan Bersama tahun 1951 sendiri mewajibkan AS dan Filipina untuk saling membantu jika terjadi serangan. Ini sendiri dibuktikan dengan bantuan Washington baru-baru ini yang diberikan kepada Manila pasca ketegangannya dengan China di Laut China Selatan (LCS).

Meski begitu, Romualdez mengatakan Manila belum berpikir untuk menjatuhkan sanksi ke Rusia seperti apa yang dilakukan negara-negara Barat pimpinan AS. Sayangnya Pejabat di Malacanang, istana kepresidenan di Manila, belum berkomentar lebih jauh.

Sementara itu, situasi di Ukraina diketahui belum menunjukkan tanda-tanda deeskalasi. Ini tercermin dari hasil pertemuan delegasi masing-masing negara pada 10 Maret lalu yang tidak menghasilkan kesepakatan konkret untuk mengakhiri perang.

CNBC Internasional menulis, negosiasi damai antara Menlu Rusia Sergey Lavrov dan Menlu Ukraina Dmytro Kuleba hanya berlangsung 1,5 jam. Dalam diskusi itu, tidak ada kemajuan yang berarti dalam pembahasan gencatan senjata maupun jalur evakuasi warga sipil dari kota Mariupol.

“Mudah karena Menteri Lavrov pada dasarnya mengikuti narasi tradisionalnya tentang Ukraina, tapi sulit karena saya berusaha melakukan yang terbaik untuk menemukan solusi diplomatik atas tragedi kemanusiaan di medan pertempuran di kota yang terkepung,” katanya.

Hingga saat ini pasukan Rusia diketahui telah melakukan serangan ke beberapa fasilitas sipil. Terbaru, rudal menyerang kota Lviv, dekat perbatasan Polandia, negara NATO.

Rusia melakukan serangan sejak 24 Februari 2022. Sedikitnya 5.000 orang tewas dalam serangan ini dan lebih dari 2,5 juta mengungsi.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com