MAJENE, EDUNEWS.ID – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) terus mendorong peningkatan produktivitas dan nilai ekonomi komoditas nilam di Desa Bambangan, Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.
Kegiatan ini merupakan hibah Kementerian Pendidikan Tinggi melalui pendanaan BIMA DRTPM Tahun 2026, dengan judul “Pemberdayaan Petani Nilam Dalam Meningkatkan Produktivitas dan Daya Saing Produk Melalui Pengendalian Fusarium, Produksi Minyak Berkualitas, Diversifikasi, dan Pemasaran Digital.”
Program dilaksanakan sejak Juni hingga September 2026. Tim diketuai Isdaryanti, dengan anggota Alexander dan Muzaki dari Program Studi Pendidikan Biologi dan Informatika Universitas Sulawesi Barat.
Salah satu fokus kegiatan adalah memberikan pemahaman baru kepada petani mengenai pentingnya menjaga kesehatan dan kesuburan tanah melalui pemanfaatan mikroorganisme.
Ketua Tim Pengabdian, Isdaryanti menjelaskan bahwa tanah bukan sekadar tempat tanaman tumbuh, tetapi merupakan ekosistem yang di dalamnya terdapat mikroorganisme yang berperan penting dalam membantu menyediakan unsur hara bagi tanaman.
“Selama ini kita meminta tanah untuk terus menghasilkan tanaman, tetapi kita juga harus merawat tanah tersebut. Mikroba tanah merupakan bagian penting dari kehidupan tanah karena membantu menyediakan unsur hara bagi tanaman,” kata Isdaryanti.
Dalam pelatihan tersebut, masyarakat mengaku belum pernah melakukan upaya khusus untuk mengembalikan kesuburan tanah. Jika lahan mulai dianggap tidak subur, petani biasanya meninggalkan lahan tersebut dan membuka lahan baru. Bahkan, lahan yang ditinggalkan tersebut terkadang baru digunakan sekitar dua tahun.
Tim kemudian memperkenalkan cara sederhana dan murah untuk menjaga kesuburan tanah, salah satunya dengan menyediakan bahan organik sebagai sumber makanan bagi mikroorganisme. Tanaman kering dapat dimanfaatkan dan dicampurkan ke dalam tanah menggunakan alat sederhana, kemudian dilanjutkan dengan aplikasi mikroorganisme.
Salah satu contoh yang diperkenalkan kepada masyarakat adalah EM4. Pendekatan tersebut diharapkan dapat mengubah kebiasaan petani dari membuka lahan baru ketika tanah mengalami penurunan kesuburan menjadi melakukan pengelolaan dan pemulihan kualitas tanah secara berkelanjutan. Selain itu, penerapan tersebut dengan menambahkan bahwa seperti puntung rokok dan bawang putih serta serai dapat berfungsi ganda sebagai biopestisida.
Minyak Nilam Diolah Menjadi Produk Bernilai Tambah
Tidak hanya fokus pada budidaya, tim Unsulbar juga mendampingi masyarakat dalam meningkatkan nilai tambah minyak nilam. Sebagai desa penghasil nilam, masyarakat diperkenalkan pada berbagai peluang pengembangan produk turunan minyak nilam, antara lain sabun antimikroba, minyak gosok Mandar, dan aromaterapi.
Pelatihan tersebut bertujuan membuka wawasan masyarakat bahwa minyak nilam tidak harus selalu dijual sebagai bahan baku, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk jadi yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
“Potensi nilam di Bambangan cukup besar. Karena itu, masyarakat perlu didorong agar tidak hanya menghasilkan minyak, tetapi juga mampu mengolahnya menjadi produk yang lebih bernilai dan memiliki pasar yang lebih luas,” jelas Isdaryanti.
Libatkan Anak dan Cucu Petani dalam Pemasaran Digital
Tahapan berikutnya adalah penguatan kemasan dan pemasaran produk. Anggota tim, Muzaki, secara khusus mendampingi masyarakat dalam memanfaatkan teknologi digital dan Artificial Intelligence (AI) untuk membantu desain kemasan serta pemasaran produk.

tim Unsulbar juga mendampingi masyarakat dalam meningkatkan nilai tambah minyak nilam.
AI diperkenalkan sebagai alat bantu untuk menghasilkan ide desain, identitas produk, materi promosi, dan konten pemasaran yang dapat digunakan pada media sosial maupun platform penjualan online.
Menariknya, tim juga mengajak anak dan cucu anggota kelompok tani untuk ikut terlibat dalam proses pemasaran. Langkah ini dilakukan karena generasi muda dinilai lebih dekat dengan teknologi digital sehingga dapat membantu orang tua mereka memasarkan produk secara online.
“Kami mengajak anak dan cucu petani untuk ikut membantu. Orang tua memiliki pengalaman dalam menghasilkan produk, sementara generasi muda dapat membantu dari sisi teknologi dan pemasaran digital. Kolaborasi ini diharapkan dapat membuat usaha masyarakat lebih berkelanjutan,” ujar Muzaki.
Dengan pendekatan tersebut, program pengabdian tidak hanya menyasar peningkatan produksi, tetapi juga membangun keterhubungan antara petani, generasi muda, teknologi, dan pasar.
Masyarakat Harapkan Program Berlanjut
Pemerintah Desa Bambangan menyambut baik kegiatan pengabdian tersebut. Pihak desa menilai program ini memberikan pengetahuan baru bagi masyarakat, khususnya mengenai pemanfaatan mikroorganisme tanah, pengolahan minyak nilam, diversifikasi produk, serta pemasaran digital.
Ketua mitra berharap program serupa dapat terus dilaksanakan setiap tahun sehingga masyarakat memperoleh pendampingan secara berkelanjutan.Tim Unsulbar juga berharap dukungan pemerintah desa dan masyarakat terus diberikan agar pendampingan dapat dikembangkan pada tahap berikutnya dan menjadi dasar pengajuan program pengabdian lanjutan.
Puncak kegiatan dilaksanakan pada 17 Agustus 2026 melalui kegiatan bersama masyarakat yang kemudian ditutup dengan sesi foto bersama.
Melalui program tersebut, Universitas Sulawesi Barat berupaya mendorong Desa Bambangan tidak hanya dikenal sebagai penghasil nilam, tetapi juga mampu menghasilkan produk olahan nilam yang berkualitas, memiliki kemasan menarik, dipasarkan secara digital, dan mempunyai daya saing lebih tinggi. (rls/tim)

