Sulhan Yusuf

Sepenggal Cerita dari Marga Almaidah

Oleh: Sulhan Yusuf*

PARADIGMA, EDUNEWS.ID – Hari-hari belakangan ini, aura negeri saya diterungku suara yang saling meniadakan sesama anak negeri. Kemarahan menyingkirkan keramahan. Kebencian menghidu persendian pergaulan. Tulang-belulang penyangga negeri, berupa rahmat telah terbabat. Kerahiman pergi menjauh, seolah kembali ke rahim ibu pertiwi. Padahal, negeri saya ini, dikenal oleh dunia sebagai sepetak tanah, yang terlempar dari surga, sebagai contoh bagi manusia di bumi, tentang keindahan fauna, kecantikan flora dan kesuburan tanah. Kolamnya saja, semaksud pendakuan Koes Plus, diibaratkan seperti kolam susu, tanahnya tanah surga, maka tongkat kayu dan batu jadi tanaman.

Kegaduhan yang melanda negeri saya, bak gelombang tsunami keterpurukan martabat, yang menghantam jiwa. Martabak pun enggan dinikmati raga. Jiwa terpuruk, raga tersuruk. Sekotah keadaan itu bermula, tatkala negeri saya yang terdiri dari 30 wilayah, 114 marga, ada satu marga negeri, yang terkena sorotan, marga Almaidah, yang merupakan marga ke-5 dari susunan marga negeri. Marga Almaidah sendiri, mempunyai keturunan sebanyak 120 anak. Tetiba saja marga Almaidah ini populer, gegara ada satu anak, yang menjadi objek perbincangan seluruh penjuru mata angin negeri, yakni anak yang ke-51.

Pada akte kelahiran anak yang ke-51 ini, tercantum jati dirinya, yang berbunyi, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

Pangkal soal sehingga anak ke-51 ini menuai popularitas, sebab ia digunakan sebagai landasan pijak untuk memilih pemimpin. Perdebatan mengemuka, dikarenakan anak ini diajak untuk menilai, pantas tidaknya seeorang yang berbeda keyakinan, untuk mengangkat seorang pemimpin. Maka tak ayal lagi, si anak tereret dalam arus perdebatan, yang makin hari makin menjurus pada pertikaian. Sebab, ada yang menganggap anak ini tidak pantas dijadikan sebagai landasan untuk menentukan pemimpin, sementara di pihak lain, justru kelahiran anak ini, tujuan utamanya untuk menetapkan kualifikasi seorang pemimpin, terutama dalam kaitannya dengan perbedaan keyakinan agama. Dan, akibatnya lebih jauh, saling hina, saling benci, saling musuhan dan saling ancam, telah menjadi rutinitas sehari-hari anak negeri, baik di dunia nyata, terlebih lagi di dunia maya.

Ternyata, popularitas anak ke-51 satu ini, menimbulkan keresahan di dalam marga Almaidah. Setidaknya, ada beberapa anak lain yang minta juga untuk diperkenalkan, untuk tidak mengatakan dipopulerkan, agar bukan saja hanya anak ke-51 ini yang menguasai jagat pemikiran anak negeri, yang akibatnya anak negeri mulai memasuki arus perpecahan, karena telah saling benci. Unjuk rasalah anak yang ke-8, yang sari dirinya tertulis di akte kelahirannya, “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kalian sebagai para penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencian (kalian) terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena (adil) itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Mahateliti terhadap apa yang kalian kerjakan.”

Tidaklah cukup sekadar peringatan pentingnya mencabut kebencian pada diri, agar berlaku adil, sebagaimana keinginan anak ke-8. Angkat bicaralah anak yang ke-105, yang saat kelahirannya diberi identitas diri dengan pernyataan,” Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu; (karena) orang yang sesat itu tidak akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu semua akan kembali, kemudian Dia akan menerangkan kepadamu apa yang kamu kerjakan.”

Sungguh tak terkira, seandainya durasi cerita ini diperpanjang, maka satu persatu anak-anak dari marga Almaidah ini, yang berjumlah 120 itu, ingin menunjukkan dirinya masing-masing, agar marga Almaidah dikenal secara komprehensip, dan bukan hanya anak ke-51 itu, yang menghegemoni jagat pemikiran anak negeri. Bahkan, lebih dari itu, perlu pula mengenal marga-marga lain, yang berjumlah 114 marga yang menghuni negeri ini. Sebab, antara marga yang satu dengan marga lainnya, pun masih memiliki pertalian darah yang sangat kuat, karena saling menjelaskan dan melengkapi, bukan saling meniadakan.

Sekadar permisalan saja, saya ambilkan tutur dari anak 125, dari marga Annahl, yang mendesak juga untuk didaras, agar kegaduhan negeri kembali menjadi tentram, yang menurut aktenya tertulis, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan penuh hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”

Anak yang satu perlu didukung oleh anak yang lain, begitu juga marga yang satu dengan lainnya, mestinya dipandang sebagai satu kesatuan penghuni negeri yang utuh. Soalnya, terlalu beresiko, jikalau negeri yang amat luas wilayahnya, hanya yang dikedepankan, seorang anak yang ke-51 dari salah satu marga, Almaidah. Pastilah tidak memadai untuk mengurus negeri yang merupakan sepetak tanah, yang terlempar dari surga.

Sulhan Yusuf. Pegiat Literasi. Koordinator Kelas Inspirasi Sulsel.

To Top