JAKARTA, EDUNEWS.ID – Ketegangan di kawasan Teluk akhirnya menunjukkan titik terang. Amerika Serikat dan Iran dikabarkan telah mencapai kesepakatan lisan untuk mengakhiri perang yang telah berkecamuk dalam beberapa bulan terakhir. Pejabat senior pemerintahan AS menyatakan bahwa kedua negara telah menyetujui rancangan teks perjanjian dan berharap kesepakatan awal dapat ditandatangani dalam waktu dekat.
Penandatanganan draf ini direncanakan berlangsung paling cepat pada Minggu (14/6/2026), dengan Jenewa, Swiss, disebut-sebut sebagai lokasi yang paling mungkin dipilih.
Poin Utama Kesepakatan
Berdasarkan rancangan nota kesepahaman yang beredar, kedua negara telah menyepakati langkah-langkah krusial untuk deeskalasi konflik. Berikut adalah ringkasan poin utama kesepakatan tersebut:
| Fokus Utama | Kesepakatan |
| Akses Wilayah | Iran akan membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran internasional. |
| Blokade | AS sepakat untuk menghentikan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. |
| Ekonomi | AS akan membuka akses terhadap miliaran dolar aset Iran yang dibekukan serta melonggarkan sanksi ekspor minyak. |
| Program Nuklir | Pembahasan mendalam terkait program nuklir Teheran akan dilakukan selama masa negosiasi 60 hari. |
Klaim Kemenangan
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengonfirmasi kemajuan perundingan tersebut melalui wawancara dengan televisi pemerintah Iran. Ia secara terbuka menyatakan bahwa hasil sementara ini menempatkan Iran sebagai pihak yang lebih kuat.
“Iran adalah pemenang perang dengan AS,” ujar Araqchi.
Di sisi lain, pejabat AS menyatakan bahwa kesepakatan ini memenuhi tujuan utama Presiden Donald Trump dan memposisikan negosiasi pada jalur yang sangat baik. Pakistan disebut memegang peran penting sebagai pihak mediator dalam perundingan yang cukup alot ini.
Isu Nuklir
Meski kesepakatan damai telah tercapai, tantangan diplomasi berikutnya adalah masalah nuklir. Washington menuntut pembongkaran program nuklir Iran dan pemusnahan cadangan uranium yang telah diperkaya tinggi. Namun, Iran menunjukkan sikap bersikeras untuk mempertahankan cadangan uranium tersebut, meskipun dalam bentuk yang telah diencerkan.
Dampak Pasar Global dan Posisi Israel
Kabar mengenai perdamaian ini disambut positif oleh pasar global. Harga minyak mentah Brent terpantau turun lebih dari 3 persen ke level terendah dalam dua bulan terakhir, sementara bursa saham dunia menguat karena optimisme berakhirnya konflik di Timur Tengah.
Namun, di tengah gelombang optimisme tersebut, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan sikap keras negaranya. Israel menyatakan tidak akan menjadi bagian dari kesepakatan tersebut dan tetap akan mempertahankan kebebasan bertindak demi menjaga keamanan nasionalnya dari ancaman yang dianggap membahayakan.
Hingga berita ini diturunkan, meski ketegangan militer masih sesekali terjadi, termasuk insiden penembakan jatuh drone bunuh diri Iran oleh pasukan AS di Selat Hormuz. Keduanya menunjukkan komitmen untuk meresmikan draf perdamaian dalam beberapa hari ke depan. (*)
