Ahmad Sahide

Catatan untuk hari lahir Prof. Irwan Abdullah

Oleh: Dr. Ahmad Sahide*

SPEKTRUM, EDUNEWS.ID – Ada banyak hal yang dilakukan oleh keluarga, kolega, teman kantor, atau seorang murid untuk memberikan momen kebahagaiaan kepada seseorang terdekatnya. Salah satu cara memberikan kebahagiaan itu adalah dengan merayakan hari ulang tahunnya (hari lahir). Pada era modernitas hari ini, yang lasim dilakukan oleh banyak orang untuk memberikan kebahagiaan kepada seseorang terdekatnya pada hari lahirnya adalah merayakan hari lahir itu dengan ‘sakralitas’ kue tar.

Tidak heran, di kota-kota besar membuka lahan bisnis dengan khusus menjual kue tar termasuk salah satu bisnis yang cukup menjanjikan. Berbeda halnya dengan di desa-desa yang mana sebagian besar masyarakatanya tidak pernah merayakan hari ulang tahunnya. Bahkan di desa-desa, banyak anak-anak atau orangtua yang ‘lupa-lupa ingat’ dengan hari lahir atau hari lahir anaknya. Itu karena perayaan hari lahir di desa bukan sesuatu hal yang mesti. Makanya tidak ada bisnis khusus menjual kue tar di desa.

Jika tidak percaya, datang dan hidup saja di desa. Saya kira fenomena ini akan kita lihat dan temukan. Tentu saja ini salah satu bagian dari kerja seorang antropolog, datang untuk mengamati kehidupan masyarakat secara langsung. Seorang antroplog kadang mengatakan, kalau berbicara tentang kehidupan kelompok masyarakat, “If you read it from the books, you know I was there.”

Kue Tar, bukan untuk Prof. Irwan

Catatan sederhana ini adalah pengganti kue tar untuk Prof. Dr. Irwan Abdullah dari cara kami, murid-muridnya, memberikan momen kebahagiaan pada hari lahirnya. Tidak elok rasanya memberikan kue tar untuk merayakan hari lahir seorang guru yang sekaligus adalah professor, bahkan professor yang namanya cukup dikenal luas di Tanah Air. Catatan pengganti kue tar ini sedikit mengulas profil Sang Guru di mata muridnya.

Baiklah, mari kita mulai membahas sosoknya. Saya mengenal Prof. Irwan sekitar delapan tahun yang lalu, seingat saya waktu itu gelar Professor sudah menghiasi depan namanya. Saat itu, Prof. Irwan Abdullah diberi amanah sebagai Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Sebagai seorang direktur, maka tentulah para mahasiswa (yang kebanyakan berprofesi sebagai dosen) akan selalu mendengar namanya jika datang berurusan dengan Sekolah Pascasarjana (SPs) UGM, baik itu karena minta tanda tangan, konsultasi, dan lain sebagainya.

Seiring dengan berjalannya waktu dan punya kesempatan untuk lebih dekat dengannya, saya mulai mengenal beliau lebih jauh. Bahkan beberapa kali mengisi akhir pekan di rumahnya (di Godean) dengan berbagai aktivitas yang tidak ada hubungannya dengan akademik, sekadar makan-makan, atau main tenis meja. Prof. Irwan Abdullah rupanya Guru Besar dari Fakultas Ilmu Budaya UGM yang berasal dari Aceh. Dia meraih gelar doktor dari salah satu universitas ternama di Belanda.

Maka dari itu, salah satu ‘oleh-oleh’ yang dibawanya dari Belanda dan diberikan ke SPs UGM, ketika jadi direktur, adalah menerapkan atmosfer akademik yang multidisiplin. Saya sering kali menderngarnya mengatakan bahwa ,”Anda tidak bisa menyelesaikan persoalan dengan satu disiplin keilmuan. Anda harus melihatnya dari berbagai disiplin ilmu.” Olehnya itu, seturutnya, kalau disiplin keilmuan kita adalah ilmu sosial dan politik, maka janganlah kemudian menutup diri untuk belajar sejarah, budaya, filsafat, dan ekonomi. Begitu pun juga dengan sebaliknya, kalau disiplin keilmuan kita adalah ilmu ekonomi, disiplin itu perlu dibekali dengan pemahaman tentang budaya, filsafat, dan lain sebagainya. Itulah multidisiplin dan yang mengambil S2 atau S3 di SPs UGM akan mendapati hal itu. Dengan multidisiplin, kita bisa melihat dan menyelesaikan persoalan secara komprehensif, menyeluruh. Ini juga salah satu kritik (tersirat) Prof. Irwan dari dunia akademik kita hari ini, yang monodisiplin dan sangat terkotak-kotak.

Kuliah di Lapangan Futsal

Prof. Irwan Abdullah memang sebagai direktur Sekolah Pascasarjana (SPs) UGM ketika saya mengambil program magister, tetapi saya tidak pernah diajar langsung olehnya di kelas. Hal itu karena saya mengambil program studi (minat) Kajian Timur Tengah (KTT) yang berada di bawah naungan SPs UGM. Sementara Prof. Irwan sendiri spesifikasi keilmuannya adalah di bidang antroplogi. Selama mengambil kuliah S2 maupun S3 di UGM, saya tidak pernah bertemu Prof. Irwan di kelas. Yang banyak saya temui dan mengajar langsung di kelas adalah nama-nama yang juga cukup populer, seperti Prof. Dr. Heddy Shri-Ahimsa Putra, Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno, Prof. Dr. Syamsul Hadi, Prof. Dr. Sangidu, Prof. Dr. M. Abdul Karim, Prof. Dr. Amin Abdullah (dari UIN), ibu Dr. Siti Mutiah Setiawati, Dr. Fadlil Munawwar Mansur, dan lain-lain. Tentu saja nama-nama ini adalah kolega terdekat Prof. Irwan.

Sekalipun tidak sempat menimba ilmu darinya di ruang kelas, bukan berarti tidak ada ruang untuk mendapatkan ilmu darinya. Salah satu hobi dari Prof. Irwan Abdullah adalah main futsal. Sewaktu masih kuliah SPs UGM, kami hampir setiap minggu ada jadwal main futsal dengannya yang mana kebanyakan anggota timnya adalah mahasiswa S2 dan S3 SPs UGM, dan juga dosen-dosen. Saya termasuk salah satu mahasiswa SPs UGM yang mempunyai hobi main futsal. Oleh karena itu, jika Prof. Irwan ada di Jogja dalam sepekan, kami biasanya punya jadwal untuk bertemu di lapangan hijau yang kecil itu. Bahkan sering kali jadwalnya rutin pada hari tertentu.

Pertemuan yang cukup intens itulah di lapangan futsal yang terkadang menjadi ruang transformasi ilmu, pengalaman, dan pandangan-pandangan dari Prof. Irwan. Biasanya, setelah selesai main futsal, anggota tim tidak langsung pulang. Kadang secara kebetulan (tetapi sering), kami-kami duduk santai dan terkadang juga berdiri dan mulai obrolan-obrolan, temanya bisa bebasa. Di situ ada kesempatan untuk ngobrol santai dengan Prof. Irwan. ‘Kuliah’ bisa dimulai dan berlangsung di sana, kadang juga sejam atau lebih. Bahkan sering kali saya melihat langsung beberapa mahasiswa bimbingannya (khususnya mahasiswa yang mengambil program doktor) konsultasi di pinggir lapangan. Itulah Prof. Irwan di mata saya. Ia bisa ditemui untuk urusan akademik di mana saja. Bahkan ia pernah bercerita bahwa beberapa kali mahasiswanya bimbingan di dalam mobil ketika Prof. Irwan menuju bandara.

“Saya tanya, butuh berapa menit untuk bimbingan? Terus kalau bimbingan di mobil sambil jalan menuju bandara cukup tidak?” katanya suatu waktu seusai main futsal. Itu dilakukan oleh Prof. Irwan Abdullah ketika ada mahasiswa bimbingannya yang butuh waktu untuk konsultasi di tengah kesibukannya dengan berbagai aktivitas dari satu kota ke kota yang lain. Saya sendiri, ketika mau menyelesaikan studi doktoral di Kajian Timur Tengah (KTT) UGM di mana salah satu tim penguji adalah Prof. Dr. Irwan Abdullah. Karena sulit untuk menemui di kampus, maka saya pun mendapatkan tanda tangannya di rumahnya, malam hari. Bahkan kami sempat ngobrol tenTang duniA kepenulisan di rumahnya sampai kurang lebih jam dua belas malam. Kembali kuliah gratis darinya. Hehehehe…..

Inilah seditiki catatan ringan yang rencananya akan dijadikan buku dari kUmpulan tulisan para murid sebagai kado ulang tahun Prof. Dr. Irwan Abdullah. Bukan kue tar, tetapi buku untuk memeringati hari lahirnya yang jatuh pada bulan Agustus ini.

DR. Ahmad Sahide. Dosen Magister Ilmu Hubungan Internasional (MIHI) UMY. Salah satu murid Prof. Irwan Abdullah.

To Top