JAKARTA, EDUNEWS.ID– Awan mendung menyelimuti Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan sesi perdagangan hari ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terhempas ke zona merah, mencatatkan pelemahan signifikan sebesar 1,21% yang membawa indeks parkir di level 8.294,22.
Koreksi tajam yang menembus angka satu persen ini menjadi sinyal kuat bahwa para pelaku pasar sedang dalam mode wait and see. Tekanan jual yang merata di berbagai sektor dipicu oleh kombinasi sentimen negatif, mulai dari isu pembatalan tarif Amerika Serikat hingga kekhawatiran akan eskalasi konflik global yang kian memanas.
Badai di Lapis Mid-Small Caps
Pelemahan IHSG kali ini diperparah oleh rontoknya harga saham di kelompok lapis menengah dan kecil (mid-small caps). Beberapa emiten bahkan mencatatkan penurunan hingga menyentuh batas bawah, memberikan tekanan ekstra pada pergerakan indeks secara keseluruhan.
Berikut adalah daftar emiten yang masuk dalam jajaran Top Losers pada perdagangan kali ini:
| Kode Emiten | Harga Terakhir (Rp) | Persentase Penurunan | Nilai Transaksi |
| RMKO | 740 | -14,94% | Rp 44,59 Miliar |
| INDS | (Data Terkoreksi) | -14,90% | (Variasi) |
| ASPR | (Data Terkoreksi) | -13,89% | (Variasi) |
| APLI | (Data Terkoreksi) | > -10% | (Variasi) |
| KOCI | (Data Terkoreksi) | > -10% | (Variasi) |
RMKO Pimpin Daftar Pelemahan
Berdasarkan data pasar, saham PT Royaltama Mulia Tbk (RMKO) menjadi “korban” terdalam dengan koreksi mencapai 14,94% ke level Rp 740 per lembar saham. Tak main-main, aksi jual ini dibarengi dengan nilai perputaran transaksi yang cukup masif, yakni sebesar Rp 44,59 miliar.
Menyusul di belakangnya, saham PT Indospring Tbk (INDS) dan PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) juga mengalami penyusutan harga yang dalam, masing-masing terdepresiasi sebesar 14,90% dan 13,89%.
Emiten lain seperti APLI, KOCI, SSTM, dan ASLI pun tidak luput dari aksi ambil untung dan tekanan jual, di mana semuanya mencatatkan penurunan di atas 10%. Variasi nilai transaksi pada saham-saham ini menunjukkan bahwa kepanikan pasar terjadi secara merata, baik pada saham dengan likuiditas kecil maupun menengah.
Situasi ini mencerminkan tingginya sensitivitas pasar modal Indonesia terhadap isu geopolitik. Investor disarankan untuk tetap waspada dan memperhatikan level support psikologis IHSG selanjutnya guna mengantisipasi kelanjutan tren bearish dalam jangka pendek. (*)
