News

Pemerintah akan Angkat Diaspora jadi PNS jika mau Pulang

 

 

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Diaspora, yakni warga Indonesia yang berkarir di luar negeri, jumlahnya cukup banyak. Tidak hanya di sektor bisnis, tetapi juga di bidang riset keilmuan. Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) tahun ini berencana mengajak pulang para ilmuan diaspora.

Bagi yang bersedia bakal dijamin menjadi PNS. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI Laksana Tri Handoko berharap tahun ini bisa memulangkan 100 sampai 200 orang ilmuan diaspora. Kebijakan teknis, khususnya terkait posisi sebagai PNS, masih dalam kajian bersama antara LIPI dengan Kementerian PAN-RB.

“Daya tariknya apa? (mereka) Mau jadi buruh di negeri orang atau jadi bos di negeri sendiri,” kata Handoko usai peluncuran Indonesia Science Expo (ISE) 2018 di kantor LIPI, Rabu (14/3/2018).

Handoko menjelaskan ketika bersedia pulang, para ilmuan diaspora bakal menjadi PNS LIPI. Kemudian diberi wahana untuk meneliti sesuai dengan minatnya. Sedangkan jika tetap di luar negeri, Handoko mengatakan ada kemungkinan hanya menjadi peneliti atau tim cadangan.

Dia menjelaskan ada sejumlah kriteria yang bakal dijadikan syarat untuk merekrut ilmuan diaspora jadi PNS. Diantaranya adalah pendidikan terakhirnya adalah S3. Kemudian diutamakan yang sudah berkarir sebagai ilmuan di luar negeri.

Handoko mengatakan pendaftarannya nanti juga tidak terlalu rumit seperti rekrutmen PNS pada umumnya. Kecenderungan selama ini peminat program ‘pemulangan’ diaspora seperti ini kurang diminati.

Meskipun ada jaminan untuk menjadi PNS. Tahun lalu saja di satuan kerja yang dipimpin Handoko, hanya menerima sepuluh orang saja. Dia mengatakan sejatinya kuotanya lebih dari sepuluh, tetapi pelamarnya tidak banyak.

“Mereka pasti mempertimbangkan. Gua akan balik kagak. Balik atau kagak,” jelasnya. Bagaimanapun juga program ini bukan paksaan. Salah satu ilmuan diaspora yang berhasil dipulangkan oleh LIPI adalah Suharyo Sumowidagdo. Lulusan program doktor di Florida State University itu sempat bekerja di Organisasi Riset Nuklir Eropa (CERN).

Nama Suharyo sempat heboh karena diberitakan berhasil memecahkan misteri Higgs boson atau partikel tuhan. Peneliti yang akrab disapa Haryo itu menuturkan alasannya bersedia pulang ke tanah air karena diberika ruang untuk terus melanjutkan risetnya.

Dia juga tergerak bahwa seorang peneliti harus mendukung upaya pemerataan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). “Sehingga tidak ada disparitas terus antara negara maju dengan berkembang,” tuturnya.

To Top