Internasional

Pilih Vaksin Lokal, Pemimpin Tertinggi Iran take Percaya Buatan AS

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

EDUNEWS.ID – Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei akhirnya menerima suntikan vaksin Covid-19. Ia memilih menggunakan buatan negaranya sendiri karena tidak percaya produk Amerika dan Inggris.

Khamenei menerima suntikan vaksin COVIran Barekat dan menyebut pengembangan vaksin itu sebagai kebanggaan nasional. Ia mengatakan banyak orang sejak lama mendesaknya segera divaksin karena sudah berusia lanjut dan memiliki serangkaian masalah kesehatan.

“Saya tidak ingin menggunakan vaksin non-Iran. Saya bilang kami tunggu sampai, insya Allah, vaksin lokal itu diproduksi dan kami bisa menggunakan vaksin kita sendiri,” ujarnya dikutip dari Al Jazeera, Sabtu, 26 Juni 2021.

Khamenei pada Januari melarang Iran menggunakan vaksin buatan Amerika Serikat dan Inggris, terutama yang dikembangkan oleh Pfizer dan Moderna, karena dia mengatakan mereka tidak dapat dipercaya.

Uji coba vaksin COVIran Barekat pada manusia dimulai pada akhir Desember dan sekitar 24 ribu sukarelawan menerima suntikan sebagai bagian dari uji coba fase ketiga yang baru-baru ini berakhir.

COVIran menerima otorisasi penggunaan darurat awal bulan ini dan diharapkan diluncurkan dalam skala besar dalam beberapa pekan mendatang.

Setad, organisasi di bawah pemimpin tertinggi yang bertanggung jawab mengembangkan vaksin, mengatakan pihaknya memproduksi tiga juta dosis per bulan dan segera meningkatkan produksinya menjadi 11 juta dosis per bulan untuk menjadi produsen vaksin terbesar di Timur Tengah.

Namun hingga kini data ilmiah rinci vaksin belum dipublikasikan dan tunduk pada tinjauan sejawat, pengembangnya mengklaim itu 93,5 persen efektif di antara individu 18 hingga 75 tahun dalam fase kedua uji coba manusia.

Upaya vaksinasi Iran masih tertinggal. Negara itu baru-baru ini berhasil mengendalikan gelombang mematikan keempat virus corona yang sejauh ini telah menewaskan lebih dari 83 ribu orang dan menjadikannya sebagai pandemi paling mematikan di Timur Tengah.

 

 

tmp

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top