Ekonomi

IHSG Anjlok Sendirian Saat Bursa Asia Berpesta

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan tren yang berlawanan dengan arus pasar regional pada perdagangan Kamis (21/5/2026). Di saat mayoritas bursa saham Asia-Pasifik menguat tajam, IHSG justru terjun bebas sebesar 1,94% ke level 6.196,80 setelah sempat dibuka di zona hijau pada level 6.378,81.

Fenomena “anjlok sendirian” ini menarik perhatian pelaku pasar. Pasalnya, optimisme global sedang tinggi menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengenai tahap akhir negosiasi perdamaian dengan Iran yang diharapkan dapat menekan harga minyak dunia.

Bursa Asia Bullish, IHSG Bearish

Berbanding terbalik dengan bursa domestik, pasar saham Asia hari ini mencatatkan penguatan yang sangat signifikan. Indeks Nikkei 225 Jepang melesat 3,54%, sementara indeks Kospi Korea Selatan bahkan mencatatkan kenaikan fantastis hingga 7%. Begitu pula dengan indeks ASX 200 Australia yang naik 1,62% dan CSI 300 China sebesar 1,67%.

Mengapa IHSG Terpisah dari Arus Regional?

Analis menilai, ketidakmampuan IHSG untuk ikut menguat di tengah sentimen positif global menunjukkan bahwa ada masalah fundamental domestik yang lebih mendominasi daripada sentimen eksternal. Beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab antara lain Pertama, faktor kepercayaan (Trust Issue). Pasar domestik saat ini tampaknya sedang memberikan “hukuman” tersendiri terhadap kondisi makro ekonomi dalam negeri yang sedang tidak menentu.

Kedua, sentimen fiskal & makro. Ketidakpastian arah kebijakan fiskal dan tekanan Rupiah yang menembus Rp17.700 per Dolar AS menjadi beban yang jauh lebih berat bagi investor dibandingkan sentimen perdamaian AS-Iran.

Selanjutnya, strategi wait and see. Investor asing dan domestik tampaknya masih menahan diri atau melakukan aksi jual (net sell) karena menanti bukti nyata dari pemerintah pasca-pidato Presiden di Rapat Paripurna kemarin.

Alarm bagi Pemerintah

Kondisi di mana IHSG bergerak melawan arus (decoupling) dari bursa regional adalah alarm keras. Ketika pasar Asia merespons positif sentimen global namun IHSG justru memerah, ini menandakan bahwa faktor internal Indonesia saat ini dianggap lebih berisiko oleh investor.

Pasar modal kini menuntut langkah-langkah kebijakan ekonomi yang lebih teknis dan transparan. Narasi optimisme seremonial tidak lagi cukup untuk membendung arus modal keluar (capital outflow) yang terus menggerus IHSG hingga mendekati akumulasi penurunan 10% sepanjang bulan Mei ini. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kerjasama dan Mitra silakan menghubungi 085171117123

Kirim Berita

  • redaksi@edunews.id
  • redaksiedunews@gmail.com

ALAMAT

  • Branch Office : Gedung Graha Pena Lt 5 – Regus – 520 Jl. Urip Sumoharjo No. 20, Pampang, Makassar Sulawesi Selatan 90234
  • Head Office : Plaza Aminta Lt 5 – Blackvox – 504 Jl. TB Simatupang Kav. 10 RT.6/14 Pondok Pinang Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12310. Telepon : 0411 366 2154 – 0851-71117-123

 

To Top
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com