Hukum

BNN Ungkap Dugaan TPPU Hasil Transaksi Narkoba Rp6,4 triliun

 

 

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerja sama dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengungkap dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) hingga 6,4 triliun rupiah.

Dalam operasi tersebut, BNN mengamankan tiga orang pelaku dugaan tindak pidana pencucian uang hasil transaksi narkoba.

“Pengungkapan perkara pencucian uang ini berawal saat BNN menerima laporan PPATK tentang dua transaksi mencurigakan, yakni sebesar 3,7 triliun rupiah dan 6,4 triliun rupiah,” kata Deputi Pemberantasan BNN, Irjen Arman Depari, di BNN Jakarta, Rabu (28/2/2018).

BNN pun melakukan penelaahan dan menemukan indikasi pencucian uang dan langsung melakukan pelacakan aset serta pencarian tersangka. Mereka pun berhasil mendapati tersangka utama.

BNN mengamankan tiga tersangka utama, yakni Devi Yuliana (DY), Hendri Ramli (HR), dan Fredi Heronusa (FH). Transaksi TPPU kasus narkotika ini bersumber dari jaringan Togiman, Chandra, dan kawan-kawan.

DY pernah menjadi tersangka di tahun 2016 dalam kasus judi online, sedangkan Togiman alias Toge merupakan salah satu narapidana narkoba kawakan. Ia sudah divonis dua kali hukuman mati akibat kasus narkoba.

Terakhir, ia dikabarkan mendapat vonis hakim 17 tahun penjara akibat kasus pencucian uang. Hingga saat ini, Toge belum menjalani eksekusi mati.

“Tersangka utama dalam hal ini atas nama Devi Yuliana, mempunyai identitas yang sangat banyak sekali sehingga kita sangat sulit mengidentifikasi kalau hanya dari rekening dan aset-aset yang kita temukan di lapangan,” kata Arman.

Arman mengatakan, Devi di t ang – kap pada 14 Februari 2018. Selain menangkap Devi, BNN juga menangkap dua orang lain, yakni Hendi Ramli dan Fredi Heronusa. Ketiga orang itu diduga ikut dalam kegiatan pencucian uang itu.

Sejak 2014

Arman menerangkan, para pelaku sudah melancarkan aksi sejak tahun 2014. Mereka melakukan pencucian uang dengan cara berpura-pura sebagai importir sejumlah barang di luar negeri. Para pelaku membuat sekitar enam perusahaan fiktif untuk menjalankan operasi tersebut.

Keenam perusahaan tersebut adalah PT Prima Sakti, PT Untung Jaya, PT Dik Jaya, PT Grafika Utama, PT Hoki Cemerlang, dan Rekan Sejahtera. Mereka memalsukan invoice untuk bisa bertransaksi ke bank-bank di luar negeri.

“Dari mulai tahun 2014 sampai tahun 2016 yang lalu transaksi yang mereka lakukan mencapai jumlah 6,4 triliun rupiah,” kata Arman.

To Top