JAKARTA, EDUNEWS.ID – Kabar baik bagi lingkungan datang dari industri energi. Sepanjang tahun 2025, penggunaan energi ramah lingkungan seperti tenaga surya (matahari) dan angin di Asia melonjak drastis. Efeknya luar biasa: penggunaan bahan bakar fosil (seperti batu bara dan gas) mengalami penurunan terbesar di abad ini.
Laporan terbaru dari lembaga riset energi dunia, EMBER, mencatat bahwa pembangkit listrik tenaga surya menjadi pahlawan utama. Di Asia, pertumbuhan energi bersih ini mampu memenuhi hampir seluruh (94%) kenaikan kebutuhan listrik masyarakat.
Selama puluhan tahun, Asia sangat bergantung pada bahan bakar fosil yang memicu polusi. Namun, data tahun 2025 menunjukkan perubahan besar. Penggunaan bahan bakar fosil di Asia turun 0,9%. Selain itu, untuk pertama kalinya di abad ini, dua negara raksasa ini secara bersamaan mengurangi penggunaan energi fosil mereka. Sementara disisi lain,pProduksi listrik dari matahari di Asia naik 36% hanya dalam satu tahun.
Bukan hanya negara besar, negara tetangga juga mulai tancap gas. Pakistan mencatat pertumbuhan tenaga surya sebesar 84%, bahkan kini mereka masuk dalam jajaran 12 besar produsen tenaga surya dunia, melampaui Prancis dan Belanda.
Sementara itu, Thailand juga tak mau kalah dengan peningkatan produksi listrik matahari sebesar 72%.
Direktur Eksekutif Ember, Aditya Lolla, menyebutkan bahwa tenaga surya adalah kunci perubahan. Apalagi jika nantinya digabungkan dengan teknologi baterai raksasa, listrik bersih bisa tersedia siang dan malam.
“Asia memimpin dalam penambahan kapasitas tenaga surya. China, India, Jepang, dan Korea Selatan adalah pemain besar dunia, dan negara Asia lainnya mulai menyusul dengan cepat,” ujar Aditya.
Meski trennya positif, tantangan besar masih menanti. Dr. Dinita Setyawati, Analis Energi Senior dari EMBER, mengingatkan bahwa infrastruktur kita harus siap.
“Ke depan, investasi untuk memperkuat jaringan listrik dan tempat penyimpanan (baterai) sangat penting. Ini agar energi terbarukan yang jumlahnya naik-turun tergantung cuaca bisa dimanfaatkan secara maksimal,” jelasnya.
Dengan tren ini, impian untuk menghirup udara yang lebih bersih di kawasan Asia tampaknya bukan lagi sekadar angan-angan, melainkan sudah mulai berjalan di jalur yang tepat (*/rls)
