SAMPEAN

Senjakala Pe(kerja) Bahasa

Oleh: Sampean*

SKETSA, EDUNEWS.ID – Betapa mulianya kerja bahasa menghidupkan kata-kata, membenih kehidupan sejak di pikiran. Kerja bahasa bukan sekadar lihai bermain kata, meyakinkan orang. Tapi, kerja bahasa bagaimana merawat bahasa dari ujung lidah sampai menghidupkan teks. Bekerja bahasa berarti berusaha menafsir, menjaga, bernarasi, dan mendaur kembali teks-teks yang lampau untuk saat ini dan meneropong masa depan.

Jika bahasa sebagai kerja yang inheren pada tubuh manusia. Maka, setiap manusia pekerja bahasa. Kerja bahasa tidak sekadar bertutur. Tapi, juga termasuk laku manusia. Kemuliaan budi manusia ketika dia mampu memuliakan dirinya dengan menghidupkan bahasa. Menghidupkan bahasa berarti menghidupkan dirinya dari lingkup semesta bahasa. Semesta bahasa mencakup semua lini kehidupan manusia mulai dari mikrokosmos maupun mikrokosmos.

Menghidupkan bahasa melalui membaca, menulis, dan menutur. Membaca berusaha menyerap sari kehidupan dari lingkup semesta bahasa, alam sekitar kita. Membaca mendayakan tubuh panca indra manusia; merasa, menyerap, mendengar, mencecap, dan membaui kehidupan. Membaca merawat ingatan, menjaga rasa, dan menumpuk keresahan. Sementara, menulis menjenguk ingatan dari kehampaan dan keresahan. Menulis menjaga nurani dari kejujuran, menghentikan waktu dari masa lalu, dan mengasah mata baca dari kelupaan. Menutur mengabarkan kehidupan dari semesta bahasa. Dari yang terbaca, tertulis rampung di penuturan. Itulah ihwal memuliakan bahasa, memuliakan kehidupan. Gerak tubuh kita senantiasa menutur mengabarkan berita kehidupan, tubuh kita yang senantiasa bergerak dan mendaur kembali kehidupan untuk dinarasikan.

Gerak tubuh kita harus menjaga ritme penghidupan, menguatkan fondasi masa depan. Sekali waktu gerak tubuh kita harus menyebarkan bacaan, berbagi sabda petuah. Para pekerja bahasa di negeri ini sedang berdiaspora menjaga bahasa dengan mendatangi para sumber pembaca. Sebab, di negeri ini bukanlah orang-orang yang malas membaca. Tapi, sumber bacaan yang sulit diakses. Boleh kita berkaca dari sepak terjang Ridwan dan pustaka kudanya mengedarkan bacaan di kaki gunung Slamet. Dia disambut antusias oleh anak-anak dan orang-orang haus bacaan. Gerakan literasi di negeri ini telah berdiaspora di mana-mana, di Kampung Inggris Pare, Kediri, Jawa Timur, Rumah Anak Bangsa (RAB) tampil beda dengan mempelajari bahasa Indonesia, mengenalkan literatur, dan mengeja kata, mengenalkan budaya seluruh nusantara.

Di Makassar ada Paradigma Institute dan Katakerja mengawani anak-anak muda membaca dan menulis. Solo, ada Bilik Literasi menjaga nafas anak-anak muda mencintai buku-buku, mendongeng, dan berbagi cerita. Di Yogyakarta apalagi, mereka para pencumbu kata dan hidup dalam tumpukan ilmu, bertebar bekerja bahasa; ada Komunitas Belajar Menulis (KBM), Radio Buku, Rumah Baca Komunitas, dan Social Movement Institute (SMI) dan banyak lagi. Diaspora ini adalah para pencipta peristiwa yang berusaha menyangkal kenyataan bahwa rakyat Indonesia malas membaca (Kompas, 7/09/2016).

Ketika komunitas-komunitas ini mencipta realitas, menabuh perang terhadap kebodohan. Berusaha membungkam asumsi minat baca rendah dari UNESCO menempatkan Indonesia nol baca buku atau seribu anak Indonesia hanya satu orang yang menamatkan satu buku dalam setahun di Indonesia (Kompas, 18/08/2016). Tentu, kenyataan ini sangat pahit bagi para pekerja bahasa. Mereka masih butuh kerja keras mengadabkan minat baca di negeri ini. Jalan panjang penggerak literasi harus ditempuh dengan mendatangi daerah-daerah terpencil yang tidak mengakses bacaan.

Jika komunitas-komunitas ini bekerja membudidayakan aksara di luar lembaga formal. Boleh kita menoleh ke dalam jantung pemangku kebijakan dan pengembang amanah aksara. Pemerintah dan lembaga pendidikan kita, mereka penentu kebijakan dan pabrik pikiran manusia. Pemerintah penyelenggara negara menjamin pendidikan warganya, dan pendidikan sudah selayaknya harus bersifat adil dan mencipta generasi aksara, bukan manusia maniak kerja. Di lembaga pemerintahan dan pendidikan kerja bahasa mengalami menopause dini.

Menopause Dini Kerja Bahasa
Berharap masa depan kerja bahasa pada pemerintah dan pendidikan seolah mengalami pemberhentian menstruasi sejak dini. Gerak langkah penjaga bahasa dihentikan dengan membakar buku-buku, membuang karya-karya mahasiswa, membubarkan lapak bacaan, dan membubarkan diskusi. Ini ironi di negeri ini, atas nama masa lalu daya kritis dan nalar keingintahuan dibungkam dengan penghilangan sumber bacaan dan pelarang aktivitas pencerahan.

Ketidakpedulian pemerintah terhadap aksara dan pekerja bahasa di negeri ini ditunjukkan dengan pengabaian keberadaan gudang penyimpangan dokumentasi pusat dokumentasi sastra HB Jassin (PDS HB Jassin) di Kompleks taman Ismail Marzuki. Dokumentasi dan arsip dalam PDS HB Jassin dibiarkan berserak begitu saja. alokasi dana pemeliharaan dan perawatan pemerintah tidak cukup. 188 juta hanya untuk menggaji pegawai selama tujuh bulan di bawah standar upah gaji minimun Jakarta (Kompas, 18/09/2016).

Kompas menunjukkan data tahun 2011 Koleksi PDS HB Jassin melingkupi 33.125 judul buku fiksi, 17.352 judul non-fiksi, 575 judul buku referensi, 246 judul majalah, 797 judul buku drama, 4000 map foto pengarang, 779 foto peristiwa sastra, 17.357 map klipping sastra dan budaya, 1789 judul skripsi dan disertasi, 500 judul makalah, 900 rekaman suara, 60 buah vidio rekaman (Kompas, 18/09/2016). Angka-angka ini cukup disayangkan untuk ditelantarkan dan dihancurkan. Dalam gudang itu menyimpang harta besar dalam mencerdaskan masa depan bangsa ini. Pada PDS HB Jassin, nafas ingatan manusia dijaga untuk menyediakan asupan gizi pengetahuan bagi anak-anak Indonesia.

Tindakan pemerintah dengan penggerak literasi terlihat sangat kontras. Jika pemerintah melakukan pengabaian terhadap pustaka, justru para penggerak literasi berjibaku menyediakan pustaka yang berkualitas bagi pembaca. Rendahnya bacaan yang berkualitas pada pembaca tentunya mempengaruhi kualitas hasil bacaan. Hal tersebut dipengaruhi oleh kualitas pendidikan kita dalam memproduksi intelektual, akademikus, dan cendekiawan.

Ketidakefektifan pendidikan dalam memproduksi intelektual, akademikus, dan cendekiawan sebagai pekerja teks perlu dipertanyakan kembali. Sekitar 5.133 orang profesor minim publikasi (Kompas, 06/11/2015). Bahkan, data yang dirilis kompas (20/092016) peneliti Indonesia paling kecil di antara negara G-20 hanya 89 orang peneliti dari satu juta penduduk Indonesia. Angka-angka ini cukup memprihatinkan di institusi pemerintahan dan pendidikan kita dalam mencipta pekerja bahasa. Selayaknya, profesor dan peneliti menyediakan bacaan berkualitas bagi anak-anak bangsa ini, justru hilang ditelan kikuk akademik.

Jalan yang mesti ditempuh menyediakan pustaka berkualitas tidak perlu menunggu petuah profesor. Sebab, mereka sibuk dengan dunianya dan dirinya sendiri, pemerintah lebih asyik bermain di kursinya. Biarkan, para penggerak literasi berjibaku meretas kegelapan. Mereka adalah pejalan penembus batas formalitas, pencipta peristiwa, dan membuka selubung ratapan kaum pembela aksara. Merekalah sesungguhnya pembelajar, bukan orang-orang yang berada di lembaga pendidikan; sekolah, universitas, dan institut, yang tidak pernah membaca, menulis, dan berkarya lagi. Pada hakikat mereka pekerja bahasa yang meninggalkan harkatnya.

Sampean. Lahir di Bulukumba, 10 Februari 1989. Penulis Pernah Bergiat di Komunitas Belajar Menulis (KBM) di Yogyakarta. Alumni Sosiologi Universitas Negeri Makassar dan sementara menempuh pendidikan pasca sarjana Sosiologi Pedesaan Institut Pertanian Bogor (IPB).

To Top