JAKARTA, EDUNEWS.ID – Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara terbuka mengumumkan bahwa negaranya kini telah resmi memasuki fase perang total “skala penuh” melawan Amerika Serikat. Konflik terbuka tersebut dipastikan tidak lagi terbatas pada aspek militer, melainkan telah merambah luas ke arena perekonomian nasional.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan Pezeshkian di hadapan jajaran Dewan Yudisial Tertinggi Iran pada Senin (19/7). Ia menegaskan bahwa pertempuran saat ini telah bergeser dari sekadar adu kekuatan rudal menuju perebutan ketahanan ekonomi rakyat.
“Kenyataannya adalah bahwa saat ini Republik Islam Iran terlibat dalam perang skala penuh. Perang saat ini bukan hanya perang rudal, musuh telah menyimpulkan bahwa mereka tidak dapat memaksa rakyat Iran untuk menyerah melalui serangan militer,” ujar Pezeshkian, mengutip kantor berita resmi IRNA.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa lini ekonomi dan mata pencaharian masyarakat kini menjadi front terpenting dalam konfrontasi geopolitik melawan Washington.
Ancaman Tekanan Ekonomi dan Risiko Sosial
Sebagai seorang pemimpin yang kerap mewanti-wanti dampak jangka panjang dari eskalasi konflik, Pezeshkian menyoroti kerentanan domestik yang dihadapi bangsanya akibat sanksi dan tekanan eksternal. Menurutnya, pemerintah tidak boleh menutup mata terhadap beban hidup yang ditanggung oleh masyarakat kelas bawah.
“Tidak dapat diterima bagi kita untuk hidup dalam masyarakat di mana orang-orang berjuang dengan masalah mata pencaharian, pengangguran, kemiskinan, dan kesulitan,” kata Pezeshkian.
Ia juga menyampaikan peringatan keras mengenai potensi instabilitas domestik yang dapat dimanfaatkan oleh musuh. Tekanan ekonomi yang berkepanjangan dikhawatirkan dapat memicu ketidakpuasan sosial yang meluas, yang pada akhirnya berisiko menggerus modal sosial serta legitimasi publik terhadap sistem pemerintahan yang ada. (*)
