JAKARTA, EDUNEWS.ID — Keputusan Pertamina menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green 95 sempat memicu kekhawatiran publik. Pasalnya, kenaikan harga yang cukup signifikan memunculkan kekhawatiran terjadinya fenomena migrasi konsumen secara massal ke Pertalite yang harganya tetap stabil di angka Rp 10.000 per liter.
Merespons dinamika tersebut, Pertamina Patra Niaga memastikan bahwa distribusi dan stok Pertalite di seluruh jaringan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Indonesia tetap aman dan tersedia.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M. V. Dumatubun, menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan mitigasi melalui pemantauan ketat di lapangan.
“Pertamina Patra Niaga terus melakukan pemantauan secara real-time terhadap kondisi stok dan penyaluran BBM di seluruh wilayah agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi dengan baik,” ujar Roberth dalam keterangan tertulisnya, Jumat (12/6/2026).
Jamin Pasokan
Di tengah potensi lonjakan permintaan, Pertamina mengklaim telah mengaktifkan respons cepat untuk wilayah-wilayah yang membutuhkan penambahan pasokan. Dukungan infrastruktur energi yang tersebar dari Sabang hingga Merauke menjadi tulang punggung untuk menjaga agar rantai distribusi tidak terputus.
Roberth menambahkan bahwa Pertamina Patra Niaga tetap berkomitmen menjalankan penyaluran BBM subsidi sesuai dengan regulasi dan ketentuan yang telah ditetapkan pemerintah.
“Pertamina Patra Niaga akan terus menjalankan tugas penyaluran energi dengan optimal serta memastikan ketersediaan Pertalite bagi masyarakat tetap terjaga. Kami mengimbau masyarakat agar bijak membeli BBM sesuai kebutuhan dan peruntukan, serta jenis kendaraan yang digunakan,” imbuhnya.
Alasan di Balik Penyesuaian Harga
Kebijakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang berlaku saat ini memang tergolong tajam. Harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter, sementara Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, menjelaskan bahwa langkah sulit ini terpaksa diambil sebagai respons terhadap gejolak harga minyak dunia yang dipicu oleh dinamika geopolitik di Timur Tengah. Lonjakan harga hingga 32 persen tersebut disebut telah melalui pertimbangan panjang, termasuk kalkulasi mengenai daya beli masyarakat.
“Kami memahami bahwa setiap penyesuaian harga tentu menjadi perhatian masyarakat,” ujar Simon melalui pernyataan video, Kamis (11/6/2026).
Antisipasi Migrasi Konsumen
Kekhawatiran publik mengenai migrasi konsumen ke Pertalite menjadi tantangan tersendiri bagi Pertamina. Jika tidak dikelola dengan baik, lonjakan permintaan Pertalite bisa mengganggu stabilitas suplai yang telah diatur berdasarkan kuota pemerintah.
Dengan adanya jaminan dari Pertamina Patra Niaga mengenai stok yang real-time dan jaringan distribusi yang luas, pemerintah berharap stabilitas harga dan ketersediaan BBM subsidi dapat tetap terjaga di tengah fluktuasi harga energi global yang masih sulit diprediksi. (*)
